Selasa, 26 Juli 2016

Si Jenius dari Trenggalek Diduga Gabung ISIS

Beritatrenggalek.com - Pemuda jenius asal Dusun Jarakan, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek diduga bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Pemuda bernama Zefrizal Nanda Mardani dicurigai pergi ke Syiria bersama rombongan warga negara Indonesia yang bergabung ISIS pada pertengahan 2015 lalu. 
Zefrizal tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) tahun ajaran 2012/2013. "Statusnya masih mahasiswa Unair, Kendati demikian, kini direktur Akademik Unair men-deadline Zefrizal untuk mendaftar ulang pada 28-29 Juli mendatang," ujar Direktur Akademik Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih, dikutip dari jpnn.com, Selasa (26/7).

Jika tidak, mahasiswa asal Trenggalek yang pernah menjuarai Olimpiade Astronomi di Ukraina pada tahun 2007 saat duduk di bangku SMPN 1 Trenggalek ini dianggap mengundurkan diri. "Kalau statusnya belum bayar begini. Kami anggap dia mengundurkan diri," tegas Nyoman.

Ternyata tahun lalu pria kelahiran Trenggalek, 30 Desember 1993 pernah dicari oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. "Tahun lalu, Densus sudah datangi FK tanya keberadaan Zefrizal. Kami sudah berupaya menghubunginya,” tandas Nyoman.

Nyoman menjelaskan, Zefrizal ini masuk ke fakultas prestise itu lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur prestasi. Namun, selama dua semester terakhir yakni ganjil dan genap  2015/2016 atau setahun ini Zefrizal belum melakukan registrasi ulang.

Akibatnya, pembayaran tunggakan mundur dua semester. "Kami dari pihak FK dan akademik Unair sudah menghubungi orang tua dan anaknya, baik lewat telepon maupun SMS. Tapi, tidak ada tanggapan," kata Nyoman. 

Bahkan, pada status keterangan peringatan, pihak akademik dan FK mengingatkan registrasi ulang lewat melalui SMS kepada Zefrizal pada 27 Oktober 2015 lalu.
Menurut Nyoman, dari histori akademik mahasiswa, ia termasuk jenius dan cerdas. Pada awal masuk kuliah, Indeks Prestasi Komulatif (IPK), Zefrizal mencapai 3,58. 

IPK di atas 3.00 itu bertahan hingga dua tahun pertama. Namun, memasuki tahun ketiga pada semester ganjil IPK-nya turun 2.96."Terakhir pada semester genap 2014/2015, IPK-nya 2.2 dan kemudian tidak ada lagi kabar kuliahnya," kata Nyoman.

Sementara itu, Orang tua Zefrizal membantah keras jika anaknya tersebut bergabung dengan organisasi ISIS seperti yang beberapa waktu belakangan ramai di media sosial. Menurut dia, anaknya tersebut berada di Pakistan, asal negara menantunya. Meskipun sebelumnya sempat berdomisili di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. "Isu tersebut sama sekali tidak benar," tegas Radan, ayah Zefrizal.

Menurut dia, anaknya tersebut terakhir kali pulang ke Trenggalek saat hendak melaksanakan pernikahan setahun lalu. Selang beberapa bulan kemudian, buah hatinya tersebut berpamitan hendak ke negara keluarga besar sang istri di Pakistan. "Dia hanya bilang mau ke Pakistan dan meneruskan kuliah," tambahnya.

Radan mengaku, keluarga besar menantunya memang berada di negara di Asia Selatan itu bahkan hingga benua Amerika sana. Hal ini pun terlihat saat prosesi ijab kabul setahun lalu yang dihadiri banyak anggota keluarga besar menantunya dari berbagai negara. "Domisili keluarga besar menantu saya memang di Pakistan sana. Meskipun sebelumnya berdomisili di Bangil, tetapi menantu saya itu lahir di sana," ujarnya.

Usai melaksanakan pernikahan, Zefrizal memang berpamitan pergi ke negara yang beribukota di Islamabad itu. Setelah itu Radan dan istrinya kesulitan untuk berkomunikasi. Meskipun begitu, dia tidak percaya jika anaknya terlibat di organisasi ISIS seperti yang santer beredar di media sosial. "Semoga isu itu tidak benar karena kami yakin, dia tidak terlibat," ujarnya.

Pria paro baya ini pun hanya bisa berharap, anaknya yang mengaku kuliah ini bisa segera selesai dan bisa kembali berkomunikasi dengan keluarganya di Trenggalek. Apalagi selama itu tidak ada kabar dari putranya. "Kami sekeluarga tetap berdoa agar dia bisa pulang begitu selesai kuliah," tandasnya.

Sementara itu Kapolres Trenggalek AKBP I Made Agus Prasatya enggan menanggapi hal ini. Menurut dia, ini masuk dalam ranah Polda Jawa Timur dan Mabes Polri

Advertiser