Selasa, 20 Oktober 2015

Survei SCG, Elektabilitas Emil-Arifin Kalahkan Kholiq-Handoko

Beritatrenggalek.com - Hasil survei yang dilakukan Surabaya Consulting Group (SCG) pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak-Mohammad Nur Arifin unggul dengan elektabilitas 77 persen.

Sedangkan pasangan Kholiq-Priyo Handoko dipilih hanya 23 persen dari 400 responden yang diambil secara acak di seluruh wilayah Trenggalek.

"Pengambilan data survei berlangsung mulai tanggal 20 hingga 30 September 2015 dengan metodologi stratified random sampling terhadap WNI berusia 17 tahun ke atas ," papar Direktur Eksekutif SCG, Didik Prasetiyono seperti dikutip dari antarajatim.com.

Metodologi survei yang dilakukan SCG memiliki rasio kesalahan (margin of error) sebesar 2,1 persen sementara tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Menurut Didik, variabel penting tingginya keterpilihan Emil-Arifin akibat dipersepsikan oleh masyarakat sebagai pasangan calon yang dekat (81 persen), dan disukai rakyat (84 persen).

Responden menganggap pasangan muda yang beristrikan artis serta fotomodel ini dianggap lebih mampu serta pandai dalam membawa perubahan bagi Trenggalek.

Didik menjelaskan, hampir seluruh kecamatan di Trenggalek berhasil "dikuasai" pasangan Emil-Arifin.

Beberapa dari total 14 kecamatan bahkan diidentifikasi SCG sebagai basis dukungan bagi suami artis Arumi Bachsin tersebut, seperti Kecamatan Durenan, Bendungan, Panggul, Trenggalek, Tugu dan Pule. Sementara Kholiq-Handoko relatif kompetitif membuntuti elektabilitas Emil-Arifin di Kecamatan Kampak dan Munjungan.

"Yang menarik dari paparan 100 lembar lebih survei ini adalah kami juga menguji Arumi Bachin, di dalam hasil survei ditemukan popularitas Arumi sebesar 92 persen dan interaksi dengan pemilih mampu mendorong elektabilitas Emil-Arifin hingga 24 persen," ungkapnya.

Didik menengarai, masyarakat Trenggalek menginginkan perubahan "wajah" dalam kekuasaan pemerintahan daerah setempat. "Hal itu nampak dari tingginya harapan untuk memiliki ibu bupati yang bisa dibanggakan popularitasnya di tingkat nasional" ujar Didik yang juga mantan Komisioner KPU Jatim tersebut.

Keseluruhan hasil survei telah dipaparkan didik di Trenggalek, Jumat (16/10) bersama jajaran fungsionaris dan pengurus DPC PDIP, DPW PDIP serta beberapa pengurus DPP PDIP.

Hadir dalam rakor penyampaian hasil riset Kanang Budi Sulityo, Bupati Ngawi yang juga Wakil Ketua DPD PDIP Jatim, Sri Untari Sekretaris PDIP Jatim, Reni Bendahara PDIP Jatim serta pasangan Emil Elestianto Dardak dan Mohammad Nur Arifin. "PDI Perjuangan harus menjaga kemenangan di Trenggalek, momentumnya saat ini" tegas Kanang Budi.

Sementara itu, pasangan Kholiq-Priyo Handoko mengabaikan hasil survei SGC yang mengunggulkan pasangan Emil-Arifin dan survei tersebut yang dinilai hanya sebuah "settingan" (rekayasa) dan hanya bertendensi mendongkrak popularitas kubu lawan. "Survei yang diumumkan di tengah proses pilkada biasa dilakukan untuk mendongkrak popularitas. Kalau tidak percaya, coba saja ditelusuri siapa yang membiayai," kata juru bicara tim sukses Kholiq-Priyo Handoko, Puji Handi, Senin (19/10).

Puji Handi mengakui, pihaknya telah mengetahui seluruh hasil survei yang dilakukan SGC. Namun, ia beranggapan jika survei itu sama sekali tidak independen. Indikasi yang mencolok terlihat dari penyelenggaraan survei yang diduga dibiayai oleh PDIP, sebagai salah satu partai pengusung pasangan "pemimpin", Emil Elestianto Dardak-Mohammad Nur Arifin.

"Rilis survei dilakukan di 'kandang banteng' yang merupakan sekretarian DPC PDIP Trenggalek. Itu salah satu bukti tidak independen," ungkapnya.

Sebagai pihak yang tak diunggulkan oleh lembaga survei tersebut, Puji Handi mengaku tak begitu ambil pusing. Setiap pasangan calon pasti melakukan survei untuk mengukur elektablitas mereka dari satu periode waktu tertentu ke satu periode waktu berikutnya. "Biasanya survei yang dilakukan sungguh-sungguh itu hanya untuk konsumsi internal sebagai bahan evaluasi. Jika kemudian ada lembaga yang mengumumkan hasil survei mereka ke publik sebelum pemungutan suara, jelas itu memiliki tendensi untuk mengarahkan pemilih," tudingnya.

Puji Handi juga mempertanyakan metodologi survei yang dilakukan SGC, terutama soal kelayakan responden. Selain tak menggambarkan penyebaran wilayah responden di Trenggalek, penyelenggara survei juga tak menjelaskan alasan responden menolak menyatakan pendapat mereka. "Survei yang sebenarnya ya besok tanggal 9 Desember 2015," sergahnya.

Advertiser