Kamis, 03 September 2015

Nelayan Prigi Gelar Tradisi Larung Sembonyo

Beritatrenggalek.com - Masyarakat nelayan Prigi, Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (3/9/2015) menggelar sedekah laut atau Larung Sembonyo.

Tradisi Larung Sembonyo rutin di gelar setiap tahunnya, dan kali ini ritual labuh laut jauh lebih meriah. Masyarakat nelayan Prigi menggelar aneka hiburan hingga tiga hari tiga malam.

Beberapa pertunjukan seperti atraksi reog, kesenian "tiban" hingga hiburan dangdut ikut memeriahkan pagelaran labuh laut sembonyo. Puncak acaranya, arak-arakan "bucengan" (tumpeng) raksasa yang berisi nasi kuning serta aneka hasil bumi dan makanan dari pusat kota kecamatan hingga akhirnya dilarung ke tengah laut.

"Kegiatan (Sembonyo) tahun ini memang jauh lebih meriah. Jika tahun-tahun lalu nelayan hanya diminta libur sehari selama digelarnya kegiatan sembonyo, kali ini liburnya diperpanjang hingga tiga hari," tutur Darminto, masyarakat nelayan di sekitar Pelabuhan Prigi, seperti dikutip dari antarajatim.com.

Secara keseluruhan, prosesi larung sesaji gunungan tumpeng berikut aneka hasil bumi ke tengah laut Prigi berlangsung meriah.

Acara ini dihadiri oleh seluruh pejabat daerah setempat, pimpinan kantor Pelabuhan Prigi, hingga jajaran perwira dari Pangkalan Angkatan Laut (Lantamal) Malang.

Upacara pelepasan dipimpin oleh Bupati Trenggalek, Mulyadi itu disaksikan oleh ribuan warga dari berbagai penjuru daerah. Tidak hanya dari seputar Trenggalek, banyak wisatawan luar kota yang turut hadir demi menyaksikan prosesi labuh laut yang telah menjadi agenda tahunan tersebut.

Di antara para pengunjung, tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan nonton langsung labuh laut tersebut hingga ke lepas pantai dengan menumpang puluhan kapal nelayan secara gratis. "Labuh laut ini merupakan bentuk syukur nelayan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkahnya diberi wilayah yang bisa menjadi pemukiman sekaligus tempat mencari penghidupan," kata Kabid Promosi Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Suparlan.
    
Tradisi labuh laut itu sendiri menurut Suparlan tidak lepas dari jejak sejarah pembukaan Teluk Prigi menjadi perkampungan nelayan pada masa kerajaan Majapahit. Jasa seorang tokoh Raden Tumenggung Yudonegoro beserta keluarganya yang melakukan babat alas (hutan) Prigi sehingga berkembang menjadi perkampungan nelayan dan kini menjadi pelabuhan tersebut.

Tradisi labuh laut menjadi ritual rutin yang kini menjadi agenda wisata daerah yang banyak menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah.

Advertiser