Jumat, 31 Oktober 2014

Polisi Trenggalek Tangkap Sindikat Pemalsu Data Bank

Beritatrenggalek.com - Dua pelaku pemalsuan data perbankkan yang biasa beroperasi di berbagai provinsi di pulau Jawa berhasil ditangkap polisi Trenggalek, Jawa Timur saat hendak membuka rekening baru dengan data palsu di salah satu bank diwilayah tersebut.

"Dari tangan pelaku, kami mengamankan barang bukti 19 buku rekening berbagai bank nasional, mulai dari BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Syariah dan Bank BCA, seluruh rekening dilengkapi dengan kartu ATM," kata Kasubbag Humas Polres Trenggalek, Jawa Timur, AKP Siti Munawaroh, seperti dikutip dari antaranews.com, Jumat (31/10).

Kedua pelaku masing adalah, Suratman dan Agus Suryanto, warga Desa Rejosari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. 

Dari tangan pelaku golisi juga menyita belasan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) palsu. Data-data inilah yang rencananya akan digunakan untuk membuka rekening di sejumlah bank di Trengalek.

Dijelaskan, penangkapan komplotan pemalsu ini berawal dari informasi salah seorang pegawai bank, yang merasa curiga dengan data-data milik pelaku, karena alamat yang tertera dalam KTP maupun tidak ada di wilayah Trenggalek. "Di KTP itu alamatnya Jalan Sukonandi, Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek, padahal jalan tersebut tidak ada di sini. Akhirnya pihak bank menelepon polres dan pelaku langsung kami lakukan penangkapan," ujarnya.

Siti menambahkan, pembukaan rekening dengan data palsu tersebut diduga kuat akan digunakan pelaku untuk melakukan aksi kejahatan, dengan modus undian berhadian mapun transfer melalui ATM. "Bisa jadi modusnya dapat undian berhadian kemudian diminta transfer ke rekening tertentu, atau modus lain, misalkan pura-pura kirim SMS yang isinya minya pengalihan transfer," imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang pelaku, Agus Suryanto mengaku telah membuka rekening mulai dari wilayah Jawa Barat hingga berbaga kota di JAwa Timur. Pembukan seluruh rekening itu menggunakan KTP dan KK palsu. 

Dalam KTP palsu yang disodorkan ke pihak bank, hampir seluruh data yang dicantumkan adalah palsu, kecuali pas fotonya. Meski demikian para pelaku mengaku bukan pelaku pemalsuan data-data itu, karena dokumen itu telah disiapkan oleh seseorang.

"Kami ada yang menyuruh, KTP dan KK ini yang memberi ya orang itu. Jadi kami tinggal berangkat ke kabupaten maupun kota sesuai dengan yang ada di alamat dan membuka rekening," kata Agus.

Untuk melancarkan aksi itu, pelaku mengaku mendapatkan modal sebesar Rp1,6 juta, uang tersebut kemudian digunakan untuk membuka rekening bank. Apa bila telah berhasil membuat rekening, uang yang ada di tabungan kemudian diambil kembali dan digunakan untuk membuk rekening lagi ke bank lain.

"Rencananya awal, seluruh ATM dan buku tabungan ini akan kami setorkan ke orang yang menyuruh tadi, kemudian mendapat upah, itu saja tugas kami, setelah itu tidak tahu akan digunakan apa," ujarnya.

Tersangka Agus menambahkan, sebelum menjalankan aksi nekatnya, ia sempat menanyakan tujuan pembuakaan rekening tersebut kepada orang yang telah menyuruh, namun pria yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan ini justru dimarahi. "Dia langsung bilang, kamu tidak perlu tahu, kalau butuh uang untuk membayar hutang silakan saja kerjakan tugasmu dan jangan banyak tanya, " kilahnya.

Akibat perbuatannya tersebut, kedua pelaku kini harus mendekam di tahanan Polres Trenggalek dan dijerat Pasal 263 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) karena menggunakan data palsu sebagai pengganti data otentik. "Ancaman hukumannya enam tahun penjara," tegas Siti.

Advertiser