Jumat, 12 September 2014

Diagung-agungkan Pemkab, Ternyata Proyek Bendungan Nglinggis Terbengkalai

Beritatrenggalek.com - Proyek Bendungan Nglinggis di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terbengkalai. Diduga, terbengkalainya proyek tersebut dipicu proses ganti rugi kepada pemilik lahan yang tidak kunjung tuntas.

Seluruh karyawan PT Wijaya Karya, perusahaan BUMN yang menggarap, berhenti bekerja dan semua alat berat pun ditarik. BUMN tersebut tidak berani bekerja sebelum seluruh ganti rugi diserahterimakan kepada pemilik lahan.

Hal itu sesuai dengan kesepakatan antara pemkab, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Trenggalek, dan warga. Dalam kesepakatan tersebut, proyek dapat dimulai jika pembelian tanah rampung.

’’Proses pembelian tanah oleh pemkab berbelit-belit,’’ keluh Samud, warga setempat, Kamis (11/9), seperti dikutip dari jawapos.com.

Dia menjelaskan, Walau Negosiasi sudah berlangsung sembilan kali, tapi negosiasi pembelian 14 bidang tanah di selatan Sungai Keser hingga kini belum mencapai titik terang.

Padahal, warga pemilik lahan sudah menyetujui harga Rp 150 ribu per meter persegi. Itu pun jika diakumulasi, luas lahan tidak sampai 1 hektare. ’’Kami semua sudah menerima harga yang diajukan,’’ tuturnya.

Dia menuding Pemkab Trenggalek dan BPN tidak serius dalam menyelesaikan ganti rugi lahan. Panitia pembelian lahan terbentuk sejak awal tahun ini, namun belum ada tindakan. Sejauh ini, warga yang terdampak proyek merasa berada dalam ketidakpastian.

Menurut Samud, saat ini semua warga bingung untuk bekerja. Mereka takut berspekulasi dengan menanami lahan yang akan terkena proyek.

’’Jika telanjur ditanami dan proyeknya berjalan, kami jelas rugi,’’ ujarnya.

Samsudin, warga lainnya, menyatakan, keinginan warga tidak muluk-muluk. Jika tidak diberi ganti rugi uang, mereka mau menerima tanah pengganti dan dibangunkan rumah. Syaratnya, tetap di wilayah Tugu. ’’Keinginan kami hanya itu,’’ katanya.

Karena pembelian lahan tidak segera tuntas, warga mengadu kepada PT Wijaya Karya selaku pelaksana proyek. Namun, perusahaan tidak bisa berbuat banyak karena mereka hanya berfokus pada pembangunan bendungan di perbatasan Trenggalek-Ponorogo yang menelan dana 500M tersebut. ’’Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa. Kesabaran kami juga ada batasnya,’’ ucap Samsudin.

Dia lantas mengkritik Pemkab Trenggalek yang selalu mengagung-agungkan proyek tersebut dalam setiap agenda kegiatan. Padahal, kondisi di lapangan berbeda. Warga pun menduga negosiasi ganti rugi sengaja diulur-ulur tanpa alasan yang jelas.

Berdasar pantauan di lapangan, alat berat di area proyek tinggal sedikit karena sebagian besar ditarik dan disebar ke berbagai proyek. Terhentinya aktivitas dimulai sejak ada unjuk rasa warga.

Sementara itu, Kepala BPN Trenggalek Setya Adi tidak berada di kantornya di Jalan Brigjend Soetran saat hendak ditemui kemarin. Menurut seorang stafnya, Setya Adi berada di Dusun Pringombo, Desa Nglinggis.

Saat dihubungi, Setya membenarkan bahwa pembelian lahan belum selesai dan masih dilakukan negosiasi. Hari ini pihaknya mengagendakan negosiasi dengan warga.

’’Besok (hari ini) ada negosiasi lanjutan,’’ ujarnya.

Advertiser