Jumat, 20 Juni 2014

10 Pelajar Pecuri Kabel Terancam Dikeluarkan Sekolah

Beritatrenggalek.com - Sepuluh pelajar di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terancam dikeluarkan dari sekolah karena terlibat dalam komplotan maling kabel telepon milik PT Telkom. [Baca: Curi Kabel Telkom, 10 Pelajar di Trenggalek Diringkus]

"Sanksi itu akan dijatuhkan jika kasusnya terbukti di pengadilan. Karena hal ini termasuk kategori pelanggaran berat," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, Kusprigianto menanggapi penangkapan sepuluh pelajar tingkat SMP dan SMA/SMK yang rata-rata masih di bawah 17 tahun itu oleh kepolisian.

Namun, katanya, selama proses pemeriksaan masih berjalan dan belum proses persidangan, maka hak dan kewajiban kesepuluh pelajar itu tetap akan dipenuhi. Artinya, lanjut Kusprigianto, selama para siswa yang sedang terjerat masalah hukum itu aktif masuk sekolah seperti biasanya, hak dan kewajibannya sebagai pelajar akan tetap dipenuhi oleh pihak lembaga penyelenggara pendidikan tempatnya menimba ilmu.

"Sore ini juga kami telah memanggil kepala sekolah, wakasek kesiswaan, wakasek kurikulum, serta guru BP masing-masing. Dinas perlu tahu langkah-langkah yang akan mereka lakukan terhadap siswanya yang sedang terjerat hukum ini," lanjutnya, seperti dikutip dari antarajatim.com

Namun, perlakuan serupa tidak akan diberikan apabila para pelajar "nakal" tersebut mangkir sekolah tanpa memberi alasan jelas. "Setiap sekolah ada tata-tertib yang telah disepakati oleh murid dan diketahui orang tua/wali siswa. Di situ tercantum jelas, pelajar yang tidak masuk sekolah dalam jangka waktu tertentu dan berturut, sanksinya terberat dikeluarkan dari sekolah," tegas Kusprigianto.

Sebelumnya (18/6), ke-10 dari 12 siswa yang diidentifikasi sebagai anggota komplotan pencuri kabel telepon milik PT Telkom itu ditangkap polisi.

Dari 12 pelaku yang terlibat pencurian itu, enam pelaku tercatat sebagai siswa MTs GUPPI Bendungan, empat siswa SMAN 1 Bendungan, satu siswa Nurul Hikmah Bendungan, serta satu siswa SMK Karya Darma Bendungan.

Mereka diduga mencuri kabel telepon yang membentang di sepanjang tepi jalan dari Kota Trenggalek menuju kawasan Kecamata Bendungan yang berjarak sekitar 10 kilometer.

Kabel hasil curian kemudian dibakar untuk diambil kawat tembaga yang ada dalam bungkus kabel, lalu dijual ke seorang pengusaha barang rongsok (loak) di wilayah Kecamatan Bendungan dengan harga berkisar Rp4.700 per kilogram hingga Rp5.500 per kilogram.

Hasil dari setiap aksi pencurian tersebut, menurut pengakuan salah satu tersangka Iks (15), dibagi ke anggota dengan bagian antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta, disesuaikan dengan beban kerja dan tanggung jawab dalam kelompok tersebut.

Advertiser