Sabtu, 29 Maret 2014

Orang Tua Terduga Teroris Trenggalek "Angkat Tangan"

Beritatrenggalek.com - Orang tua Galih Aji Satria terduga teroris asal Trenggalek, Jawa Timur mengaku "angkat tangan" atas kasus pidana yang menjerat anaknya. Bahkan berharap Galih ditahan agar tidak semakin terjerumus ajaran Islam garis keras dan terorisme.

Kedua orang tua Galih, Sunardi (46) dan Lilik Supiyati (46), juga tak memiliki rencana membesuk putra sulung mereka yang kini mendekam di tahanan Mabes Polri, karena diduga terlibat dalam jaringan terorisme kelompok Santoso tersebut.

"Ibunya menyampaikan kepada kami sudah pasrah dan menyerahkan penanganannya kepada polisi," kata Kapolres Trenggalek AKBP Denny Setya Nugraha Nasution, Sabtu (29/3) seperti dikutip dari antarajatim.com.

Lilik yang sejak lama aktif memberi informasi polisi melalui Polsek Panggul perihal perkembangan dan aktivitas anaknya pascabebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Magetan karena masalah serupa itu, justru berharap Galih ditahan agar tidak semakin terjerumus ajaran Islam garis keras dan terorisme.

"Mereka (orang tua Galih) lebih memikirkan keadaan menantu dan kedua cucunya. Ibu Galih berpesan agar kami (polisi) segera memberi tahu jika sudah mendapat kabar keberadaan mereka," lanjut Denny.

Pernyataan Denny senada dengan jawaban Sunardi, ayah Galih saat wartawan mencoba mengkonfirmasi kabar penangkapan terduga teroris yang diidentifikasi sebagai pengirim paket berisi bom pipa dan "bom tupperware" pada 18 Februari 2014.

Sunardi menyatakan seluruh keterangan dan informasi telah mereka sampaikan ke polisi untuk ditindaklanjuti pihak berwajib dalam membina Galih yang telah ditangkap tim Densus 88/Antiteror pada 13 Maret 2013 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta atas keterlibatan tindak pidana terorisme.

Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya, Galih Aji Satria yang berstatus dalam pengawasan sempat mencoba kabur dari rumahnya di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek pada 18 Februari, atau setelah mengirim paket berisi bom pipa dan bom tupperware.

Saat itu, Galih berniat pergi ke Singkang Wajo, Sulawesi Selatan melalui Bandara Juanda Surabaya. Tidak sendiri, Galih yang berangkat tanpa izin orang tua ke Surabaya menumpang mobil travel membawa serta istri dan kedua anaknya yang masih balita. Namun, upaya kepergian (kabur) Galih diketahui ibunya yang segera menyusul ke Surabaya menggunakan travel.

Saat bertemu di kantor perwakilan travel di Surabaya, Galih bersikeras untuk pergi dan sempat memukuli ibunya yang mencoba menahan dengan memeluk tubuh pemuda berusia 29 tahun tersebut. Galih akhirnya luluh dan bersedia kembali ke Trenggalek. Namun selang tiga hari kemudian (21/2), ia kembali kabur dengan membawa serta istri dan dua anaknya yang masih kecil menggunkan sepeda motor merek Tossa, dengan jalan memutar melewati Kabupaten Pacitan, Ponorogo, hingga sampai Kota Trenggalek.

Dijelaskan, detil rute kabur Galih diketahui keluarganya di Panggul, setelah istri Galih menelepon Lilik Supiyati saat sudah sampai di Kabupaten Singkang Wajo, Sulawesi Selatan. "Dari (Kota) Trenggalek ini Galih menitipkan motor Tossa miliknya kepada seorang rekannya lalu ke Surabaya menggunakan angkutan umum," tutur sumber yang tidak mau disebutkan namanya.(ant)

Advertiser