Senin, 03 Februari 2014

Awas! Gunung Kelud Siap Meletus

Kediri - Gunung Kelud siap meletus. Untuk itu, Wakil Bupati Kediri Masykuri Ihsan mengumpulkan jajaran musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Ngancar dan 10 orang Kades yang berada di sekitar kawasan Gunung Kelud pada Minggu (02/2) malam.

Wabub Masykuri dalam sambutannya mengatakan, rapat tersebut digelar untuk membahas persiapan dan kesiapan menghadapi peningkatan status Gunung Kelud dari aktif normal menjadi waspada, dan kemungkinan peningkatan status lagi, hingga Gunung Kelud Meletus.

Sepuluh kades yang datang antara lain dari Desa Manggis, Jagul, Kunjang, Margourip, Bedali, Pandantoyo, Ngancar, Babadan, Sempu dan Sugihwaras. Selain mereka, juga tampak Kapolsek Ngancar, Komandan Koramil Ngancar dan petugas dari Satlak Bencana Kabupaten Kediri.

Sementara itu, Bupati Kediri Haryanti Sutrisno sesuai melihat aktifitas Gunung Kelud dari Pos Pengamatan di Desa Sugihwaras meminta seluruh jajarannya siaga.

Bupati meminta semua pihak siap menghadapi segala kemungkinan buruk yang terjadi. "Saya hanya melihat dan berpesan agar seluruh jajaran bersiap apabila terjadi status lanjutan dari Gunung Kelud. Masyarakat kami himbau agar tidak panik, dan tetap tenang. Petugas akan memantau terus segala aktifitas di Gunung Kelud dan memberikan peringatan sedini mungkin," pesan Haryanti.

Mulai Minggu (02/02) pukul 09.45 WIB, status Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar dinaikkan menjadi waspada. Pos Pantau Gunung Kelud merekomendasi kawasan steril dalam radius 2 kilometer (km), sehingga sejak itu objek wisata Gunung Kelud ditutup untuk umum.

Peningkatan aktivitas Gunung Kelud tercatat sejak pertengahan Desember 2013 lalu dari 10 hingga 20 kali sebulan terjadi gempa vulkanik dalam. Hal itu terus meningkat rata-rata 25 kali terjadi gempa.

Menurut Khoirul Huda, Kepala Pos Pantau Gunung Kelud, selama bulan Januari telah terjadi 315 kali gempa. Peningkatan terus terjadi. Pada pukul 24.00 WIB hingga 06.00 WIB pagi tadi terjadi 63 gempa vulkanik dangkal dan 13 gempa vulkanik dalam, serta satu kali gempa teknonik jauh. Sedangkan suhu sekitar 55 derajat celcius.

"Sesuai ketentuan bahwa dalam status waspada ini, maka radius 2 kilometer (km) ditutup. Selanjutnya, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan terhadap para pengunjung, maka Pemkab menutup kawasan wisata Gunung Kelud ini sejak dari loket masuk awal," jelas Edhi Purwanto, Pelaksana Tugas (plt) Kabag Humas Pemkab Kediri.

Edi menambahkan, atas nama Pemkab Kediri menghimbau agar masyarakat juga para jurnalis agar mematuhi himbauan-himbauan, khususnya larangan dari petugas di lapangan.

Pemkab Kediri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah menerjunkan petugas ke sekitar Gunung Kelud. Petugas akan melakukan pengamanan di sana.

Catatan Letusan Gunung Kelud
Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.

Setelah letusan pada tahun 1919 yang memakan korban ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin, Pemerintah penjajahan Belanda membuat sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Pada tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya, tetapi tidak jadi meletus.

Letusan 1919
Letusan ini termasuk yang paling mematikan, karena menelan korban 5.160 jiwa dan merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km.

Meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905, kenyataannya lahar dingin muntah kemana-mana. Untuk itu, Hugo Cool pada tahun 1907 ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan di sana dibangun tujuh terowongan.

Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966 sepanjang, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.

Letusan 1990

Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik.

Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu.

Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai 1994.

Letusan 2007

Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh.

Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.

Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal.

Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak.

Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kibah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m.

Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi siaga. Danau kawah Gunung Kelud praktis hilang karena kemunculan kubah lava yang besar yang nampak sebagai anak gunung. (pjh)

Penulis: Puji Handi

Advertiser