Minggu, 19 Januari 2014

Dikucilkan Karena Kusta, Sarep Makan Tikus dan Ular

Meski hanya memiliki 3 baju dan 4 sarung untuk membungkus tubuhnya bila tubuhnya kedinginan. Seorang penderita kusta bernama Sarep (40) yang hidup dikucilkan di dasar jurang pegunungan tengger Dusun Kalibendo Desa Menyono Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo selama 5 tahun, mengaku masih bisa bertahan.

Sedangkan untuk mencari makan, Sarep hanya mencari makan dari hewan yang hidup di sekitar tempat tinggalnya.

Dengan memakai baju yang kotor dan bau, Sarep mengaku setiap hari membuat jebakan tikus. Dari 2 jebakan yang ada, pria yang telah memiliki 3 anak dari 3 istri yang diceraikan beberapa tahun silam, tidak melulu selalu mendapat tikus.

"Ya kadang dapat tikus, kucing atau ular. Tapi kalau saya tidak dapat hasil jebakan, cacing pun bisa untuk dimakan. Masaknya ya pakai air hujan yang saya simpan. Kalau tidak ada air ya saya bakar dengan pakai kayu," kata, Jumat (17/1/2014), seperti dikutip dari detik.com.

Sarep mengaku, jika dapat 1 tikus akan dimakan pagi dan sore hari. Namun bila mendapat kucing, dagingnya akan disimpan beberapa hari untuk dimakan lagi. Sebab daging kucing ukurannya lebih besar.

"Saya hanya menunggu ajal saja. Karena penyakit saya sudah parah dan luka di sekujur tubuh ini sudah berair, mau diapakan lagi," jelas Sarep yang pernah menjadi kuli bangunan saat tubuhnya masih sehat.

Saat ditanya tentang makanan yang dikonsumsi membuat efek perut sakit atau memperparah luka di tubuhnya, Sarep mengaku tidak memikirkannya lagi.

"Saya yang penting perut lapar makan saja. Selagi saya kuat dan mampu jalan untuk memasak, ya saya jalan. Kalau ga kuat jalan ya makannya ditunda," tambahnya.

Sarep mengaku ikhlas dikucilkan keluarganya karena kusta yang diderita. Apalagi kusta di daerahnya masih dianggap sebagai penyakit kutukan. Sedangkan keluarganya sendiri tidak pernah berkunjung ke tempatnya hingga saat ini.

Sementara Kepala Desa Menyono, Misdor, mengaku sudah mengupayakan menghubungi pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Probolinggo. Namun upaya evakuasi yang sedianya dilakukan hari ini untuk mendapat perawatan, ditunda.

Sementara itu, Arif Witanto Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur Menyesalkan kejadian ini, ia berharap agar rumah sakit kusta di Jawa Timur bisa pro aktif dan menjemput bola ketika ada warganya yang menderita kusta.

"Katanya ada safari kusta yang melakukan sosialisasi dan mendatangi warga yang menderita kusta. Tapi kejadian ini membuktikan bahwa safari kusta itu masih isapan jempol belaka," kata Arif Witanto nada tinggi.(dtk)

Advertiser