Minggu, 08 Desember 2013

Tidak Punya Biaya, Warga Trenggalek Nekat Amputasi Sendiri Kakinya Dengan Silet

Beritatrenggalek.com - Sungguh malang nasib Parni (52) Warga Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Ia harus mengamputasi sendiri kakinya dengan silet/pisau cukur karena tidak ada biaya.

Dari jarak 4 meter aroma busuk dan bau anyir dari darah yang menetes dikakinya sudah terasa sangat menyengat sekali, karena sudah selama 1 tahun ini ia tidak mendapatkan obat atau perawatan sama-sekali terhadap lukanya.

Peristiwa terpotongnya kaki Parni berawal dari peristiwa di tahun 2007 ketika ia bekerja di sebuah wilayah di Kalimantan Timur sebagai penebang kayu. Pada saat menebang itu kakinya tertimpa rubuhan kayu yang pada akhirnya membengkak yang lama-kelamaan membusuk.

Malang benar nasibya karena ia tidak dibayari majikannya yang pada akhirnya membuatnya frustasi karena ia tidak mempunyai biaya untuk berobat. Yang pada akhirnya berujung membuatnya mengambil keputusan yang sangat memiriskan hati, yakni memotong sendiri kaki-kirinya dengan silet/pisau cukur karena bengkak akibat infeksi itu semakin parah dan ia memutuskan pulang ke Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek.

Sudah 5 tahun yang lalu sejak kepulangannya dari Kalimantan Timur ia tinggal di sebuah gubuk didalam hutan diatas bukit yang berjarak sekitar 2km dari desa setempat. Namun ia masih sering turun kebawah dan tinggal di salah-satu rumah saudaranya bernama Parno yang juga tidak jauh dari kemiskinan.

Pada awalnya ia tidak mendapatkan Jamkesda, Kepala-desanya saat itu beralasan karena ia tidak mempunyai surat pindah atau tidak mempunyai KTP yang tercatat sebagai warga setempat.

Namun setelah dibantu Pemkab Trenggalek melalui Dinkes Trenggalek 2tahun yang lalu ia dibuatkan KTP sementara dan diberi fasilitas Jamkesda serta dirujuk ke RSUD Dr.Soedomo Trenggalek.

Namun malang nasib Parni, ternyata ia hanya mendapatkan Jamkesda saja dan hanya rawat-inap serta diinfus serta diobati saja selama beberapa hari dirumah-sakit RSUD Dr.Soedomo Trenggalek tanpa dilakukan tindakan medis lanjutan atau dilakukan amputasi pada kakinya yang membusuk. Sebab saat hendak dirujuk ke RSUD Dr.Iskak Tulungagung untuk mendapatkan tindakan layanan medis lanjutan atau diamputasi ia tidak bisa berangkat karena ketiadaan biaya. Akhirnya ia kembali pulang lagi kerumahnya tanpa tindakan medis yang berarti di RSUD Dr.Soedomo Trnggalek.

Semenjak saat itu ia tidak pulang lagi kerumah Parno saudaranya tersebut dan tinggal di sebuah gubuk di hutan diatas bukit sejauh 2km dari Desa Mlinjon Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek selama 1 tahun terakhir ini.

Sementara itu, Koordinator DKR (Dewan Kesehatan Rakyat) Jawa-Timur Arif Witanto menyanyangkan kejadian ini dan berharap penyelesaian dari pihak Pemerintah Kabupaten Trenggalek agar persoalan yang menimpa Parni ini bisa segera dilakukan tindakan medis lanjutan berupa operasi amputasi pada kakinya. Pada kasus yang menimpa Parni ini tidak hanya cukup menyelesaikan dengan memberi Jamkesda lalu bisa berpangku-tangan saja. (dikutip dari fb Arif Witanto DKR)

Advertiser