Kamis, 19 Desember 2013

SMP dan Empat Rumah di Trenggalek Terancam Longsor

Beritatrenggalek.com - Sebuah bangunan SMP dan empat permukiman penduduk di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa Timur, saat ini diambang longsor, menyusul terjadinya rekahan tanah sepanjang 35 meter di daerah tersebut.

Sebagian halaman sekolah milik SMP Negeri 2 Bendungan yang berada di atas tebing berketinggian 50-an meter tersebut kini ambles hingga kedalaman sekitar 20 centimeter. Rekahan tanah yang memanjang hingga membelah sebagian permukiman penduduk itu terus-menerus terisi air setiap kali hujan turun.

Situasi yang kian mengkhawatirkan itu memaksa 18 warga yang tinggal di empat rumah tersebut mengungsi ke mushala desa yang dianggap aman.

"Kemarin pagi itu retaknya masih kecil-kecil, kemudian sore harinya mulau melebar dan semakin membahayakan, bahkan semalam itu muncul suara 'gemletak' di dalam rumah, karena tanahnya bergerak," tutur salah seorang pengungsi, Supriyanto, seperti dikutip dari antarajatim.com.

Ia memperkirakan tanah tebing yang retak itu akan melorot longsor. Warga juga sudah mengevakuasikan seluruh harta bendanya ke daerah aman untuk menghindari kerugian lebih besar jika sewaktu-waktu bencana benar-benar terjadi. "Kami tidak berani lagi tinggal di rumah, karena tanahnya terus bergerak. Lihat saja tanah di dalam rumah ini ada yang terangkat karena desakan dari tebing," ujarnya.

Dijelaskannya, munculnya retakan pada tebing tersebut terjadi setelah wilayah Desa Dompyong diguyur hujan lebat selama dua hari berturut-turut.

Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Bendungan, Sumarwoto, mengatakan beberapa ruang di kantor sekolahnya juga ikut terancam ambles. Bahkan, saat ini sejumlah temboknya mulai retak-retak. "Ini adalah dampak dari retakan besar yang ada di halaman sekolah. Kami juga kaget karena kemarin pagi retakan itu masih kecil, tapi hari ini panjang tanah yang retak dan mulai ambles itu sudah mencapai 35 meter lebih," katanya.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya terpaksa mengosongkan ruang tata usaha (TU) serta ruang kepala sekolah, karena kondisinya cukup mengkhawatirkan.

Sumarwoto mengaku telah melaporkan kondisi tersebut ke dinas pendidikan dan pemerintah daerah setempat dengan harapan segera diambil langkah darurat. "Kami masih menunggu instruksi dari dinas pendidikan nanti seperti apa. Semoga saja bencana ini tidak berlanjut, kasihan warga yang ada di bawah sekolah," ujarnya.

Sementara, perwakilan Dinas Pendidikan Trenggalek yang meninjau langsung lokasi kejadian, Sunaryo, mengaku belum bisa memutuskan langkah yang akan diambil. Ia mengaku masih akan berkonsultasi dengan kepala daerah. "Kami harus berhati-hati mengambil langkah, apalagi ancaman tanah longsor ini belum terhenti, artinya bisa saja sewaktu-waktu tanahnya ambrol," katanya.

Sumber:antarajatim.com

Advertiser