Selasa, 10 Desember 2013

Siswi SD Tulungagung Dicabuli 7 Teman Kelasnya

Berita Tulungagung - Seorang siswi kelas VI salah satu SD negeri di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengaku telah dicabuli tujuh teman kelasnya di dalam ruang kelas, saat usai jam pelajaran sekolah.

Korban berinisial Rk (12), didampingi kakaknya, melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Tulungagung, Senin (10/12). "Kasus ini sedang kami selidiki. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) sudah mengumpulkan beberapa barang bukti serta hasil visum korban," terang Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Dwi Hartaya, seperti dikutip dari antaranews.com.

Belum ada satupun pelaku pencabulan ditangkap. Polisi melalui unit PPA berencana segera melayangkan surat pemeriksaan kepada orang tua masing-masing siswa pelaku pencabulan serta pihak sekolah. Namun Dwi belum menjelaskan teknis pemeriksaan dimaksud, apakah dilakukan di rumah masing-masing siswa atau di tempat lain non-kantor kepolisian, mengingat para pihak terlapor masih di bawah umur.

"Sementara ini kami telah memeriksa beberapa saksi terkait kasus ini dan secepatnya memeriksa ketujuh terlapor yang umurnya masih anak-anak tersebut. Teknisnya menyesuaikan dengan kebutuhan serta ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Informasi dari sumber kepolisian, korban Rk datang ke Polres Tulungagung didampingi kakak kandungnya.

"Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk menindaklanjuti kasus ini," tandas Dwi Hartaya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Tulungagung bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak akan mendampingi para pelaku maupun korban pencabulan, karena masih di bawah umur.

Sekretaris Dinas Pendidikan Tulungagung, Bambang Triono, Selasa (10/12), mengatakan kasus tersebut telah ditindaklanjuti dengan memanggil kepala sekolah maupun kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngunut untuk mengkoordinasikan langkah-langkah pendampingan.

"Dinas Pendidikan akan bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak untuk mendampingi kasus ini," kata Bambang.

Dijelaskan, bekerja sama dengan LPA, pola pendampingan akan dikonsentrasikan pada proses hukum yang saat ini telah masuk ranah kepolisian, maupun bimbingan mental serta kelangsungan pendidikan para pelaku dan korban.

Pendampingan khusus untuk memenuhi kebutuhan belajar atau pendidikan para siswa yang sedang terjerat masalah hukum tersebut, selanjutnya akan dirumuskan oleh pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan.

"Yang pasti kami akan membimbing para pelajar tersebut, baik dalam hal kesiapan mental maupun kelangsungan hak belajar mereka di sekolah," tegasnya.

"Karena proses hukumnya sedang berjalan, kami menunggu putusan akhirnya nanti sampai dimana dan seperti apa. Jika mereka (ketujuh siswa) dinyatakan bersalah, Dinas Pendidikan akan memberikan sanksi yang mendidik," janji Bambang.

Sementara itu, Pihak sekolah hingga kini belum bisa dikonfirmasi terkait kasus tersebut. Kepala SD maupun sejumlah guru langsung menghindar saat sejumlah wartawan datang ke sekolah mereka.

Peristiwa pencabulan terjadi pada Rabu (20/11) di ruang kelas VI, usai jam pelajaran sekolah.

Saat itu, korban Rk mengaku sempat mendapat perlakuan tidak senonoh dari rekan-rekannya tersebut.

Kasus penistaan itu awalnya tidak diketahui siapapun, termasuk keluarga Rk, hingga akhirnya salah seorang saudaranya menerima pesan singkat (sms) dari seorang rekannya yang menyebut siswi kelas VI SD tersebut mengalami trauma lantaran dicabuli tujuh teman kelasnya secara beramai-ramai di dalam kelas.

Dari informasi pesan singkat itulah, pihak keluarga mengklarifikasi pada Rk mengenai kronologinya. Dengan adanya kejadian tersebut akhirnya kakak korban beserta korban melaporkan kejadian ini ke Polisi.(ant)

*Foto hanya ilustrasi

Advertiser