Selasa, 31 Desember 2013

Berkas Korupsi Pengadaan Obat RSUD Trenggalek Lengkap

Beritatrenggalek.com - Kejaksaan Negeri Trenggalek menyatakan berkas kasus dugaan korupsi belanja obat Rp 6,8 miliar RSUD dr Soedomo, Trenggalek, dengan tersangka mantan direkturnya, Noto Budianto, telah P21 atau lengkap.

"Surat P-21 sudah kami terima. Kejaksaan sudah menyatakan lengkap," kata Kapolres AKBP Denny Setya Nugraha Nasution SIK melalui Kasat Reskrim AKP Suprianto, seperti dikutip dari tribunnews.com.

Menurut dia, sesuai petunjuk dari Kejaksaan, kekurangan kelengkapan berkas sudah terpenuhi sehingga siap untuk dibawa ke proses penuntutan.

Ia menguraikan, semula kekurangan itu meliputi berkas keterangan saksi ahli mengenai gratifikasi di balik pengadaan obat tersebut. "Kami sudah minta keterangan dua saksi ahli yang nanti juga siap memberikan keterangan di persidangan," jelasnya.

Ia menyebutkan, saksi ahli itu seorang akademisi dari Universitas Brawijaya Malang dan saksi ahli dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Kedua saksi ahli itu sama-sama berkeyakinan bahwa terjadi kerugian negara Rp 270 juta dari total nilai proyek Rp 6,8 miliar itu.

Kerugian negara itu timbul akibat, antara lain, adanya aliran dana dari pemenang proyek kepada Noto Budianto saat menjabat Direktur RSUD dr Soedomo.

Proyek tahun anggaran 2011-2012 ini khusus untuk pengadaan obat dan alat kesehatan. Pada pelaksanaannya, pihak kontraktor memberikan komisi kepada pihak rumah sakit sebesar Rp 98 juta.

Namun, uang yang seharusnya masuk rekening Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD dr Soedomo itu ternyata dialihkan ke rekening lain.

Polisi menilai, pengalihan uang komisi tersebut merupakan perintah Noto Budianto. Meski Budianto sudah mengembalikan uang itu saat polisi mulai menyelidiki, tetapi tidak dapat menghapuskan tindak pidananya.

Budianto pun tetap dijerat pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.(trn)

Advertiser