Jumat, 06 Desember 2013

Aksi Tandingan Bagi-bagi Kondom , Santriwati Ponorogo Bagikan Jilbab

Berita Ponorogo - Demo tandingan aksi bagi-bagi kondom dalam Pekan Kondom Nasional (PKN) muncul di Ponorogo, Jawa Timur. Puluhan santriwati dari Pondok Pesantren Modern Arrisalah Program Internasional setempat membagikan ratusan jilbab gratis sebagai wujud penolakan PKN yang diluncurkan pemerintah.

Aksi simpati yang digelar di salah satu ruas jalan protokol Kota Ponorogo, Jumat (6/12), sekitar pukul 10.00 WIB hingga menjelang Shalat Jumat itu sempat membuat sejumlah pengendara kaget, terutama kaum perempuan. Namun, kebanyakan akhirnya menerima dengan sukacita pembagian jilbab gratis dengan corak warna-warni tersebut dan mengenakannya sebagai bentuk dukungan terhadap tema penolakan PKN yang diluncurkan pemerintah.

"Lebih baik membagikan jilbab yang bisa untuk menutup aurat dan menjauhkan dari pergaulan bebas," ujar Sunartip, koordinator aksi sekaligus Pengasuh Pesantren Arrisalah, seperti dikutip dari aktual.

Menurut dia, pembagian jilbab menjadi upaya tepat meningkatkan benteng pertahanan terhadap penularan HIV/AIDS, terutama melalui penguatan pagar keimanan sehingga menekan terjadinya pergaulan bebas. Apalagi pembagian kondom gratis yang dilakukan selama ini tidak tepat sasaran.

"Selama ini bagi-bagi kondom dilakukan di lokasi yang kurang pas. Misalnya di depan gerbang kampus atau jalanan umum," imbuhnya.

Selain membagikan lebih dari 500 helai jilbab, para santriwati ini juga menyebar ribuan selebaran serta stiker berisi imbauan peningkatan iman dan menjauhi pergaulan bebas. Aksi tersebut akan terus mereka lakukan dengan mengerahkan jaringan pesantren yang ada di Kota Reog tersebut.

"Membagikan kondom secara gratis ke tengah masyarakat, apalagi ke kampus-kampus dan fasilitas publik sama halnya menghalalkan seks bebas," kecam Sunartip.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan perwakilan santriwati, peluncuran Pekan Kondom Nasional tidak layak dijalankan oleh pemerintah dengan alasan apapun. Terlebih, beberapa hari lalu pembagian alat kontrasepsi itu dilangsungkan di beberapa kampus wilayah Jakarta.

"Kondom hanya pantas dibagikan di lokalisasi (pelacuran) yang rawan penularan AIDS, bukan di lembaga pendidikan," seru salah satu santriwati.

Nurul Widayati, salah seorang warga Ponorogo mengungkapkan hal senada.

Menurutnya, Pekan Kondom Nasional bukan solusi untuk mengantisipasi penularan dan penyebaran HIV/AIDS.

"Yang lebih utama mendidik mental," ujarnya, usai menerima jilbab yang dibagikan ustadzah Pondok Modern Arrisalah Program Internasional.(akt)

Advertiser