Senin, 11 November 2013

Puluhan Hektare Cabai di Pacitan Diserang Hama

Berita Pacitan - Puluhan hektare tanaman cabai di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diserang hama, hal itu membuat buah cabai jamuran dan rontok sebelum panen dan sebagian tak laku di pasaran. "Kalaupun ada yang bisa diselamatkan, (cabainya) berukuran kecil dan bentuknya tidak sempurna sehingga harganya jatuh," tutur udin, salah seorang petani di Kecamatan Bandar, seperti dikutip dari antara.

Tidak hanya Udin, puluhan petani cabai lain juga mengeluhkan hal yang sama.

Fungisida yang oleh petani disebut sebagai penyakit trip pada tanaman cabai tersebut disebutkan mulai muncul sejak dua pekanan terakhir, terutama sejak turun hujan di wilayah tersebut.

Petani mengatakan hama sejenis kutu serta jamuran yang ada pada buah cabai dipicu oleh suhu udara yang lembab karena hujan.

Para petani bersama dinas tanaman pangan setempat sebenarnya telah melakukan berbagai upaya agar penyakit tersebut tidak semakin meluas.

Usahanya memang cukup berhasil dalam melokalisir persebaran fungisida yang bersifat merusak tersebut, namun hal itu tetap tidak bisa mencegah penurunan produksi cabai di wilayah Kecamatan Bandar.

"Penurunannya bisa mencapai 70 persen. Jika dari 2.000 batang tanaman biasanya mampu menghasilkan satu ton lebih cabai, kini hasilnya hanya sekitar setengah ton saja," timpal Mulyono, petani cabai yang lain.

Beruntung, harga cabai di pasaran masih berada dikisaran Rp25 ribu rupiah per kilogram, sehingga sisa panenan yang dalam kondisi sehat/bagus bisa dijual untuk menekan kerugian atau menutup modal biaya produksi/cocok tanam petani.

"Wilayah Kecamatan Bandar merupakan satu-satunya wilayah di Kabupaten Pacitan yang sebagian besar warganya memilih menanam cabai dibandingkan tanaman lainnya," kata Mul menambahkan.

Kondisi serupa juga dialami sejumlah petani di Kecamatan Punung. Serangan hama bahkan tak sempat dilakukan penanganan/pencegahan sehingga petani terpaksa harus merelakan ribuan batang tanaman cabainya mati.

Tanaman yang terserang sendiri mudah dikenali dari kondisi batang dan daun yang tak segar lagi, setelah itu tanaman lama kelamaan mati.

"Buah akan rontok atau busuk dan tanaman kemudian mati," terang Suparmi.

Udin, Mulyono, Suparmi, maupun para petani cabai lain mengaku merasa kesulitan untuk menangkal serangan hama tersebut secara efektif.

Berbagai usaha mengatasi serangan sudah di lakukan, seperti dengan penyemprotan namun hasilnya tidak maksimal.

"Kalau sekarang masih mendingan. Harganya masih bagus. Kalau saja harga dipasaran anjlok, kerugian kita bisa mencapai jutaan rupiah mas," jelas Suparmi. (ant)

Advertiser