Selasa, 19 November 2013

Polres Trenggalek Naikkan Status Dugaan Pungli Layanan Damkar

Beritatrenggalek.com-Kepolisian Trenggalek, Jawa Timur menyelidiki dugaan gratifikasi dalam proses layanan pemadam kebakaran di Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, menyusul temuan praktek pungutan liar yang dialami korban kebakaran PT Perhutani Anugerah Kimia pada Agustus 2012. "Kemarin kami sudah lakukan gelar perkara. Kesimpulannya, ditemukan adanya unsur-unsur penyalahgunaan wewenang serta gratifikasi sehingga statusnya sudah memenuhi syarat untuk ditingkatkan (dari penyelidikan ke penyidikan)," kata Kapolres Trenggalek AKBP Deny Setya Nugraha Nasution, Selasa (19/11), seperti dikutip dari antara.

Dijelaskan, penerapan pasal gratifikasi dilakukan karena pihak BPBD selaku pengelola pemadam kebakaran diduga telah melakukan pungutan uang terhadap sejumlah korban kebakaran. Tidak hanya PT PAK saat pabrik pengolah getah pinus itu mengalami kebakaran hebat, tetapi juga terhadap beberapa korban kebakaran lainnya dengan nominal pungli bervariasi.

Deny menyebut pihaknya telah mengantongi sedikitnya dua korban pungli layanan pemadam kebakaran BPBD Trenggalek, namun ia enggan membocorkan namanya secara detail dengan alasan masih tahap penyelidikan. "Ada dua korban yang diduga dipungli (pungutan liar), namun kami masih dalami satu dulu, yang satunya menyusul" tukasnya.

Sementara itu, dalam tahap penyelidikan sebelumnya polisi mengaku telah melakukan pemeriksaan sedikitnya enam orang saksi, baik korban maupun pihak BPBD. "Nanti dalam tahap penyidikan, kami akan lakukan pemeriksaan kembali terhadap para saksi," ujarnya.

KBO Reskrim Polres Trenggalek, Iptu Wisnu Prasetyo menambahkan, perkara pemadam kebakaran tersebut dipastikan tidak menimbulkan kerugian negara, karena pasal yang dibidik adalah gratifikasi.

Disinggung mengenai kecilnya jumlah uang yang dipungli, polisi mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena yang menjadi esensi perkara adalah perbuatan pelanggaran hukumnya. "Untuk korban kebakaran pertama itu ditarik sekitar Rp12 juta, sedangkan yang kedua sekitar Rp2,7 juta, meskipun tidak besar tidak masalah," kata Wisnu.

Kasus dugaan korupsi tersebut bermula dari proses pemadaman kebakaran pabrik pengolahan getah pinus PT Anugerah Inti Kimia (PAK), 5 Agustus 2012. Saat itu BPBD diduga menarik pungutan sebesar Rp12 juta. Sedangkan dalam pemadaman rumah milik warung lodho "Pak Yusuf" BPBD diduga menerima uang Rp2,7juta.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Joko Rusianto saat dikonfirmasi mengenai tuduhan pemerasan ataupun pungli layanan pemadam kebakaran tegas membantah. Ia berdalih layanan pemadam kebakaran yang dilakukan jajarannya telah berpedoman pada aturan perundangan yang berlaku.

"Kami boleh menerima uang dari siapapun termasuk dana CSR, karena untuk tugas kemanusiaan, hal itu sudah ada aturannya," jelasnya.

Joko menegaskan seluruh uang dana yang diperoleh dari korban kebakaran digunakan untuk membiayai proses pemadaman api.(ant)

Advertiser