Jumat, 01 November 2013

Pantai di Pacitan Dikuasai Pengusaha Asing

Berita Pacitan - Sejumlah pengusaha asing mulai ‘menguasai’ kawasan Pantai Watukarung di Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Ombak Pantai Watukarung yan besar dan tidak pecah itu yang mendorong wisatawan asing seperti dari Belanda, Jerman dan Swiss, semakin berdatangan untuk berselancar di lokasi wisata tersebut. Karena itulah sejumlah investor dari luar negeri akhirnya menyediakan penginapan bagi turis-turis.

Sudah ada tiga Penginapan yang mereka bangun beberapa tahun lalu dan kini telah dimanfaatkan para wisatawan luar negeri untuk bermalam, tiga penginapan itu adalah Watuhutan, Lestari, dan Istana Ombak.

"Di sana ada tiga homestay,"  kata Kepala Desa Watukarung, Wiwid Pheni Dwiantani, Kamis, 31 Oktober 2013, seperti dikutip dari tempo.

Wiwid menjelaskan, pemilik tempat usaha itu merupakan pengusaha dari luar negeri yang bekerjasama dengan beberapa warga lokal. Selain mendirikan penginapan, sejumlah warga dari luar Pacitan juga telah membeli beberapa bidang tanah di kawasan Pantai Watukarung.

Wiwid menambahkan fenomena itu tak lepas dari daya tarik lokasi wisata di desa setempat.

Hanya saja, pengembangan usaha yang dijalankan tidak sepenuhnya melibatkan pihak pemerintahan desa maupun kecamatan. Camat Pringkuku Joko Suyono, mengatakan jual beli tanah antara pengusaha asing yang menggunakan nama warga lokal langsung melalui notaris.

‘’Tidak lewat camat dan kades,’’ ujarnya.

Sesuai informasi yang ia terima dari warga Desa Watukarung, harga tanah yang dibeli pengusaha asing melebihi nilai jual obyek pajak (NJOP), per hektar tanah bisa menembus ratusan juta rupiah. Padahal umumnya hanya Rp 20 juta dengan patokan NJOP Rp 20 ribu per meter persegi. ‘’Harganya selangit,’’ katanya.

Selain harga tanah yang tinggi, Joko menambahkan, pihak kecamatan dan pemerintah desa kesulitan memantau jumlah wisatawan asing yang keluar masuk di kawasan Pantai Watukarung. Selama ini, menurutnya, pihak pengelola penginapan tidak pernah memberikan laporan pengunjungnya ke perangkat desa. ‘’Tamu-tamunya berapa kami tidak pernah tahu,’’ ujarnya.(tp)

Advertiser