Rabu, 13 November 2013

Duh! Ratusan Siswi di Ponorogo, Hamil dan Nikah Dibawah Umur

Berita Ponorogo - Dalam kurun waktu sepuluh bulan terakhir ini, ratusan siswi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur hamil diluar nikah dan menikah dibawah umur. Hal ini terungkap dari mbudaknya permohonan dispensasi menikah dibawah umur di Pengadilan Agama Ponorogo.

Ketua Pengadilan Agama Ponorogo, Ati Khoriyah, Selasa (12/11) mengatakan, Dispensasi untuk menikah di lakukan  karena di bawah usia 16 tahun untuk perempuan dan laki laki di bawah usia 19 tahun. Untuk dapat menikah secara resmi dan diakui negara, harus mendapat putusan Pengadilan Agama.

”Jika tidak ada putusan pengadilan agama maka tidak bisa menikah,” katanya, seperti dikutip dari deliknew.

Lebih memilukan lagi, ternyata para remaja ini yang mengajukan dispensasi, sudah dalam kondisi berbadan dua. Mereka masih berstatus pelajar SMA dan bahkan SMP di wilayah Ponorogo.

“Mereka ada yang siswi SMP, SMA atau sederajat,” tambahnya.

Data di Pengadilan Agama Ponorogo, selama bulan Oktober 2013 ini saja sudah terdapat sekitar 10 permohonan dispensasi nikah. Sepanjang bulan Januari hingga Oktober 2013 ini tercatat sebanyak 256 pemohon. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 diantaranya sudah hamil, yang  masih berstatus pelajar SMP dan SMA. Permohonan dispensasi tidak hanya diajukan oleh remaja perempuan, remaja laki laki dibawah umur yang menghamili gadis juga banyak.

Lebih lanjut Ati Khoiriyah mengatakan, jumlah pelajar siswa siswi dari tingkatan SMP dan SMA, yang mengajukan dispensasi nikah, dari tahun ketahun mengalami peningkatan cukup tajam.

“Dari data di Pengadilan Agama Ponorogo Tahun 2011, sebanyak 116 permohonan, tahun 2012 sebanyak 113 pelajar atau usia pelajar, yang mengajukan permohonan dispensasi nikah. Tahun 2013 sampai bulan ini, sebanyak 256 permohonan menikah di bawah umur,” katanya.

Data ini menunjukkan, prilaku seks bebas di kalangan pelajar SMP dan SMA, tidak hanya terjadi di kota besar, namun juga merambah ke kota kecil seperti Ponorogo.

Kemajuan teknologi yang merambah ke bebasnya pergaulan menjadi salah satu pemicu. Diperkirakan, jumlah ini terus akan meningkat, sejalan dengan tren di kota besar. Peran orang tua dan masyarakat sangat diperlukan untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan ini.(dn)

Advertiser