Kamis, 31 Oktober 2013

Uniknya Pilkades Kediri, Dapat Makan dan Uang Bensin

Berita Kediri - Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada ini, Rabu (30/10/2013), tengah berlangsung hajatan rakyat berupa Pemilihan Kepala Desa serentak. Tercatat 203 desa yang tersebar di beberapa kecamatan melangsungkan pesta demokrasi itu.

Namun, Proses demokrasi yang terjadi di Desa Keniten, Kecamatan Mojo, dipastikan unik dan paling beda dari ratusan pilkades yang berlangsung serentak.

Dimana Panitia pemilihan secara terang-terangan mengumumkan kepada seluruh pemilih untuk makan sebelum menggunakan hak pilihnya dan mengambil jatah amplop berisi uang sebesar Rp 20 ribu dari panitia, usai mencoblos surat suara.

Pilkades Keniten hanya dua orang, Mereka M. Udin Harianto dan Arik Suryani. Udin, begitu sapaan akrabnya merupakan calon inkumben, sedangkan Arik Suryani sebagai rivalnya.

Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 4.411 jiwa. Mereka tersebar dari empat dusun yakni, Dusun Baran, Besuk, Lemah Jungkur dan Keniten.

” Kalau sudah pulang, jangan lupa, kerabat, saudara, tetangga, teman supaya diberitahu datang kesini, makan setelah itu nyoblos dan minta saku. Pemilihan akan ditutup pukul 14.00 WIB,” ujar panitia pemilihan melalui pengeras suara seperti dikutip dari kedirijaya.

Sumirah (58) salah seorang warga Keniten mengaku, senang dengan penyelenggaraan Pilkades kali ini.

” Semua mendapat jamuan makan. Bahkan, bisa makan dua kali. Sebelum mencoblos atau sesudah mencoblos. Setelah itu, semua diberi amplop,” kata Sumirah.

Sementara itu, AKP Yusuf, anggota kepolisian yang melakukan pengamanan mengaku, Pilkades Keniten berlangsung kondusif dan tidak ada gangguan. Jamuan makan dan pemberian amplop kepada pemilih sangat membantu kepolisian dalam menjaga situasi keamanan.

” Pak Udin ini calon inkumben yang dikehendaki kembali mencalonkan diri. yang menjadi rival adalah Arik Suryani. semua mendapat jamuan makan. Bahkan pemilih yang sibuk karena pekerjaan, dijemput, diminta untuk datang,” ungkap AKP Yusuf.

Panitia menyediakan tempat jamuan makan di sebelah utara Kantor Balai Desa. Sementara pembagian amplop dilakukan di tempat pencelupan tinta. Panitia memberikan satu per satu amplop berisi uang Rp 20 ribu kepada semua pemilih yang sudah mencoblos.

Kenapa sampai terjadi keunikan itu, ternyata mereka berdua adalah pasangan suami-istri. Karena tidak ada lawan, akhirnya Arik Suryani yang tak lain istri M. Udin Harianto yang menjadi lawannya.(kj)

Advertiser