Kamis, 24 Oktober 2013

Pungli Biaya Nikah, KUA Kota Kediri Digeledah Kejaksaan

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kediri, Jawa Timur menggeledah Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Kediri, Rabu (23/10/2013). Dari penggeledahan itu, petugas berhasil menyita sejumlah barang bukti terkait kasus dugaan pungutan liar (pungli) biaya pencatatan nikah tahun 2012.

"Kedatangan kami kemari untuk melakukan penggeledahan dan sekaligus penyitaan barang bukti di KUA ini," ujar Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kediri, Sundaya, seperti dikutip dari beritajatim.

Beberapa orang petugas, datang ke KUA Kecamatan Kota Kediri di Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri, sekitar pukul 14.00 WIB. Petugas datang mengendarai dua unit mobil langsung masuk ke kantor.

Setelah memakan waktu kurang lebih 2,5 jam , petugas keluar dari KUA. Petugas telah mengamankan beberapa dokumen yang dibutuhkan terkait kasud dugaan pungli biaya nikah. Mulai dari buku ekspedisi nikah hingga bukti setoran.

"Yang kami sita antara lain, buku ekspedisi yang berisi siapa saja yang menikah di tahun 2012, dan juga 49 bendel bukti setoran dari KUA ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag)," beber Sundaya.

Kasus dugaan pungli biaya nikah sendiri terjadi, pada tahun 2012 kemarin. Saat ini sudah memasuki tahap penyidikan. Sementara Kepala KUA Kecamatan Kota Romli sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Yang bersangkutan diduga sudah memungut biaya pencatatan nikah hingga ratusan ribu rupiah. Padahal, sesuai ketentuan biaya pencatatan nikah hanya sekitar Rp 30 ribu.

"Menurut peraturan pemerintah nomor 47 tahun 2004, untuk biaya pencatatan nikah hannya Rp. 30 ribu, akan tetapi fakta dilapangan, biayanya kalau diluar KUA sampai Rp  225 ribu. Sedang di dalam KUA ditarik sampai Rp. 175 ribu," jelas Sundaya menambahkan.

Terpisah, tersangka Romli mengaku, kurang tahu. Menurutnya untuk mengurus pencatan nikah yang datang ke KUA rata-rata adalah modin (Kaur Kesra Kelurahan). Sedang untuk besarnya biaya yang ditarik modin dirinya kurang tahu.

"Semua dikondisikan oleh modin, manten tidak ada yang pernah datang kesini,mereka meminta tolong kepada modin untuk mengurus pencatatan nikah," ucap Romli.

Ditanya, apakah ada pembagian fee untuk biaya nikah, Romli membantah. Menurutnya dirinya menerima setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan dan jumlahnya juga tidak menentu.

"Ya memang kami diberi akan tetapi setelah akad nikah selesai dan jumlahnya tidak menentu. Mereka ( para modin) yang mengkondisikan dan saya tidak meminta, karena mereka mengadakan rapat-rapat sendiri," tutup Romli.

Sumber: beritajatim.com

Advertiser