Jumat, 25 Oktober 2013

Polisi Tangkap Lima Wanita Penari Telanjang Asal Kediri

Satreskrim Polrestabes Surabaya, Jawa Timur menangkap enam orang yang menyuguhkan pertunjukan DJ bugil dan tari telanjang alias striptis. Mereka ialah Danang (31), asal Dusun Ngujung Singosari, Kabupaten Malang, Sifa (18), asal Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kediri, dan empat penari telanjang asal Kediri, yaitu Dita (22), Veny (20), Putri (21) dan Saskia (20).

Mereka diamankan saat mendapat order di Jalan Bubutan Surabaya, menggelar acara live disc jockey (DJ) dengan tarian striptis.

"Semua tersangka berhasil kita amankan. Namun untuk si pemesan masih kita buru," kata Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta, Kamis (24/10).

"Tersangka DN (Danang) berperan sebagai pencari order, sedang SF (Sifa) sebagai DJ-nya. Untuk empat perempuan lainnya asal kediri bertindak sebagai penari telanjang," beber Setija.

Salah satu penari telanjang asal Kediri ini mengaku, mendapatkan bayaran yang cukup tinggi untuk sekali show bugil.

"Sudah dua kali kami menggelar pesta ini. Saya sendiri dapat bayaran Rp2,5 juta untuk sekali pertunjukkan," ujar Veny, di Mapolrestabes Surabaya.

Sementara itu, Penangkapan para tersangka ini bermula ketika anggota polisi yang tengah menyamar mendapat undangan acara di salah satu tempat hiburan malam di Surabaya.

"Saat mendatangi acara tersebut, anggota mendapati empat penari dan DJ acara dalam keadaan telanjang tanpa busana. Sehingga, petugas yang langsung berkoordinasi dengan anggota lain langsung melakukan penggerebekan," ungkap Setija .

Keenam orang ini rupanya mantan pekerja kafe di daerah Tulungagung. Karena tidak memiliki job lagi, mereka 'banting setir' dan membuka orderan live DJ plus tarian striptease door to door dengan tarif Rp 26 juta per paket.

"Awalnya mereka ini satu pekerjaan di salah satu kafe di daerah Tulungagung. Kemudian mereka membuka orderan bikin acara live DJ dan tarian telanjang di Surabaya. Dari pengakuannya, mereka baru dua kali ini menggelar acara tersebut. Namun kami masih melakukan pengembangan," terangnya.

Kesemua pelaku ini, lanjut dia, berasal dari daerah di luar Surabaya. "Namun karena mereka membuka orderan di Surabaya, mereka berdomisili di sini (Surabaya). Mereka kos di Surabaya. Dari hasil pemeriksaan sementara, mereka mengaku masih baru menjalani profesinya ini," tandas dia.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 29 jo Pasal 4 ayat (1) dan atau Pasal 35 jo Pasal 9 dan atau Pasal 34 jo Pasal 8 Undang-Undang RI No 44 tahun 2008 tentang pornografi.

Sumber: merdeka

Advertiser