Rabu, 02 Oktober 2013

Mantan Dandim Pacitan Dikepruk Penjahat

Tindakan tegas aparat kepolisian pun tak mampu membuat para penjahat jera. Perampasan motor dengan modus kepruk kepala masih menjadi momok warga Sidoarjo. Kali ini korbannya mantan Dandim Pacitan, Letkol (Purn) Soeharto (68) asal Sekardangan, Sidoarjo.

“Bapak dikepruk penjahat pada Senin (30/9/2013) pagi usai mengantar sekolah keponakan saya,” ungkap Elly Susanti, putri sulung korban di ICU RSD Sidoarjo, Rabu (2/10/2013).

Menurut Elly, peristiwa itu terjadi di kawasan pergudangan Benteng Tunggal, yang masuk kawasan Desa Bohar, Kecamatan Taman. Tidak ada yang tahu persis bagaimana peristiwanya. Namun diduga kuat, pelakunya adalah penjahat dengan modus kepruk kepala.

“Yang tahu adalah seorang warga yang sedang lewat. Orang itu melihat bapak sudah dalam posisi tergeletak pingsan. Motornya Honda Beat putih W 6876 YM dan dompet bapak sudah raib,” terangnya.

Untung saja, lanjut Elly, penjahat tak menjarah ponsel di kantong celana Soeharto. Berbekal ponsel Soeharto, warga tersebut kemudian melaporkan temuannya ke seorang sekuriti pergudangan, yang kemudian menelepon putra-putri korban. “Kami langsung datang dan membawa bapak ke Puskesmas Gedangan. Tapi karena lukanya sangat parah akhirnya dirujuk ke sini (RSUD Sidoarjo),” jelasnya.

Akibat perbuatan pelaku, mantan perwira tinggi TNI AD itu mengalami luka parah. Pukulan yang dilayangkan penjahat, yang diduga menggunakan benda keras, memang tak menimbulkan luka luar. Namun, Soeharto mengalami trauma berat di bagian dalam tempurung kepalanya.

“Bapak dinyatakan mengalami gegar otak berat. Sejak ditemukan sampai sekarang (sudah dua hari), bapak masih belum siuman. Tim dokter juga belum berani mengambil tindakan apa-apa. Semoga tidak terjadi apa-apa,” harapnya.

Elly yang didampingi adik bungsunya Eris Sutanto, kembali bercerita, peristiwa itu terjadi usai Soeharto mengantar dua anak dari adik keduanya yang tinggal di Perum Jaya Maspion, Gedangan, yang hanya berbatasan sungai dengan kawasan pergudangan Benteng Tunggal. Sebelumnya, Soeharto tinggal di kawasan Sekardangan, Sidoarjo.

“Bapak tinggal di rumah adik saya di Perum Jaya Maspion sekitar lima bulan lalu, karena perumahannya masih sepi. Apalagi, dua keponakan saya yang bersekolah di Desa Wage juga tidak ada yang mengantar,” paparnya.

Dua cucu Soeharto, yaitu Desta dan Dimas, bersekolah di SD Muhammadiyah 3 Desa Wage Kecamatan Taman. Untuk menuju Wage yang berjarak sekitar tiga kilometer, Soeharto harus melalui jalan tuang di Desa Bohar. Sebab kalau harus lewat luar atau Jalan Raya Gedangan, harus berputar sangat jauh.
“Makanya kalau mengantar Bapak tak pernah pakai helm, karena hanya lewat jalan-jalan desa,” imbuhnya.
Namun, diduga rutinitas Soeharto sudah dipelajari penjahat sehingga Senin (30/9/2013) kemarin, ia tak menyadari tengah diincar hingga kemudian dieksekusi. Elly berharap, polisi mampu mengungkap insiden tersebut dan menangkap pelakunya.

“Yang saya tidak habis pikir, saat masih menjabat Dandim dulu Bapak pernah melepas dua penjahat yang tertangkap dan dihakimi warga. Tapi malah Bapak sendiri sekarang yang diperlakukan jahat oleh penjahat,” punkgasnya.

Dan Inilah kronologi Mantan Dandim Pacitan Dikepruk Penjahat, Rabu (2/10/2013).

1.   Letkol (Purn) Soeharto pulang mengantar sekolah dua cucunya di SDN Muhammadiyah III Wage, Taman naik motor Honda Beat putih W 6876 YM.

2. Sekitar pukul 07.00 WIB, korban pulang lewat di kawasan Pergudangan Benteng Tunggal di Desa Bohar, Kecamatan Taman yang sepi.

3. Sekitar pukul 07.10 WIB laju motor korban dipepet pelaku dan kepalanya dikepruk hingga tersungkur dan motor serta dompet dibawa kabur.

4. Korban ditemukan warga yang sedang lewat dan dilaporkan ke sekuriti pergudangan Benteng Tunggal.

5. Keluarga korban dihubungi lewat ponsel korban yang ada di saku kemudian dibawa ke Puskesmas Gedangan, karena kondisinya parah akhirnya dilarikan ke RSUD Sidoarjo.

6. Sampai saat ini korban belum siuman akibat gegar otak.

Sumber: tribunnews.com

Advertiser