Kamis, 03 Oktober 2013

Jagal Sadis Ponorogo, Divonis 11 Tahun Penjara

Berita Ponorogo - Abdullah Eko Budiono, Jagal Karanggebang Jetis Ponorogo, akhirnya divonis hukuman penjara 11 tahun penjara, yang tega menghabisi nyawa anak kandungnya, Mega Krisnanda,

Majlis hakim Pengadilan Negeri Ponorogo yang dipimpin Daru Swastika Rini, menyatakan secara syah dan meyakinkan, bahwa terdakwa bersalah melakukan pembunuhan anak kandungnya pada 5 Februari 2013 lalu.

Sebelumnya, ayah dua anak ini, dituntut dengan dakwaan pasal berlapis, yaitu dakwaan primer pasal 340, junto pasal 55, ayat 1 KUHP dan subsidernya pasal 338, junto pasal 55, ayat 1, ke dua pasal 44, ayat 3, UU 23 /2004 ( tentang KDRT) junto pasal 55, ayat 1 KUHP. Namun dakwaan primernya tidak terbukti. Terdakwa hanya divonis dengan dakwaan
subsider dengan hukuman sebelas tahun penjara.

“Mengadili bahwa terdakwa Abdullah Eko Budinato, tidak terbukti melakukan tindakan primer dan membebaskan terdakwa dari dakwaan primer. Terbukti secara syah dan meyakinkan, terdakwa melakukan tindakan subsider dengan menjatuhkan vonis hukuman 11 tahun penjara, dikurangi masa tahanan,” kata Ketua Majlis Hakim, dalam sidang ,Rabu (02/10/2013).

Atas vonis hakim itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya Mulyoharjo dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budiyanto menyatakan pikir-pikir. Sebab, sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 18 tahun, sesuai dengan dakwaan primer.

“Semua punya hak, saya selaku penuntut umum juga punya hak. Bukan masalah hukumannya, tapi tentang penerapan pasalnya, tuntutan saya kan membuktikan pasal 340, itu berdasar fakta yang terungkap. Ada satu minggu untuk menyatakan sikap menerima atau pikir-pikir. Sementara saya pikir-pikir,” kata Budiyanto usai sidang.

Sementara Amru Nasrudin alias Udin, yang ikut membantu perbuatan keji itu, divonis oleh majlis hakim yang sama dengan hukuman 8 tahun penjara.

Sidang yang berlangsung untuk pertama kalinya dihadiri oleh istri terdakwa atau ibu korban, Lilik Mariani. Dengan wajah yang selalu ditekuk, Lilik duduk di tengah-tengah antara adik Eko, Pujiati yang khusus datang dari Sampang Madura.

“Untuk memberikan dukungan moril, berapa pun putusannya pasrah kepada Allah,” tuturnya.

Terdakwa Eko dibantu oleh Amru, yang disidang secara terpisah, telah melakukan perbuatan keji dengan menghabisi anak kandungnya pada 5 Februari 2013, di tempat tinggalnya, Dusun Taman  Asri RT 3/RW 2, Desa Karanggebang Jetis. Hanya gara-gara keberadaan  sepeda motor milik Suprihatin ( yang juga kedapatan meninggal dengan cara dibunuh lalu
ditanam di kamar Krisnanda) di rumahnya, Eko marah-marah.

Ibu korban, Lilik Mariani saat itu memanggil korban yang sedang berada di pos kamling samping rumah. Pertengkaran antara anak dan ayah pun tak terelakkan

Korban dibunuh saat tidur di ruang tamu dengan cara dibekap mulutnya dan ditusuk 4 kali dengan sangkur  ke arah dadanya, yang mengakibatkan pendarahan pada paru-paru. Sedangkan Amru bertugas memegangi kaki korban. Belati yang digunakan melakukan pembunuhan adalah milik korban. Belati ini ditemukan terdakwa dari dalam almari korban.

Setelah membunuh darah dagingnya sendiri korban bersama Amru, yang masih tetangga dan teman bermain korban, membuang jasadnya ke kali Keyang . Sementara sepeda motor  AE 6313 SD, warna silver  milik almarhum Suprihatin yang dijadikan barang bukti, dikembalikan kepada keluarganya. Namun teka-teki siapa kah yang membunuh Suprihatin tidak
terungkap hingga persidangan usai.

Sumber: lensaindonesia.com

Advertiser