Jumat, 04 Oktober 2013

Guru di Pacitan Bingung Menilai Rapor Siswa

Berita Pacitan - Hampir tiga bulan terakhir sejumlah SMA pilot project kurikulum 2013 (K-13) di Pacitan belum menerima buku panduan yang di dalamnya memuat aturan terkait model penilaian rapor siswa, hal tersebut membuat guru kebingungan menilai hasil ulangan siswa kelas X.

‘’Bingung juga. Kami kan juga belum tahu nantinya model nilainya seperti apa. Kan bisa pakai model angka atau huruf,’’ ungkap Sudjalil Arafat, Kepala SMAN 1 Pacitan, kepada Jawa Pos Radar Pacitan, kemarin (2/10).

Padahal, lanjut Djalil, pelaksanaan ujian tengah semester (UTS) akan digelar 21 Oktober mendatang. Sehingga, untuk saat ini pihaknya akan menggunakan penilaian model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Yakni dengan menggunakan model penilaian angka. Hal itu untuk mempermudah sekolah atau guru jika nantinya K-13 akan menggunakan model penilaian huruf.

‘’Itu nanti akan ada konversi nilai dari model huruf. Kami baru menerima drafnya,’’ katanya.

Selain masih kesulitan dengan aturan penilaian siswa, lanjut pria asal Kebumen itu, sekolah saat ini juga masih kebingungan dengan banyaknya buku paket mata pelajaran yang belum diterimakan. Dari 18 mata pelajaran yang diajarkan di kelas X, sekolah baru menerima empat buku paket K-13. Yakni untuk pelajaran Sejarah, Matematika dan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Jasmani (Penjas).

‘’Sedangkan metode pembelajaran untuk 14 mapel yang lain ya masih meraba-raba,’’ keluhnya.

Maksudnya, kata pria yang baru sebulan menjabat kepala sekolah itu, pihaknya masih menggunakan model pembelajaran KTSP 2006 yang mengacu pada materi dan model untuk siswa kelas XI dan XII. Lantaran, mata pelajaran kelas X untuk K-13 itu ada sebagian yang masuk dalam KTSP 2006 di kelas XI dan XII.

‘’Itupun baru kami pakai saat ada kemiripan model pembelajaran, kalau tidak ya kami tidak pakai,’’ jelasnya.

Djalil hanya bisa berharap agar sekolah yang menjadi pilot project K-13 segera menerima buku panduan serta kekurangan 14 paket buku mapel. Sehingga, kedepan pihaknya sebagai sekolah pelaksana bisa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan maksimal.

‘’Informasinya droping kekurangan awal tahun 2014. Semoga saja terealisasi, karena bingung juga melangkah kalau tidak ada panduan,’’ imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Sugeng Basuki menjelaskan, saat ini droping kekurangan buku paket untuk SMA sasaran K-13 memang masih menunggu. Pihaknya juga tidak tahu pasti kapan droping itu akan dilakukan. Namun yang jelas, saat ini kekurangan buku paket hanya terjadi level SMA. Yakni di SMAN 1 dan SMAN 2. Sedangkan sekolah sasaran lain baik dari pendidikan dasar (dikdas) seperti SD dan SMP sudah aman.

‘’Ya tinggal SMA saja, SMK-nya saja juga sudah terpenuhi,’’ tuturnya.

Saat ini, lanjut Sugeng tercatat ada lima sekolah pendidikan menengah (dikmen) yang terpilih menjadi pilot project K-13. Yakni SMAN 1 dan SMAN 2, serta SMKN 1, SMKN 2 dan SMKN 3.

‘’Kami juga masih menunggu, dan belum tahu kapan akan di droping,’’ tegasnya.

Sumber: radarmadiun.info

Advertiser