Minggu, 20 Oktober 2013

Ditemukan, Goa Pertapaan Prabu Jayabaya

Berita Kediri - Terletak sekitar 1 kilometer arah timur dari Situs Semen wilayah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ada sebuah celah yang diyakini sebuah goa tempat bertapa Prabu Si Aji Joyoboyo pada masa Kerajaan Mamenang (Pamenang sekarang, red).

Untuk menuju lokasi tersebut, kita harus menyusuri sungai yang penuh rerimbunan pepohonan dan sangat mengerikan.

Ahmad Khoiruman (37), pemuda penunggu Situs Semen, menuturkan goa tersebut sebelumnya dikabarkan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang terlibat G-30 S/PKI.

“Dulu menurut para sesepuh lokasi tersebut merupakan tempat persembuyian jaman PKI. Tapi untuk kebenarannya saya tidak berani memastikan,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jono dan Amir. Kedua orang yang juga penunggu Situs Semen ini mengatakan memang sebelumnya lokasi yang diyakini sebuah goa tersebut merupakaan tempat persembunyian orang-orang PKI.

“Dulu  terbongkarnya kalau goa ini tempat persembunyian orang PKI karena ada seorang perempuan yang sering antar makanan ke goa dan dibuntuti dari belakang,” terang Jono.

Lain halnya yang dikatakan oleh Suparli (37) warga Menang Kecamatan Pagu. Berdasarkan cerita almarhum kakaknya bernama Slamet, Suparli meyakini kalau goa tersebut adalah tempat bertapa Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo.

Menurut cerita Suparli, kakaknya dulu pernah hilang selama 3 hari dan ditemukan di goa tersebut dengan bantuan para sesepuh.

“ Kakak mengatakan saat itu tiba-tiba duduk di atas ular putih di dalam goa hingga tidak berani bergerak. Dia mengatakan sebenarnya mengetahui sedang dicari keluarganya yang berada di luar goa. Namun anehnya kenapa keluarganya tidak ada satupun yang melihat keberadaannya,” jelas Suparli.

Dari cerita almarhum kakaknya itulah akhirnya diketahui banyak hal tentang keberadaan goa tersebut.

“Sebelum meninggal kakak juga pernah cerita bahwa goa tersebut pada masa Kerajaan Mamenang adalah tempat bertapa Prabu Sri Aji Joyoboyo. Almarhum kakak memang sebelumnya menderita sakit di kaki hingga sulit berjalan dan tidak mampu bekerja. Namun setelah keluar dari lokasi goa, katanya penyakitnya sembuh dan kerjanya lancar,” imbuh Suparli.

Cerita serupa juga dikatakan oleh para lelaku ritual yang pada masa itu ikut terlibat menutup pintu goa menggunakan tanah di sekitarnya.

“Dari luar memang tampak sempit dan kita masuk harus merunduk. Namun di dalam ternyata sangat luas dan kita bisa berdiri dan berjalan. Disisi dinding sebelah selatan dalam Goa ada lorong yang diyakini tembus laut selatan," ujar Mbah Ismu.

Mbah Ismu menambahkan, goa tersebut kini ditimbuni tanah dan ditanami pohon pisang agar bisa dimanfaatkan oleh pemilik lahan, selain itu memang tidak ada kepedulian dari pemerintah daerah untuk pengelolaan situs peninggalan tempat bersejarah tersebut dan kebanyakan lokasi dibiarkan terbengkelai sehingga sangat merugikan pemilik lahan

Sumber: kediriupdate

Advertiser