Selasa, 01 Oktober 2013

Demi Janda Pejabat Pemkot Kediri, Telantarkan Anak dan Isteri

 
Berita Kediri - Keterlaluan, Silau jabatan bisa saja membuat seorang pria lupa anak dan istri. Ini terjadi pada Adi Sutrisno, pria kelahiran Kediri, 16 Oktober 1982, yang semula staf biasa di Dinas Pendidikan (Dindik) kabupaten Blitar. Setelah ditarik bekerja di Kota Kediri dengan suatu jabatan, ia tega menelantarkan dua anaknya yang masih kecil. Kemudian mengajukan talak istrinya, Widha, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kediri. Penyebabnya, Adi diduga selingkuh dengan janda rupawan yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Gambiran Kediri, bernama Ari Dwi Muryani. Senin (30/9) kemarin proses talaknya disidangkan di Pengadilan Agama Kediri. Apa dan bagaimana perjalanan cinta segitiga warga Kediri itu, berikut kisah Demi Janda Pejabat Pemkot Kediri, Telantarkan Anak dan Isteri seperti dikutip beritatrenggalek.com dari surabayapagi.com

Adi Sutrisno, sebelum menjadi pejabat strategis di lingkungan Pemerintah kota Kediri adalah pegawai rendahan di Dinas Pendidikan kabupaten Blitar. Saat itu, ia menikahi Widha Yunikasari, guru SD Burengan Kediri. Pada tahun 2010, berkat kebaikan keluarga Widha, Adi lulusan Universitas Negeri Malang itu ditarik ke Pemerintah kota Kediri. Kepada jajaran di Pemkot Kediri, Adi diperkenalkan sebagai keluarga Walikota Kediri, dr. Syamsul Ashar.

Berkat sebaran kabar Adi adalah keluarga Walikota, maka ia langsung dipromosikan sebagai Kepala sub bidang Pengelolaan Data dan Formasi Pegawai di Bidang Pengembangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Kediri. "Posisi Adi ini basah dan strategis, sebab ia turut menentukan seleksi pegawai honorer Pemkot kota Kediri, termasuk pegawai setingkat Satpol PP," ungkap seorang pegawai di Pemkot Kediri.

Dengan jabatan basah, Adi memiliki pergaulan luas. Diantaranya berkenalan dengan Ari Dwi Muryani, seorang perawat yang bertempat tinggal di Perum Betet Town House Blok A No. 12B. Kelurahan Betet Kec. Pesantren, Kota Kediri. Janda satu anak ini tampaknya menggoda rumah tangga Adi dan Widha.

"Semula saya tidak menyangka, keduanya ada perselingkuhan. Saya baru memergokinya ketika selingkuhan suami saya kesakitan habis aborsi," ungkap Widha Yunikasari, sambil berkaca-kaca di rumah makan prasmanan "Prima" Kediri. Saat itu, Arik, panggilan pacar suaminya muntah-muntah. Sebagai sesama wanita, Widha, merasa iba. Ia mengedepankan rasa kemanusiaan ketimbang kemarahan. Widha memanggilkan ambulance untuk menolong Arik. Berkat pertolongannya, jiwa Arik terselamatkan.

"Suami saya berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan janda. Satu anak ini. Tidak tahunya dia main backstreet. Dan September 2012, suami saya menghilang sampai sekarang. Tahu-tahu mengajukan talak melalui Pengadilan Agama Kediri," ungkap Widha, sambil makan, sesekali menyeka air matanya yang menetes.

Widha, yang kini mengajar di SDN Burengan Kediri, sejak September 2012 tidak mengetahui alamat Adi. Widha, baru tahu suaminya telah serumah tanpa ikatan pernikahan dengan Ari Dwi Wuryani, perempuan yang pernah ditolongnya dari maut, pada bulan Februari 2013.

"Ketua Paguyuban Perumahan Betet Town House mendapati Adi serumah tanpa ikatan pernikahan dengan Ari, saya baru terbelalak bahwa saya telah dikhianati Adi. Saya sakit ternyata suami saya yang saya hormati telah kumpul kebo dengan janda. Dia ini lelaki yang lupa sejarah. Jujur saja urusan jabatan dan rumah adalah bantuan keluarga saya. Dia hanya membantu mencarikan kredit ndandani rumah," beber perempuan kelahiran Kediri, 1986 yang lalu.
Ia dan keluarga serta teman guru heran, saat lebaran kemarin, Adi tidak pulang menengok anaknya. Apalagi memberi uang THR. "Anaknya yang kedua masih bayi… ehh… Mbok disambangi, blas… ia lupa sama anak-anaknya," Widha, menegaskan.

Bukti perselingkuhan Adi dan Ari, yang tinggal satu rumah diperolehnya dari surat keterangan Lurah Betet, Herry Yuwono. Surat keterangan nomor 470/37/419.71.07/2013 berkop surat Pemerintah Kota Kediri, Kecamatan Pesantren, Kelurahan Betet dinyatakan bahwa "Telah tinggal serumah sejak bulan September 2012 hingga sekarang tanpa Ikatan pernikahan." Dalam surat keterangan tertanggal 5 Februari 2013 diketahui lurah Betet Herry Yuwono, disaksikan Sarjono, Ketua Paguyuban. Betet Twon House dan Alyanto, Bhabinkamtibmas Kel Betet, Sarjono menyatakan "kedua orang (Adi Sutrisno dan Ari Dwi Wuryani-red) setiap kali dimintai identitas diri selalu menghindar dan menjanjikan diberikan lain waktu, tetapi hingga sekarang belum memberikan identitasnya," bunyi surat keterangan dari Kelurahan Betet.

Widha menambahkan, tiba-tiba ia menerima surat panggilan sidang atas gugatan talak yang diajukan suaminya dari Pengadilan Agama Kediri, awal Mei 2013. "Sebagai orang awam, saya diancam pengacara Adi agar tidak hadiri sidang, nanti dua anaknya dikasihkan saya. Sebagai orang tidak mengerti hukum saya nurut, sebab buat saya anak segala-galanya," ungkap Widha dengan terbata-bata.

Ia tidak punya pikiran lain, ketika disodori pengacara Adi, bernama Budiarjo Setiawan SH, untuk tanda-tangan surat pernyataan. "Benar, demi Allah bahwa surat pernyataan itu dengan ancaman dan tekanan si pengacara Adi," kata Widha, mengangkat sumpah dan bersedia dikonfrontir dengan Budiarjo. Ia diminta pengacara Adi, jangan mendatangi sidang panggilan dari PA Kediri. Alasannya, agar sidang talak segera dikabulkan.

Setelah berkonsultasi dengan keluarganya, Widha, baru sadar bahwa gertakan pengacara Adi tadi menyesatkan dirinya dan kehidupannya ke depan bersama dua anaknya. Oleh karena itu, ia mendapat bantuan cuma-cuma dari advokat di Surabaya.
Dalam sidang lanjutan hari Senin (30/9) kemarin, pengacara Adi Sutrisno, menjawab tuntutan Widha, agar memberi uang pendidikan, kesehatan dan perawatan kedua anaknya yang masih dibawah usia 5 tahun sebesar Rp 7 juta, setiap bulannya. "Klien saya keberatan pemberian nafkah sebesar itu, karena Adi pernah menjaminkan SK PNS-nya untuk pembiayaan perbaikan rumah," kata Achmad Bahroni SH, kuasa hukum Adi.

Sementara itu, kuasa hukum Widya, Dr. H. Istiawan Witjaksono, S.Sos,SH,MM, membantah bahwa rumah yang dimasudkan sebagai harta-bersama, sebab rumah pemberian orangtua. "Klien saya membenarkan suaminya pernah turut renovasi. Tapi itu tidak bisa diklaim harta bersama. Nanti kita buktikan," jelas Istiawan.

Adi Sutrisno dan Ari Dwi Muryani

Dan saat Surabaya Pagi mencoba menghubungi Adi Sutrisno Senin (30/9) sore, ke nomor ponsel 08123445757 untuk mempertanyakan motif gugatan talak kepada istrinya Widha, tak kunjung mendapat respon. Sejak pukul 17.30 WIB hingga malam tadi, ponsel Adi tak aktif.

Bahkan Surabaya Pagi mengirim pesan singkat ke nomor ponsel Adi, yang berisi “Pak Adi Sutrisno, saya dari Surabaya Pagi… Bapak sekarang ajukan gugatan talak ke istri bapak di PA (Pengadilan Agama-red) Kediri yang tadi pagi (kemarin, red) jawaban pengacara bapak. 1) apa motif talak bapak? 2) apa karena bapak berselingkuh dengan perawat RS Gambiran sdri Ari Dwi Muryani, janda anak satu dari Trenggalek? 3) bapak sekarang serumah dengan janda Ari di perumahan Betet Town House blok A-5, dimana pada tgl 4 Februari 2013 sore jam 15.30, bapak digerebek serumah dengan si janda tanpa ikatan pernikahan? 4) dua anak bapak yang masih kecil2 bapak terlantarkan alias tidak pernah bapak kasih uang nafkah dan jenguk.”

Hingga pukul 21.00 WIB malam tadi, pesan singkat itu belum mendapat balasan dari nomor ponsel Adi Sutrisno.
Sementara Ari Dwi Muryani, janda satu anak yang dihubungi di tempat kerjanya, Ruang Melati RS Gambiran, Kediri pukul 18.10 WIB,. Ari sudah pulang kerja. “Mbak Ari sudah pulang mas, tadi masuk pagi,” jawab pria yang mengaku rekan kerja Ari di Ruang Melati RS Gambiran. Saat hendak menanyakan nomor telepon Ari Dwi Maryani, pria itu enggan memberikan nomor telepon Ari. “Besok pagi (hari ini, red) saja mas. Telpon lagi. Saya gak enak sama mbak Ari, ” jawab pria itu yang bersikukuh tak mau menyebutkan namanya.

Sumber: surabayapagi.com

Advertiser