Rabu, 30 Oktober 2013

Cerpen: Bumi Kemarau

BUMI KEMARAU

Oleh : St. Sri Emyani

Garang, terik matahari memanggang bumi. Dan kemaraupun menjalar kemana-mana. Sementara itu, sesekali terdengar suara angin siang membawa keributan bersama dedaunan kering dan benda-benda lainnya ke tinggi udara.

“Kaang...” Kering bibir wanita kumuh itu bergerak didepan lelakinya.

“Ada apa Siti?” Lelaki jangkung yang wajahnya dikuasai oleh bulu-bulu kumis dan jambang itu memandang tajam pada istrinya.
Yang dipandang masih diam mematung, belum sempat meluncurkan kata-kata. Dan sesekali tangan kurusnya bergerak mengusap tubuhnya yang kurus kerontang. Diabaikannya perut dan bagian tubuh lainnya, telanjang dalam ciuman udara siang yang terik.

Sementara itu sang lelaki yang tangan kanannya memegang sabit masih memijarkan tatapan matanya.

“Mengapa musti ragu-ragu Siti? Kalau memang ada perkara, lekas utarakan.”

“Anu, tadi malam ada kebakaran hutan.”

Lelaki berkumis tebal dengan tubuh tinggal kulit dan belulang itu tersenyum samar dan getir, penuh sindiran.

“Kang, kang Danu mengapa sampean tidak menanggapi, atau kang Danu turut terlibat seperti pada musim kemarau sebelumnya?”

Kembali lelaki jangkung dengan pakaian kumuh itu menjulurkan senyuman getir.

“Kalau iya mau apa kamu? Perempuan itu jangan turut mencampuri urusan lelaki, Siti.”

“Jadi kang Danu turut membakar hutan pinus itu?”

Perlahan lelaki kumuh itu mengangguk, sambil mengusap-usap jenggotnya yang tumbuh menebal.

“Ada apa kamu bersusah hati Siti, yang begini ini kan urusan lelaki, perempuan itu jangan neko-neko.”

“Tetapi kang, saya khawatir.”

“Kamu khawatir saya disel, saya dihukum?”

Perempuan setengah umur itu menggoyangkan kepala, menggelengkan parasnya.

“Bukan itu yang saya khawatirkan kang Danu?”

“Lantas?”

“Saya was-was, jangan-jangan...”

“Kamu khawatir kalau aku dipenjara. Lantas kekurangan kebutuhan batin...”

Kembali wanita kering itu menggoyangkan kepala.

“He, lantas apa yang kamu khawatirkan Siti?”

“Tentang ‘penunggu’ sumber itu Kakang, tentang penjara lama atau cepatnya, akhirnya kang Danu kan keluar juga, tetapi tentang kutukan yang disemburkan oleh sang penunggu beringin dekat sumber itu, aduh mengerikan sekali kang Danu.”

“Nanti dulu, Siti.”

Otot kekar itu meraih bahu perempuan dihadapannya, dan kembali pijar mata lelaki itu memandang garang.

“Bagaimana kamu kok membawa-bawa soal beringin dengan sumber segala, saya memang membakar hutan pinus itu dengan teman-temanku yang sekaum dan senasib. Aku lakukan semuanya itu demi kepentingan bersama demi perjuangan yang merata.”

“He, kang Danu menyangkut-nyangkut soal perjuangan, soal kemerataan.”

“Kamu tahu Siti, bumi ini titipan Tuhan, hutan pinus yang tumbuh dilereng pemangkuan kaum kita itu jelas tidak menjajikan hidup keseharian kita. Kita tidak kenyang dijejali minyak terpentin, dan minyak kayu pinus, kita ini butuh makan. Dan dulu sebelum hutan ini dirombak menjadi hutan pinus, lahan-lahan tertentu dikuasakan kepada kita untuk kita tanami padi dan ketela. Sekarang yang demikian itu tidak pernah terjadi Siti, dimusim kemarau seperti sekarang ini, disamping kita kesulitan mencari air kitapun dihadapkan pada perkara lain, ya kita dipanggang oleh kebutuhan pangan yang kian menghimpit, padahal dahulu lahan itu menjajikan keseburan untuk kita tanami padi’gogo’ sehingga pada musim paceklikpun kita punya cadangan.”

“Kang?”

“Apa lagi?”

“Kang Danu kok jadi seperti ini sih sikapnya.”

“Maksudmu?”

“Kakang itu kan dulu menurut lembaran sejarah merupakan sosok pejuang yang tangguh. Jaman perang kemerdekaan kang Danu membawa bambu runcing dan dengan gigih mempertahankan Pertiwi dari rebutan bangsa Belanda, kaum kompeni yang menancapkan kuku-kuku penjajahannya di bumi pertiwi ini Kang. Lha kok sekarang ‘sampean’ berbalik kiblat mengarah pada tindak durjana.”

“Hus, kalau bicara mulutmu yang hati-hati Siti. Kau katakan aku mantan pejuang memang benar.”

“Dan sekarang Kakang menyimpang dari perjuangan itu.”

“Itu saya lakukan terhadap ketidakpuasan yang aku alami sekarang ini.”

“Ketidakpuasan, mengapa kang Danu tidak puas, bukankah sudah ada tindakan bijak dari pihak Perhutani. Penanaman Pinus itu pun untuk kepentingan kita Kakang, untuk kepentingan bersama. Kang Danu lihat sendiri to, saudara-saudara kita disini dapat mencari mata pencaharian, dengan jalan meminta imbalan hasil buruh menyadap minyak pohon-pohon pinus itu. Mengapa tindak durjana itu kang Danu ulang lagi atau...”

“Atau apa, kamu curiga.”

“Tentu Kang.”

“Jangan-jangan kang Danu itu sekedar menjadi wayang semata, dan dalangnya ada dibelakang layar, seperti dulu...”

“Bangsat, kamu itu perempuan, tahumu uang belanja, ngurus dapur dan melayani suami, itu saja. Lain-lain kamu jangan banyak bertanya Siti, yang begini urusan lelaki.”

“Kaaang..!”

Lelaki kumuh itu melangkah tegak dengan pandangan mata memijar garang, segarang matahari diterik kemarau.

“Kaang..!”

Sejurus lelaki kumuh itu menoleh kebelakang.

“Ada apa lagi Siti?”

“Saya takut Kang, sungguh saya merasa ngeri, jangan-jangan yang menjadi kekhawatiran sanak saudara kita disekitar lembah Purung ini akan menjadi kenyataan.”

“Tentang hutan yang terbakar itu lagi.”

“Bukan.”

“He.”

“Saya khawatir juga para’puak’lainnya pun merasa was-was, jangan-jangan ‘penunggu’sumber itu benar-benar mengamuk, dan mengutuk kita, sebab setelah pohon beringin yang menjadi pagar mata air itu dibakar semak-semaknya, lantas beringin sendiri tumbuh layu, dan mata airnya kini berkurang, jangan-jangan yang begini ini ada hubungannya dengan pembakaran yang kang Danu lakukan itu. Sungguh kang aku merasa ngeri dan was-was, bagaimana kalau sang ‘penunggu’ itu benar-benar mengutuk penghidupan kita, bagaimana kalau sumber air yang menjadi kebanggaan kita disetiap kemarau panjang itu berhenti menyemburkan air. Akan kemana lagi kita cari kebutuhan air bening itu.”

“Sebentar Siti. Tentang beringin yang menjadi pagar sumber mata air itu aku tidak pernah mengganggu.’

“Tapi Kang, tadi kang Danu telah mengaku, kakanglah yang membakar hutan itu dengan rekan-rekan sehaluan ‘sampean’.

“Yang membakar hutan di bagian atas itu memang aku dan teman-teman Siti, tetapi aku ini masih tahu ‘keblat’. Jadi tentang sumber mata air itu aku tidak mengganggu gugat, termasuk semak-semak sekitar dan pohon beringin yang menjadi pagarnya.”
Sejenak lelaki jangkung dengan tubuh kerontang itu merenung jauh. “Aneh, jadi mata air itu dibakar orang, pohon-pohon pelindung dan semak-semak sekitarnya?”

“Siti mengangguk.”

“Tetapi yang sepeti itu aku tidak melakukannya Siti, aku tidak membakar beringin dan semak-semak sekitar sumber itu. Yang kubakar itu reranting kering rerindang hutan dibagian atas, yang dulu menjadi lahan seluruh ‘puak’didukuh ini. Aku masih sadar Siti, mata air itu milik kerabat, milik kita bersama dan saya kira para teman-teman lain pun tidak ada yang melakukannya. Mereka pun masih ‘waras’ dan sadar betul pohon-pohon keramat itu menjadi bagian kita, telah menjadi sisi yang kita miliki bersama. Sebab kalau mata air itu berhenti mengalirkan sumber, pastilah air mata kita yang akan menggenangkan duka dan kepedihan.”

“Tetapi kang Danu, sungguh semak-semak dekat sumber itu pun turut terbakar dan apinya pun ikut menyulut pohon-pohon beringin besar disekitarnya. Akibatnya pohon-pohon raksasa itu pun layu dan ranggas. Kita semua sangat was-was Kang, sangat khawatir jangan-jangan ‘penunggunya’ akan murka dan mengutuk kita dengan sesuatu yang mengerikan. Sudah ada dua orang anak yang sakit panas Kang, menurut khabar dua bocah itu pun terkena ‘teluh’ dari sang penunggu sumber air itu.”

Sunyi. Angin siang berkelebat di pohon-pohon, menghamburkan reranting dan dedaunan kering serta apa saja yang bisa diterbangkannya.

Lelaki kumuh itu merunduk.

“Kaang...”

Sejenak ia mendongak, menatap istrinya dengan pandangan lurus.

“Benarkah kang Danu tidak membakar semak-semak dan pepohonan beringin raksasa penunggu sumber itu Kang?”
Mengangguk.

“Lantas siapa yang melakukannya, siapa yang bertindak sekeji itu?”

Diam, tak ada kalimat jawaban, hanya terdengar helaan nafas berat, lelaki kerontang masih tepekur memandang bumi, dengan sinar layu.

“Kaang...”

Kembali mendongak.

“Saya percaya kang Danu tidak melakukan siksaan pada sumber itu, pada para makhluk halus penghuni pohon-pohon beringin itu, saya percaya Kang Danu tidak melakukannya. Tetapi mengapa diterik kemarau ini, Kang Danu tega membakar pepohonan pinus yang daunnya mengering di hutan atas itu?”

“Siti...”

“Ya Kang, aku ini istrimu, istri Kang Danu.”

“Aku lakukan semua ini atas perintah...”

“Perintah siapa Kang Danu, perintah yang dulu itu, dari orang-orang yang menginginkan lahan itu?”

Berat ia mengangguk. “Tetapi Siti, yang lebih penting lagi pembakaran hutan itu aku lakukan atas...”

“Atas perintah juragan Karto?”

“Ya, tetapi yang penting juragan itu hanya sebagai alatnya saja Siti, yang lebih penting lagi, aku lakukan semua itu atas perintah uang, ya atas perintah uang, kukerjakan pekerjaan yang sebenarnya mengandung resiko itu. Sekali lagi istriku, aku kerjakan semua itu atas perintah uang, kamu tahu kan Siti, kemarau musim ini teramat panjang, teramat garang membakar penghidupan. Orang-orang macam aku harus mencari pelarian yang tepat untuk mendapatkan sesuap nasi, untuk melangsungkan kebutuhan hidup.”

“Tetapi Kang Danu, mestinya mengingat resikonya.

===========================

BIODATA PENULIS

St. Sri Emyani, nama lengkapnya Slamet Sri Mulyani putri dari almarhumah Ibu Arsini. Sekitar tahun 1987- 1996 banyak menulis laporan seni, budaya dan pariwisata. Tulisan sastranya banyak tersebar di majalah bahasa jawa maupun Indonesia seperti; Mekar Sari, Djaka Lodang, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Simphoni, Liberty, Surabaya Post dll..

1).Novelnya yang berjudul PAGER AYU diterbitkan majalah Sarinah tahun 1994,
2). Antologi cerpen berjudul Senja Temaram Di Pantai Blado diterbitkan QLC tahun 2012,
3).Kumpulan puisi Pendidikan Kembalilah Anak Semesta diterbitkan QlC tahun 2013,
4).antologi puisi yang berjudul Memanah Daun Terbang diterbitkan QLC rahun 2013,
5).Kumpulann geguritan Tembang Dhukuh Purung diterbitkan Ssastra jawa TRIWIDHA tahun 2013,
6) kumpulan cerkak Njemparing Kembang Kecubung diterbitkan sanggar sastra jawa TRIWIDHA tahun 2013,
7) Kumpulan crita misteri Nginceng Donyaning Lelembut diterbitkan sanggar sastra TRIWIDHA tahun 2013.

Sekarang beliau mengajar Sastra dan teater di SMP Negeri 1 Panggul, angota sanggar sastra jawa TRIWIDHA dan menjadi motivator Quantum Lentera Centre (QLC) para penulis yang ada di bumi Sopal -Trenggalek. Untuk call: hp 081 332 221 004, Fb : St Sri Emyani, email : srimulyanislamet@gmail.com
*foto dibawah adalah foto beliau

Advertiser