Kamis, 12 September 2013

Trenggalek Deklarasi Gerakan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Beritatrenggalek.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mendeklarasikan gerakan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). 

Untuk menyukseskan program ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Trenggalek telah menyiapkan 17 sekolah reguler, mulai dari jenjang SD hingga SLTA yang siap menerima siswa berkebutuhan khusus.

Ke-17 sekolah tersebut terdiri dari 14 sekolah dasar (SD), satu SMP, satu SMA dan satu SMK. Khusus untuk jenjang SD lokasinya tersebar di beberapa kecamatan, sedangkan SMP, SMA dan SMk masih terspusat di wilayah kota.

Kepala Disdikbud Trenggalek, Kusprigianto mengatakan, seluruh anak yang berkebutuhan khusus akan mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. 

"Jadi, mulai sekarang tidak ada lagi diskriminasi, semua anak-anak Trenggalek berhak untuk mendapatkan pendidikan, baik itu yang normal maupun berkebutuhan khusus," katanya.

"Untuk sementara pilot project-nya ada 17 sekolah itu, namun kedepan akan terus kami tingkatkan. Khusus untuk SMP kami tempatkan di SMPN 6, sedangkan SLTA di SMA 2 Trenggalek dan SMKN 2 Trenggalek," ujarnya.

Penerapannya, anak-anak yang berkebutuhan khusus dapat belajar di sekolah reguler, layaknya anak-anak normal lainnya.

Disinggung mengenai tenaga pendidik yang akan membimbing, Kusprigianto mengklaim telah menyiapkan guru khusus dimasing-masing sekolah.

"Mereka sudah mendapatkan pembekalan serta pendidikan yang mumpuni terkait anak-anak berkebutuan khusus, sehingga orang tua tidak perlu khawatir," imbuhnya.

Deklarasi dilakukan di Alun-alun Kota Trenggalek dan diikuti oleh ribuan guru dan sejumlah anak berkebutuhan khusus dari berbagai pelosok desa di daerah tersebut.

Suasana semarak terasa saat sejumlah anak berkebutuhan khusus unjuk kemampuan olah vokal dan bermain band di sela seremoni deklarasi sehingga menarik perhatian sejumlah pejabat di Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sementara itu, terkait stigma buruk serta diskriminasi yang selama ini terjadi, orang nomor satu di Dinas Pendidikan Trenggalek ini menjamin tidak akan ada lagi.

Sebelumnya, pihaknya telah memberikan penyuluhan serta pemahaman ke masing-masing sekolah, baik itu guru maupun muridnya agar tidak membeda-bedakan antara satu dan lainnya.

"Mereka harus sejajar, makanya masing-masing guru harus memberikan pemahaman juga terhadap anak didiknya agar berperilaku yang sewajarnya terhadap siswa yang berkebutuhjan khusus.

Namun sayang, kus mengaku dinasnya belum memiliki data lengkap mengenai jumlah anak berkebutuhan khusus yang ada di wilayah Trenggalek. Untuk itu pihaknya bakal bekerjasama dengan pemerintah desa untuk melakukan pendataan secara menyeluruh.

"Nantinya apabila data itu telah lengkap, harapannya seluruh nak di Trenggalek mendapatkan pendidikan yang layakn kami juga berharap, orang tua anak ABK jangan sampai minder, mereka harus optimis dan semangat demi masa depan anaknya," pungkasnya.

Sumber: antarjatim.com

Advertiser