Minggu, 01 September 2013

TKI Asal Mlarak Ponorogo Tewas Kecelakaan di Arab Saudi

Berita Ponorogo - Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI), tewas mengenaskan paska mobil yang dikemudikannya mengalami kecelakaan di Arab Saudi.

TKI itu adalah Trimo Bin Kaderi (52) warga RT 02, RW 02, Dusun Siwalan I, Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.

Korban yang sudah bekerja sebagai sopir pribadi majikannya, Mohammad Said warga Kota Baha, Jedah, Arab Saudi itu, meregang nafas terakhirnya saat mobil yang dikemudikannya mengalami kecelakaan.

Korban Trimo berangkat melalui PT Panca Banyu Ajisakti yang beralamat di JL Cilangkap Baru 48 Jakarta. Korban dikabarkan meningal karena mobil yang dikemudikan mengalami kecelakaan saat mengantar majikan perempuannya bertabrakan di salah satu perempatan di Arab Saudi.

Kematian korban melengkapi jumlah TKI yang tewas di Arab Saudi. Sebelumnya, 28 April 2013 lalu, Wahyudi Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung juga tewas di Arab Saudi dengan kasus yang sama.

Kasus kecelakaan itu, terjadi Rabu (28/8/2013) pagi. Namun, pihak keluarga di kampung halaman korban, baru mendapat kabar kematian bapak 2 anak dan 1 cucu tersebut, kali pertama, Jumat (30/8/2013) malam, paska salah seorang teman Trimo yang berada di Arab Saudi memberikan kabar duka itu kepada keluarga korban di kampung halamanya.

Berdasarkan kabar yang disampaikan teman korban melalui telepon itu, mobil yang dikemudikan korban tabrakan Rabu pagi. Namun, baru sehari kemudian, Kamis (29/8/2013) korban meningal saat menjalani perawatan di salah satu Rumah Sakit di Arab Saudi. Kabar tewasnya Trimo menjadikan pukulan berat bagi Siti Rohani (45) istri korban. Pasalnya, istri korban 2 tahun lalu ikut menjadi TKW di Arab Saudi.

Saat itu majikan korban dan istrinya sama. Karena satu keluarga itu, korban dan istrinya saat di Arab Saudi oleh PJTKI dicarikan satu majikan. Karena Siti Rohani tidak betah berpisah dengan anak-anaknya yang ditinggalkan di Ponorogo, akhirnya baru 2 bulan di Arab Saudi dan sudah bekerja serumah dengan suaminya, Siti malam meminta ijin pulang ke kampung halamannya.

"Saya dulu ikut bekerja disana dan satu majikan. Tetapi karena saya ingat anak terus membuat saya tidak betah hingga akhirnya baru 2 bulan saya minta dipulangkan. Sejak itu suami saya kerja sendiri disana. Baru Jumat malam kemarin kami mendapat kabar suami saya meninggal karena kecelakaan mobil yang di sopirinya," terang istri korban kepada Surya, Minggu (1/9/2013) sembari menemui puluhan  pentakziah di rumah duka.

Selain itu, ibu 2 anak 1 cucu itu mengungkapkan mengenai pemulangan jenazah suaminya dirinya hanya pasrah. Namun, jika pemulangan jenazah memakan waktu sampai 2 bulan layaknya TKI asal Sampung sebelumnya, dirinya berharap agar jenazah suaminya dimakamkan di Kota Mekkah.

"Kalau dimakamkan di Mekkah saya rela. Karena sebelumnya suami saya memiliki hajat dan menyampaikan ke saya, tahun ini akan menunaikan ibadah haji dari rumah majikanya. Namun harapan hajinya belum terlaksana sudah meninggal. Kalau dimakamkan di Mekkah tidak masalah, tetapi kalau di kota selain Mekkah biar diantar pulang ke kampung halaman saja," imbuhnya.

Sementara, anak kedua korban Ferdi (20) mengungkapkan berdasarkan rapat keluarga sudah memutuskan jika dimungkinkan jenazah bapak kandungnya dimakamkan di Arab Saudi.

"Karena informasi kepualangannya lama hingga dua bulan. Tetapi, kalau bisa dua minggu, kami minta dipulangkan untuk dimakamkan disini (kampung kelahiran korban). Jika terlalu lama dibiarkan jenazahnya kasihan Bapak saya. Sekarang semua saya serahkan ke mbah Lurah termasuk mengenai informasi dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Pemkab Ponorogo maupun PT yang memberangkatkan bapaknya itu.
Kami juga menunggu upaya saudara yang di Arab yang mengurusnya ke KBRI," ungkapnya.

Sedangkan salah seorang tetangga dan kerabat korban, Anas (41) yang rumahnya kebetulan berdampingan dengan rumah duka menyatakan untuk mengurus semuanya sudah diserahkan ke keluarga dan sanak sadara yang di Arab Saudi.

"Semua adminitrasi dan lainnya yang berkaitan dengan meninggalnya Pak Trimo sudah diurus saudara kami d KBRI. Jika nanti lewat banyak tangan, takut dibelakangnya terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Biar semua terkait kepengurusan jenazah, jika dimungkinkan asuransi juga akan saya mintakan langsung tidak perlu melalui PT.
Dulu memang bisa cair dengan tidak ada potongan dan uang langsung bisa masuk ke rekening keluarga almarhum. Saya tidak mau kalau ada yang mengaku bisa mengurus semuanya, tetapi ujung-ujungnya potongan, karena kita ini masih di rundung duka," tandas Anas

Sumber: tribunnews.com

Advertiser