Rabu, 04 September 2013

Novel: PAGER AYU [Bagian 2]

PAGER AYU (II)
Oleh : St Sri Emyani 
(Asli Wong Nggalek)

Sebelum melanjutkan membaca! Sudakah membaca PAGER AYU Bagian I? Jika belum membaca Klik disini

Matahari kurang begitu terang, karena gumpalan awan tipis mengurungnya.
Sebenarnya sudah kupersiapkan mantel dan keperluan lain, untuk berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu hujan mengganggu. Di samping itu, untuk menahan serangan hawa dingin aku telah mempersiapkan jaket tebal. Dahulu pun ketika masih di Plongkowati, sebernanya setiap kepergian yang memakan perjalanan panjang, aku sering di bonceng oleh Vespa ayahku.

Tetapi semenjak di kota, aku memang jarang naik kendaraan roda dua, satu atau dua kali, ada kawanku yang sengaja menawarkan kendaraan untuk kusinggahi, tetapi aku kurang berminat, termasuk terhadap kendaraan Mas Tomy pacarku, paling-paling baru sekitar tiga kali aku memboncengnya, dan terus terang dari pada dibonceng kendaraan, aku memang lebih menyukai berjalan kaki. Kalaupun jauh, angkota,atau bis umum yang menjadi pilihanku.

“Masih jauh Jon?” 
Tak ada kata jawaban, barangkali telinga lelaki yang sedang menguasai setir di depanku itu tengah dikuasai oleh deru mesin. Karena itu aku pun mengulangnya lebih keras, dan penuh posisi. “Masih jauh perjalanannya?”
“Mana aku tahu Mbak, ya kita lihat aja tulisan-tulisan di kanan-kiri jalan, tetapi kalau menurut pengarahan dari kawanku itu ya agak cukup jauhlah.”
Agak dongkol juga aku. Sebenarnya aku agak risi kalau berurusan dengan dukun, paranormal dan seputarnya, terus terang aku terhadap praktek yang dilakukan oleh paranormal dan sejenisnya, disamping kurang ilmiah, ada kesan terkadang berlaku ngawur, dan ‘sembrono’, lebih dari itu dukun biasanya mengandalkan kepekaan pengalaman serta naluri, dari pada menggunakan rasio ataupun perlatan yang lain.

“Jon, aku takut jangan-jangan.” 
 Jono pun menghentikan kendaraannya.
 “Kenapa?”
 “Yah, gimana ya, resikonya itu lo, yang kurang kuminati.” 
 “Lha, kata Mbak Tami, dokter tak punya kesanggupan lagi.”
 “Bukan tak punya kesanggupan.”
 “Habis kata Mbak Tami.”
 “Lihat-lihat posisinya, sekarang ini abortus kan memang diperketat, apalagi kalau alasan atau argumen yang kulontarkan cuma masalah kecelakaan, pastilah mereka akan angkat bahu.” 
“Kok angkat bahu.”
 “Lha gimana mustinya memang aku menjelaskan lebih rinci tentang aborsi yang akan kulakukan pada dokter yang akan menangani Jon, tetapi kamu sendiri kan tahu, bagaimana mungkin aku menjelaskan tentang latar belakang kehamilanku pada mereka, kamu kan tahu bagaimana mungkin aku memberi penjelasan tentang ini semua, akan kuletakkan dimana mukaku, karena itu aku lantas memilih jalan yang lain.” 
Angin pagi bergerak lembut, ada juga temari yang disuguhkan oleh segenap daunan yang berjajar dipinggir jalan. 
 “Maafkan aku Mbak Tami”. 
Sebenarnya sudah sering aku dengar pernyataan yang senada itu, dari bibir adik sepupuku itu, tetapi entahlah melihat roman muka Jono yang kelihatan lain, yakni kusut dan murung, hatikupun terasa ‘trenyuh’.
“Sudahlah Jon, dalam hal ini bukan kamu semata yang bersalah, kita telah sama-sama melakukannya.”
“Tapi Mbak, sayalah yang memulai, sungguh benar-benar aku seperti kehilangan kesadaran waktu itu, adegan yang kita tonton dilayar film itu benar-benar melupakan semua, melupakan aku terhadap diriku sendiri sekalipun.”
Melalui celah daun, hangat matahari singgah di kulit dan pori-poriku.
“Aku juga, juga tak lepas dari perkara, toh bukan kamu yang punya inisiatif nonton waktu itu, akulah yang menjadi biang dan penyebabnya, aku tak sadar kalau daya emaginasimu bisa melayang pada gugusan lain, sampai kamu lupa siapa kita, aku pun juga terlalu ‘sembrono’ dalam hal ini, bukankah disini mestinya aku yang harus lebih waspada, lebih memahami akibat yang akan terjadi, tetapi nyatanya, semuanya berlangsung sejenak, dan berakibat seperti ini.”
“Mbak Tami, bagaimana nanti kalau Mas Tomy mengerti, bagaimana Mbak?”

Aku diam terpaku. Tak sanggup aku membayangkan tentang itu, bagaimana seandainya Mas Tomy mengetahui tentang yang kusandang, sungguh teramat besar aib yang kusandang, bagaimana nanti kalau pacarku itu mengetahui keadaan diriku yang sebenarnya, bagaimana, teringat itu aku pun meruntuhkan kesedihan melalui genangan air mata.

Barangkali lantaran merasa iba,lantas tangan Jono bergerak bersama sapu tangan, tak sadar aku menghindar, rasa jangan menelusup ke celah nurani wanitaku. Paling tidak dalam kondisi sadar seperti itu aku tahu siapa Jono, dia adik sepupuku, kalau yang melakukan itu Mas Tomy tentu andaikan aku menolak itu pun hanya sebagai alasan, soalnya yang sebenarnya kalau aku jujur, sebagai wanita yang romantis dan penuh sentuhan pun masih kubutuhkan.

“Maaf....”
“Ah, nggak,” aku menggeleng, kemudian lurus pandang mataku menerawang ketengah lautan hidup, entah bagaimana nanti kejadian yang akan menimpa diriku. Sementara yang tahu ini tentang kondisiku, hanyalah aku sendiri dan Jono, disamping itu dokter yang menanganiku tempo hari pun turut mengetahui, tetapi paling-paling mereka hanya tahu kalau aku positif tentang siapa janin atau ayah calon jabang bayiku, mereka jelas tak tahu. Andaikan tahu, tentu saja mereka akan geleng-geleng kepala, seorang gadis hamil dengan adik sepupunya, hanya karena ‘kesembronoan’nya.
“Mbak Tami menangis lagi?”
“Ah, tidak,” aku mengelak.
“Maafkan aku Mbak, aku tahu Mbak Tami seperti tersayat, Mbak Tami sangat menderita, dan sekarang pun mestinya Mbak Tami kuliah, tetapi akibat ulah yang kuperbuat , semuanya menjadi tak karu-karuan.”
“Sudahlah Jon, ayo kendarai lagi Vespamu!” Lelaki muda yang kumisnya tengah tumbuh rintik-rintik itu mengangkat kaki, kemudian dengan kaki kanannya pedal starter berusaha dikayuh, tetapi kali ini Vespa tak mau berbunyi, masih hanya meletup laksana orang batuk setelah itu kendaraan kembali diam.
“Waduh celaka?”
“Kenapa?”
 “Ngadat.” 
“Ini Vespa siapa sih?”
 “Yoyon, Vespa Yoyon ini tadi kupinjam ketika si empunya mengikuti mata kuliah dsar umum.”
 “Dan kamu sendiri.”
 “Ah, Mbak Tami ini.”

Meskipun dalam suasana pahit, Jono berusaha melepas tawa,begitu juga aku, pertanyaan yang kutujukan adik sepupuku itu tadi, tak lebih dari sekedar basa-basi. 
Ternyata kendaraan biru laut itu memang rewel, hampir lima kali kaki Jono digerakkan, tetapi hasilnya tetap sia-sia, mesin motor itu enggan bersuara.
“Wah, payah.”
 “Bagaimana ini Jon?” 
 “Lha, ya itu Mbak, wah, payah kalau begini, coba aku lihat businya.” 
Kendaran itu digiring ke pinggir jalan. Sementara ada juga perasaan iba di hatiku, dengan peluh membintik dikemeja, adik sepupuku itu terus mengayuh pedal mesin, tetapi hingga berkali-kali kendaraan itu tetap diam tak bergeming.
“Celaka Mbak.” 
 “Barangkali busi atau peralatan lain .” 
“Aku belum biasa dengan skuter macam begini.”
 “Kenapa tadi pinjam sepeda motor, kan kita bisa menggunakan jasa angkutan yang lain.” 
 “Maksud Mbak Tami, naik angkudes, atau yang lain?” 
Aku mengangguk.
 “Wah, nggak bisa, jalannya itu, tak selamanya selebar ini, nanti pada gilirannya, kita musti menembus jalan yang berkelok berliku dan tak berasapal.” 
“Kan bisa menyewa ojek di sana, dekat pasar, dari pada bawa kendaraan teman , tak tahu slahnya kalau macet begini kan lebih repot.”
“Sudahlah Mbak, coba kuperbaiki dulu.” 
 Adik sepupuku itu kembali mencoba membongkar-bongkar, bagian yang diperkirakan menjadi penyebab mogoknya kendaraan itu. Dan tiba-tiba tawanya lepas. 
“Aduh, dimana bisa bunyi, lha ini.”
 “Kenapa?”
 “Bensinnya habis.” Aku tak mampu lagi menahan rasa geliku, tetapi hanya sejenak , kemelut dan pahitdihatiku kembali menerjang. 
 “Kita belikan bensin.” 
“Dimana?” 
“Ya kita jalan dulu Mbak, biar kutuntun, lha disini juga yang ada cuma sawah dan rerumput.” 
Terpaksa aku mengangguk, habis mau bagaimana, mengikuti perasaan sebenarnya agak masygul juga, tetapi mau habis bagaimana lagi.
Sesekali kendaraan yang melintas sempat mengamati gerak kami, para sopir atau kernet colt dan penumpang kendaraan umum, barangkali mengira kami ini pasangan kekasih. Dan menhadapi lirik atau lotot mata mereka itu aku hanya mampu merunduk.
“Masih jauh?” 
 “Mana saya tahu Mbak?”   
“Kita selalu mendapat sial, barangkali ini kutukan Tuhan, sebenarnya aku tak rela kalau harus menggugurkan kandungan, ya Tuhan, menggugurkan janin, betapa akan besarnya dosa kita, dosaku terutama.”
Aku mengeluh, diluar dugaan Jono bersorai lirih. “Lihat Mbak itu didepan ada penjual bensin.”
Lelaki yang duduk di kursi rotan itu tampaknya belum begitu tua, sosok tubuhnya yang berbentuk aneh memang sempat menimbulkan rasa aneh di hatiku. Dan akupun semenjak semula sudah merasa geli.
“Jadi itu tujuan sampeyan berdua kesini?” 
Aku mengangguk, tadi pun ketika aku melirik kesamping kulihat Jono melakukangerakan yang sama.
“Khabar dari mana sehingga sampeyan berdua sempat menangkap praktek yang kulakukan?”
“Sudah cukup banyak Ki, suara-suarayang masuk dikedua telinga kami, sehingga kami nekat kesini, dengan tujuan seperti yang kami katakan tadi.”
“Tunggu sebentar Dik, apakah sampeyan berdua ini pasangan suami istri?”
Aku dan Jono hampir bersamaan memalingkan kepala,kemudian kami pun saling membisu, hanya kata-kata dalam bahasa mata yang saling kami lepaskan, sejurus akan mengerdip dan Jono tampaknya tanggap.
“Bagaimana Dik, apakah sampeyan berdua ini sepasang calon ibu dan bapak anak yang dikandung oleh....”
Jono mengangguk.
“Sampeyan berdua pacaran?”
Kali ini, kulirik kembali Jono dalam keadaan bimbang dan termangu.
“We, lo, bagaimana to ini, sampeyan jawab pertanyaanku itu?”
Merasa yang lebih tua aku bergerak, serta terpanggil karena itu segera aku beringsut maju.
“Begini Pak, aku dan kawanku ini memang pasangan calon ibu dan bapak anak yang kukandung ini, tetapi kami masih dalam taraf pacaran, artinya kami berdua masih belum siap menikah, belum siap menjadi ibu dan bapak, tetapi terus terang yang kami lakukan memang telah keluar jalur dan mestinya hanya boleh kami tempuh setelah kami sah menjadi pasangan suami istri.”
Dukun jenggot panjang itumengangguk-angguk tampaknya ia mulai paham atas keteranganku.
“Jadi gamblangnya sampeyan berdua ini berkasih-kasihan, tetapi salah jalan, sehingga yah tak usah kuulangi yang pasti sekarang ini sampeyan berdua belum sempat,eh belum siap mempunyai keturunan.”
Aku mengangguk membenarkan.
“Baiklah kalau begitu, kujelaskan saja, begini, aku memang seorang dukun, tetapi bidangku lain Dik, bukan urusan jabang bayi.”
“Lantas?”
“Sampeyan berdua salah jalan.”
Aku kembali menoleh, kebetulan pandang mata Jono pun sama-sama menuju kearah pandang mataku,sejurus kami kembali berpandangan.
“Bapak ini kan seorang dukun?” Jono bertanya agak gagap.
Lelaki jenggot panjang itu mengangguk.
“Benar apa yang sampeyan katakan, aku memang seorang dukun, tetapi urusanku bukan soal jabang bayi, atau soal anak, terus terang dalam urusan pengguguran kandungan aku sama sekali tak mengerti!”
“Bapak ini bagaiman to, tadi bapak bilang seorang dukun, kok sekarang...?”
Lelaki jenggot panjang itu terkekeh, sambil mengusap-usap kumisnya yang tumbuh jarang.
“Dukun itu ‘kan macam-macam. Aku ini dukun sunat, dulunya, tetapi sekarang menjadi dukun tiban.”
“Dukun tiban, dukun tiban bagaimana?”
“Dukun tiban itu,ilmunya datang secara mendadak dan tiba-tiba.”
“Maksud Bapak?”
“Begini, dulunya aku memang dukun sunat, tetapi sekarang telah berubah menjadi dukun tiban, soalnya menjadi dukun sunat toh kalah pasaran dengan Mas Mantri kesehatan, gamblangnya sudah tak laku lagi, lha sekarang ini kalau ada sanak sedulur yang kesurupan roh halus, atau mendapat sandungan karena ulah syetan gentayangan, lha itu urusanku, terus terang kalau soal bayi, aku memang belum pernah praktek, apalagi untuk menggugurkan orok,wah, ‘amit-amit’, maaf saja, aku tak berani, hanya kalau sampeyan berdua sudi mencari, aku punya kenalan, tak jauh tempatnya dari dukuh ini, tetapi kalau sampeyan nekat, baiklah...”

Lelaki jenggot panjang itu kemudian memberitahukan suatu alamat.
Tak lama kami bertemu, karena kami rasa memang salah jalur, kami pun pada akhirnya memohan diri.
Dengan sikapnya yang ramah dan lucu, lelaki jenggot panjang itu mengantarkan kami hingga ke halaman rumah dan tadi sempat menitipkan kata-kata yang membuatku semakin geli.
“Kalau butuh ‘pengasihan’ atau yang lain-lain, silahkan kesini, atau ada sanak dan kenalan yang membutuhkan ilmu-ilmu aku sanggup mengusahakannya.”
Sebenarnya aku merasa geli melihat lelaki aneh itu, disamping orangnya lucu, bicaranya yang blak-blakan menimbulkan suasana akrab dan supaya tidak menyinggung perasaannya, aku dan Jono sama-sama mengangguk.
Matahari kian menukik, pancaran sinarnya, kini tak lagi bisa diabaikan. Sementara itu, aku dan Jono telah menjalin kesepakatan untuk mengikuti alamat yang ditunjukkan oleh Ki Suroniti yang lucu.
“Kamu ini benar-benar gila!”
“Gila bagaimana to Mbak, namanya juga usaha.”
“Usaha sih usaha, tetapi cari dong informasi yang lengkap dulu baru dibuktikan.”
“Lho, aku ‘kan sudah mendapatkan informasi yang lengkap tentang Ki Suro, menurut si Yudi, Ki Suroniti itu orangnya sakti.”
Aku terkekeh.
“Mbak Tami, tertawa mengejekku ya?
“Tentu, karena kamu memang ‘bego’, itu kan dukun sunat, urusannya ‘kan lain.”
“Tetapi Yudi mengatakannya lain. Menurutnya Ki Suro itu serba bisa, malah banyak akhir-akhir ini yang datang berkunjung ke rumah Ki Suro, untuk urusan nomor buntutan.”
Kembali aku tertawa, teramat lucu memang, akibatnya duka yang mengendap di celah hatiku, meskipun dalam kadar yang sedikit menyisih juga.
“Mbak Tami tak percaya, kalau lelaki tadi lelaki sakti?”
“Sakti sih sakti, tetapi kalau disuruh memijit perutku, dia ‘kan merasa kurang mampu Jon, lagi pula, kamu ini benar-benar kurang ajar, masa dukun lelaki itu kau sodorkanpadaku!”
“Lho, apa bedanya to Mbak, ‘kan yang penting tujuan kita ke sana utuk mencari kesembuhan.”
“Kesembuhan?”
“Eh, maksudku, kita ke rumah Ki Suroniti tadi kan untuk berobat.”
Aku kembali terkekeh.
“Lain kali kalau beusaha ke suatu tempat itu ya di timbang-timbang dulu, dinalar-nalar dulu, ini tadi sedikit banyak kita kan kedodoran telah membuat bohong-bohong lagi.”
“Sudahlah Mbak, jangan salahkan aku melulu.”
Aku diam, meskipun matahari kian berani menyengat kulit, tetapi entah dalam waktu yang seberapa lama tadi hatiku kembali riang. Bias-bias beban yang menggamit di dada menyisiholeh keganjilan yang selama ini tak pernah kujumpai.
“Tadi menurut keterangan lelaki jenggot panjang, sehabis jalan dekat KAMLING, kita diharuskan belok kiri.”
“Tetapi Mbak, yang kiri kan belum aspalan, seperti itu lagi jalannya.”
“Kan namanya saja kerumah dukun, mustinya memang identik dengan kesepian, seperti di film-film horor buatan Indonesia kan begitu, jalanya yang rumpil-rumpil,juga rumahnya biasanya terisolasi, bahkan cenderung ke tempat terkucil, lebih-lebih dukun santhet.’
“Ah, Mbak Tami...”
Mendadak Jono mwnghentikan kendaraan dan tanpa mematikan mesinnya langsung ngeloyor.
“Lho, kemana?” 
“Cari petunjuk.” 
Kuamati gerak kaki adik sepupuku itu, tegak dan penuh irama. Dan Jono memang bertubuh atletis kekar berisi.

Mendadak dalam benakku terbayang seorang gadis yang bakal memiliki adik sepupuku itu, menurut pengakuan Jono, dahulu memang ada gadis yang ditaksir, gadis itu dari Plongkowati juga, dan kini melanjutkan kuliah di Surabaya.

Membayangkan tentang gadis yang menjadi kekasih adik sepupuku itu mendadak ada gelora lain yang diam-diam menggamit hati wanitaku, meski dalam kadar yang sedikit aku merasa cemburu. Aneh dan aku kadang merasa heran pada diriku sendiri,mengapa musti punya pandangan seperti itu, ataukah karena Jono pernah mengumpuli diriku, meski dalam kondisi kurang sadar, benarkah karena secara tidak sadar dahulu, aku dan Jono pernah menunaikan sesuatu seperti layaknya suami stri, lantas tiba-tiba aku merasa memiliki, ya Tuhan kututup mukaku sendirian, kubayangkan betapa jalan yang kulalui adalah jalan lepas, jalan pincang, dan barangkali di dunia ini, hanya aku dan Jono yang pernah menjalani, yang pernah melakukannya, sebuah lorong yang salah dan pada akhirnya membawa kesengsaraan.

Ya, ampun, aku benar-benar merasa malu, aku benar-benar merasa jengah, jalan yang kulewati meskipun diluar keinginanku adalah jalan yang benar-benar konyol, paling tidak buat masa depanku sendiri. Tuhan, mengapa yang seperti ini bisa menimpa diriku, aku menjerit, aku jengah, aku malu, karena itu kuangkat telapak tanganku, dan menutup mukaku.
“Lo, kok seperti anak kecil.”
Aku tak menyahut, aku tak menjawab, aku tahu pemilik suara itu dan tiba-tiba saja aku kembali tersedu.
“Mbak Tami, kok menangis lagi?”
Aku diam dan aku memang tak menjawab pertanyaan adik sepupuku itu, aku kembali larut bersama kesedihan, bersama desah kekecewaan dan juga seribu jemari luka menuding mukaku, aku menyesal, sungguh aku kembali di lumuri oleh sesak penyesalan.
“Mbak Tami, ayolah Mbak, Mbak Tami jangan begitu, kan kita tadi sudah punya niat untuk itu.”
Aku menoleh dan kemudian berusaha menyingkirkan duka yang kembali terlepas melalui celah-celah air mata.
“Benar, jalannya yang lewat sawah itu Mbak, lha bagaimana diteruskan nggak?”
Aku diam tak bereaksi.
“Bagaiman Mbak?”
“Terserah,” lirih desah suaraku, hampir tak terdengar oleh diriku sendiri sekalipun.
“Kalau dilanjutkan, ya mari Mbak jangan begitu lagi, ya, bagaimana segalanya telah terlanjur, telah kebacut , toh disesali seribu kali tak akan kembali.”
“Kamu sih Jon tak akan menyandang getahnya, la aku ini, aku bagaimana nanti derita ini akan berkepanjangan dan tak akan selesai.”
“Lha, karena itu kita perlu berusaha .”
Tanpa diperinah aku segera duduk di tempat semula, kucoba membersihkan derai-derai duka yang runtuh bersama isakan air mata. Kemudian kualihkan pandang mataku kearah juntaian kuning padi yang menghampar, oh, betapa indahnya burung-burung itu, mereka tampaknya begitu riang dan tak mempedulikan lagi terhadap sengatan cahaya matahari, alangkah gembiranya mereka, tentunya hati burung-burung itu tetap lapang dan gembira terbang di hamparan yang kuning memikat.
Sesekali memang terasa ada guncangan- guncangan roda, tetapi sajian pemandangan di depan mataku meminta perhatian tersendiri, hingga akupun lelap menghayati yang ada di hamparan sawah membentang.
Turun dari kendaraan, aku termangu-mangu, rumah itu oh, rumah dihadapanku itu terletak persis dibawah rerindang pohon beringin.
Tanpa banyak penimbangan, Jono segera meraih lenganku. Entah mengapa aku tak menolaknya, kami pun kemudian berjalan berbimbingan.
Sampai dua kali menyerukan salam, tetapi kesunyian suasana yang menerima.
“Nggak ada orangnya.”
“Aduh, serem amat, di Plongkowati sebenarnya sepi Jon, tetapi kukira tak sesunyi di sini, rumah Mbah Dukun itu mirip di kisah Film-film Indonesia.”
“Ah, Mbak Tami, sudahlah jangan dipermasalahkan tentang itu, tujuan kita ke sini kan untuk itu, untuk menggugurkan kandungan bukan untuk yang lain-lain.”
Untuk yang kelima kalinya Jono menyuarakan salam, kali ini lebih keras.
Mendadak dari belakang terdenganr suara melengking kecil, hampir saja aku meloncat karena kaget. Tetapi begitu kulihat yang datang, akupun segera mengulurkan senyuman.
“Mencari siapa Mbak dan Mas?”
Aku beriam diri, dan tak tahu pasti, siapa si empunya yang punya rumah yang kutuju itu.
“Mbah Suliah ada?”
“Oh, simbah, tadi ada kok, soalnya tadi malam ada yang melahirkan, dan simbah pulang menjelang subuh tadi.”
Aku bergidik membayangkan.
“Ada yang mau melahirkan ya?”
Aku dan Jono serempak menggeleng. Tampaknya perempuan kurus itu terheran-heran, tetapi tanpa banyak tanya sepasang kakinya yang lincah segera bergerak ke belakang rumah, dan tahu-tahu pintu depan rumah yang kami kunjungi terbuka.
“Silahkan masuk Mbak dan Mas.”
  Aku mengangguk, dan selanjutnya bergerak memasuki tangga batu yang agak banyak di tumbuhi lumut itu. Sesampai di dalam, kesan ‘angker’ itu kembali kutemukan. Dan entah kemana perempuan kurus tadi menghilang, kini yang terdengar ditelingaku adalah suara orang terbatuk-batuk.
“He he he he sudah lama?”
Jono mengangguk.
“Ada keperlusn apa?”
“Ah, anu Nyi.” Sejenak Jono menoleh ke kanan dan kiri, setelah dirasa aman, kemudian setengah berbisik ia menuturkan tujuan kami. “Jadi ibu ini yang...”
Aku diam menahan jengah, sebutan ibu yang ditujukan padaku benar-benar menimbulkan konotasi lain. “Sudah berapa bulan?”
Kembali Jono menjawab dan tekanan suaranya kali ini lebih rendah.
“Yah, maaf,ya, keadaannya sperti ini, lha tadi sampeyan berdua, siapa yang memberitahu, eh, siapa yang memberi petunjuk?”
“Ki Suroniti.”
Jawaban Jono kali ini lebih keras, dan watak vokalnya pun berkumandang jelas.
“Oh, Kang Suro, dia itu dulu menjadi suamiku, tetapi kami kemudian sepakat mengadakan perpisahan, kami telah cerai sekitar dua puluh tahun yang lalu, selanjutnya Kang Suro menggunakan ilmu lanang dan saya ilmu wadonnya, tetapi kami sama-sama menganut ilmu tulak balak untuk tetulung sanak saudara yang membutuhkan.”
Mendengar nada suara perempuan yang bermata tajam itu aku bergidik, ada kesan lain di vokal yang disuarakan.
“Eh, Nyi, tampaknya Nyi baru bangun tidur, ya?”
Perempuan itu terkekeh, dan tawanya terasa amat ganjil.
“Dari Tumpak Sukun ada yang melahirkan, subuh tadi aku pulang, karena itu kutukar tidurku semalam dengan yang sekarang, tetapi tak apalah, sampeyan berdua kesini tampaknya memerlukan saya.” 
Aku mengangguk.
“Ya, urusan itu tadi Nyi, mudah-mudahan Nyi sudi menolong kami,” lantang Jono bicara, kali ini lebih berani melepaskan suara. “Nanti dulu, sampeyan berdua ini, kakak beradik ya?”
Aku mematung.
Gugup Jono menjawab dengan kebohongannya. “Begini Nyi kami berdua ini adalah pasangan....”
“Pasangan calon istri?”
Jono mengangguk
“Kalau begitu yang tua yang perempuan ya, sampeyan kelihatannya lebih tua dibanding dengan mas ini?” Nyi Suliah menunjuk mukaku, akupun kebingungan.
“Benar Nyi, tetapi pasangan sekarang kan tidak mempersoalkan usia,” Jono kembali menjawab.
“Ah, tetapi sampeyan berdua nanti musti berpikir panjang lagi ya, soalnya kalau hanya nguber senang, nanti jangan-jangan tinggal sesalnya saja yang ada, tetapi itu terserah sampeyan berdua, sebab yang akan nglakoni itu, ya sampeyan berdua ini, bapak dan ibu sampeyan berdua kan hanya nyawang.”
“Tetapi Nyi, kami berdua sama-sama cocok,sudah sama-sama senang.”
“O, begitu ya, pantas, jadi rencana sampeyan berdua ke sini untuk itu, untuk menggugurkan dulu kandungan yang terjadi, karena keterlanjuran itu, ya monggo kalau begitu, sebentar dulu, kalau sampeyan berdua sudah saling senang, saling suka, mengapa nggak nikah saja, nikah dan berumah tangga kan nggak ada masalah, itu calon bayi nanti kalau keluar kan menjadi momongan yang montok dan lucu.”
Untuk yang kesekian kalinya aku dan Jono saling berpandangan.
“Bagaimana, ini cuma memberi peringatan, mumpung belum kadung.”
“Tapi Nyi, kami ini belum bersedia menjadi suami istri.”
“Lo, gimana to ini, tadi sampeyan sudah saling seneng, saling suka, kok.”
“Anu Nyi, jelasnya kami berdua ini masih ingin bebas.”
“Wah, mana bisa begitu, kalau ingin bebas, ya jangan tidur berdua dulu to Mas, ini kan kesalahan sampeyan berdua, terlalu ‘sembrono’, ayo ngaku ini kan tak diketahui bapak ibu sampeyan to?”
Serempak aku dan Jono menggeleng. Dan Nyi Suliah pun terkekeh.
“Anak-anak muda sekarang ya begitu, mau enaknya takut getahnya, coba kalau aku, dari pada bingung-bingung musti menggugurkan yang sudah jadi ya lebih baik kawin kan aman, soalnya bikin lagi itu belum tentu langsung jadi lo, lha ini yang sudah jadi, kan eman-eman kalau dipites, eman-eman sekali wong bagus, sampeyan tahu anak itu merupakan barang titipan, ya titipan dari Gusti Kang Akaryo Gesang, karena itu sebaiknya sampeyan pikir masak-masak dulu sebelum bertindak Mas.”
Aku merunduk.
“Tapi Nyi, kami memang masih ingin bebas, dan terus terang kami berdua ini, masih kuliah, eh, masih sebagai Mahasiswa.”
“Apa? Jadi sampeyan berdua ini masih sekolah, masih menjadi murid, ya ampun kok sembrono to Mas, lain kali hati-hati, boleh sir-siran karena sampeyan berdua ini terdiri dari wadon dan lanang, jangan ngrusak pager ayu dulu, wah kuwalat nanti. Lha tapi yang ini kan sudah terlanjur, terlanjur menjadi bubur, sampeyan berdua telah ‘nglanggar’ larangan agama, lain kali jangan terlalu ‘sembrono’ Mas dan sampeyan juga Mbak, hati-hati bergaul boleh-boleh saja menjalin percintaan tapi jangan yang neko-neko akibatnya nanti bisa lebih gawat, contohnya ya sekarang ini kan sudah nyata, akibat kesembronoan sampeyan berdua, lha pager ayu jadi rusak, padahal sampeyan berdua masih menjadi murid, masih sekolah yang berarti seluruh kebutuhan masih nyadong pada orang tua, iya kan?”
Jono mengangguk, aku pun demikian juga.
“Bagaimana, apa sampeyan tetep ngotot ingin menggugurkan calon bayi yang sudah jadi itu?”
Jono mengangguk, sedang aku merunduk diam.
“Sudah dipikir dan disepakati berdua dan nggak nesal nanti?”
Jono termangu-mangu,sedang aku masih membisu.
“Bagaimana Mas?”
“Nyi, kami berdua datang kesini, dengan maksud seperti yang kukatakan tadi, jadi lain tidak, karena itu segera sesuatunya telah kami pikir dan kami pertimbangkan masak-masak.”
Baiklah kalau tekad sampeyan berdua memang sudah bulat, ya apa boleh buat, sebagai dukun, dan sebagai orang tua apa salahnya kalau aku memperingatkan dulu kan begitu Mas. Lha kalau pekerjaan pijit memijit, lha bagaimana lagi kalau di mintai tolong, ya aku akan melakukannya, soalnya kalau aku tak melakukan aku pun sebenarnya salah, bagaimana tak salah, orang-orang kan sudah tahu kalau aku ini seorang dukun, sering memang aku memijit sanak sedulur yang memang menghendaki dipijit dengan alasan yang sama, sama seperti yang sampeyan inginkan itu, kalau tidak begitu yang lebih parah lagi kalau yang lelakinya nggak mau mengakui, sampeyan berdua masih beruntung, soalnya yang minta kupijit biasanya yang perempuannya saja, tentang yang laki-lakinya nggak tahu minggat kemana, ini sampeyan ini termasuk ganjil, sampeyan berdua telah sama-sama mengakui terutama Mas-nya ini telah mengakui berbuat, tetapi mengapa sampeyan tidak mencari jalan yang bagus, artinya menikah dan berumah tangga kan beres, nggak ada masalah lagi.”
“Tadi kan sudah kukatakn Nyi, kami berdua ini masih sekolah.”
Kembali Nyi Suliah mengangguk-angguk. “Baik kalau itu alasan sampeyan berdua, dan satu lagi yang sampeyan musti ketahui bahwa pengguguran dengan cara pijit seperti yang kulakukan itu tak selamanya membawa keberuntungan.”
“Maksud Nyi Suliah?” Jono beringsut ke depan.
“ Begini, kita ini kan cuma beusaha,sedangkan ketentuan berada di tangan Gusti yang murbeng dumadi karena itu tak selamanya pengguguran yang kulakukan menemukan jalan yang mulus, maksudku memang ada perempuan yang kutolong dan kemudian sehat lahir batinnya,tetapi banyak jugadiantara mereka yang lantas tertekan, disamping itu ada juga akibat bagi ibu yang mengandungnya.”
Mendadak mendengar keterangan Mbah dukun Suliah aku bergidi ngeri, seberkas trauma singgah di dada wanitaku, aku tertegun. Niat yang tadi membulat disanubariku mendadak menjadi kendur karena ketakutan.
“Dan sampeyan berdua sudah mempersiapkan keperluannya, termasuk sesajen untuk ini ?”
Jono memandangku, sebaliknya aku yang masih diliputi oleh kebimbangan kembali menggeleng.
“Persyaratan yang Nyi Suliah maksudkan?”
Perempuan mata elang itu memberi penjelasan panjang lebar tentang persyaratan untuk praktek yang akan dilakukan.
O”h, kalau itu yang Nyi Suliah maksudkan tentu saja kami berdua belum siap. Lha disini persyaratannya apa...?”
“Disini, tentu saja aku tak menyediakannya Mas, mustinya yang akan nglakoni yang mempersiapkan, dan kalau tak membawa ya harus cari di pasar kembang.”
Aku yang semenjak tadi di rundung oleh rasa miris dan ketakutan mendengar pengakuan Mbah Dukun tentang akibat yang akan di sandang oleh pasien itu aku benar-benar menjadi miris, menjadi ngeri dan teramat takut, karena itu sebelum Jono menjawab segera aku berangsut maju.
“Begini aja Nyi, kami mempersiapkan perlengkapannya dulu, nanti sesudah lengkap nanti tak kesini lagi.”
“Ooo, begitu, tetapi sampeyan musti memberitahu kapan kesini lagi?”
“Ya kapan-kapan saja , kalau kami berdua telah mempersiapkan persyaratan yang Nyi Suliah maksudkan itu kami akan kembali kesini.”
“Kalau memang begitu baiklah, tetapi kalau sampeyan nekat, sebenarnya saya bisa memijit, tetapi tanpa melengkapi persyaratan yang telah kutentukan tadi, aku khawatir yang Mbaurekso dan yang menjadi Danyang di dukuh ini salah terima dan kemudian menjatuhkan balak.”
Tanpa banyak basa-basi segera kuraih tangan Jono dan untuk tidak meninggalkan kekecewaan di dada dukun perempuan itu kutinggalkan beberapa lembar uang ribuan. Dari ekspresi mukanya aku dapat membaca bahwa Nyi Suliah suka pada kehadiran kami, terutama terhadap lembaran uang yang dengan ikhlas kusodorkan padanya.
Matahari telah tegak menyusuri jalan di tengah sawah rasa kalut dan ngeriku tak menyingkir juga.
“Kamu benar-benar gila Jon, kamu tahu cara memijat yang biasa dilakukan oleh dukun semacam itu.”
Jono mengunci bibirnya, sementara itu suara deru mesin tak begitu keras meraung.
“Lha Mbak Tami ini kan sebelumnya telah kuajak musyawarah, lagi pula ini kan termasuk usaha, termasuk upaya terakhir kita.”
“Aku tahu tetapi kamu harus mengenal bahwa dengan cara memijit yang tanpa beresiko yang ilmiah dan cara-cara yang bisa dipertanggungjawabkan, resikonya akan begitu besar, tegakah kamu kalau aku....” Aku tak melanjutkan kata, tetapi mendadak aku sendiri menjadi ngeri.
“Habis kita pakai jalan yang mana lagi Mbak?”
Aku tak sanggup menjawab, karena memang tak ada alternatif yang memungkinkan kami tempuh, tak ada memang jalan lapang yang bisa memberi peluang untuk membersihkan diriku sendiri dari getah noda yang telah terlanjur berlaku, telah terlanjur terjadi. Dan pemandangan di hadapan mataku tak sanggup lagi menjajikan perasaan nikmat karena hatiku bena-benar telah diliputi oleh letupan kemelut. Di bawah sengatan matahari pun diriku tak sempat lagi merasakan panas, begitu juga hamburan angin yang mendenguskan usapan sama sekali tak mampu memisahkan kekacauan yang tengah membebani dada wanitaku. Karena itu ketika Jono mencoba memberi lembar pembicaraan atau ketika saudara sepupuku itu menawarkan gurauan kata-kata yang bertujuan untuk menghiburku, aku tetap membisu, aku tetap sibuk membawa beban yang begitu mencekam yang begitu menyayat dan diam-diam air mataku tumpah dari endapan hati. ***BERSAMBUNG*** 
(Novel ini pernah diterbitkan majalah SARINAH tahun 1994)

Penasaran akan "Kisah" di atas ikuti kisah selanjutnya hanya di www.beritatrenggalek.com

Novel: PAGER AYU [Bagian 2]Di kirim & di tulis Oleh:
St. Sri Emyani


Lahir di bumi dhukuh Purung kec. Panggul- Trenggalek
Banyak menulis laporan seni, budaya dan pariwisata.
Tulisan sastranya banyak tersebar di majalah bahasa jawa maupun Indonesia.
Seperti; Mekar Sari, Djaka Lodang, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Dhamar Jati, Jawa Anyar, Simphoni, Liberty dan Surabaya Post. Novelnya yang berjudul PAGER AYU pernah diterbitkan di majalah Sarinah tahun 1994.
Belum lama ini menerbitkan antologi cerpen bersama sastrawan muda-Trenggalek yang berjudul SENJA TEMARAM DI PANTAI BLADO, kumpulan geguritan(puisi berbahasa jawa) TEMBANG DHUKUH PURUNG Dan tulisan sastra yang mau terbitkan, antologi puisi berjudul MEMANAH DAUN TERBANG, kumpulan cerkak(crita cekak) NJEMPARING KEMBANG KECUBUNG Sekarang mengajar Sastra Indonesia di SMP Negeri 1 Panggul dan menjadi motivator Quantum Lentera Centre (QLC) para penulis yang ada di bumi Sopal - Trenggalek
email : srimulyanislamet@gmail.com**
 

Advertiser