Selasa, 17 September 2013

Mantan Dirut RSUD dr Harjono Ponorogo Jadi Tersangka?

Berita Ponorogo - Penyelidikan dugaan korupsi megaproyek ruang Irna RSUD dr Harjono Ponorogo memasuki babak baru Meski terkesan lamban, namun Kapolres Ponorogo, AKBP Iwan Kurniawan menyatakan telah menaikkan status perkara itu dari penyelidikan ke penyidikan. Dengan status penyidikan tersebut maka secara otomatis penyidik telah menetapkan adanya tersangka dalam perkara itu. ‘’Sudah naik ke penyidikan sejak beberapa waktu lalu, tapi soal tersangka silakan kroscek ke penyidik saja,’’ terang Iwan Kurniawan.

Status penyidikan itu, menurut Kapolres, dilakukan atas dasar beberapa fakta hukum yang ditemukan. Di antaranya adanya pelanggaran hukum dalam pelaksanaan megaproyek senilai Rp 40 miliar tersebut. Pelanggaran itu terjadi pada saat proses lelang maupun saat penerimaan barang. Akibat pelanggaran hukum itu, maka diduga telah terjadi kerugian negara pada proyek pembangunan gedung enam lantai yang menyusut menjadi empat lantai itu. ‘’Atas beberapa pelanggaran itu kami sudah mengamankan barang buktinya. Sehingga kami berani menaikkan statusnya ke penyidikan,’’ tegasnya.

Menurut orang nomor satu di jajaran Polres Ponorogo itu, saat ini tersangka yang ditetapkan penyidik baru dua orang. Hanya saja, jumlah tersangka itu bisa berkembang lebih banyak jika ada temuan fakta dan bukti baru terkait proyek yang didanai pemerintah pusat itu. ‘’Kami masih menunggu hasil audit tentang kerugian negara. Jika audit itu sudah ada, bisa saja nanti tersangkanya berkembang lebih dari dua orang,’’ ujarnya.

Sementara itu, berdasar sumber di internal penyidik Polres Ponorogo, dua tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Irna RSUD itu berinisial YS dan KS. Dari dua inisial itu, YS mengarah pada nama dr Yuni Suryadi, mantan direktur RSUD dr Harjono. Sedang KS adalah Koesnowo pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam pelaksanaan proyek pembangunan gedung Irna.

Dua orang tersebut selama ini sudah dua kali dimintai keterangan penyidik unit tindak pidana korupsi sebagai saksi. Ketika ditanya soal dua nama itu, kapolres hanya tersenyum. ‘’Langsung ke penyidik saja biar tidak salah menebak,’’ kilah Iwan.
Sementara, Kasat Reskrim AKP Misrun juga membenarkan perubahan status penyelidikan ke penyidikan pada perkara yang dilaporkan LSM Amarta itu. Hanya saja, Misrun berkilah belum bisa menyebut nama kedua tersangka. Alasannya, keduanya saat ini belum pernah dipanggil sebagai tersangka. ‘’Memang benar sudah ada tersangkanya, tapi yang bersangkutan belum kami panggil sebagai tersangka. Nanti saja jika sudah resmi kami panggil,’’ kata Misrun.

Misrun menyatakan, saat ini pihaknya sedang berburu melengkapi data dan bukti untuk menuntaskan perkara itu. Saat dihubungi kemarin (15/9), Misrun mengaku sedang di Jakarta mencari data tambahan kasus itu. ‘’Yang pasti kami lengkapi dulu bukti-buktinya. Jika sudah lengkap bisa jadi tersangkanya bertambah,’’ pungkasnya.

Sumber: radarmadiun.info

Advertiser