Minggu, 15 September 2013

Lagi, Warga Demo Asrama Mahasiswa Universitas Kadiri

Berita Kediri - Aksi demo ratusan warga menolak keberadaan Asrama Mahasiswa Universitas Kadiri (Unik) di Kelurahan Sukorame, Kota Kediri kembali terjadi, Sabtu (14/9). Keberadaan Asrama Mahasiswa Universitas Kadiri ini dianggap mematikan usaha kos-kosan warga sekitar, Sayangnya, unjuk rasa itu dilakukan dengan melempar telor busuk ke asrama.

Meski warga melempar asrama dengan telot busuk, namun mahasiswa yang tinggal di bangunan milik  Hasan Nidlom sepertinya tak terpengaruh. Pengelola asrama bersikukuh dan tidak mempedulikan penolakan warga. Nahkan, pengelola asrama siap melayani jika masyarakat menempuh jalur hokum terkait asrama itu.

Salah satu orang tua mahasiswa, Hasan mengaku, selama ini dirinya senang jika anaknya tetap kos di asrama. Fasilitasnya juga lengkap. Mahasiswa semester tiga yang sudah keluar dari asrama, oleh orang tua kebanyakan dikoskan di luar Maskumambang. “Ini juga karena ulah warga sendiri,” jelas Hasan.

Sementara itu warga di lingkungan Maskumambang, Kelurahan Pojok mengancam akan melakukan aksi lebih besar lagi jika persoalan itu tidak mendapat tanggapan dari pemilik asrama. Dengan adanya asrama, warga merasa tersaingi dan usahanya kos-kosannya terancam mati.

Sekadar diketahui, pada Juli lalu warga Maskumambang juga mendemo asrama Unik. Demo itu dilakukan karena sejumlah usaha warga terutama kos-kosan banyak yang akhirnya tutup. Beberapa kali pertemuan untuk mencari jalan keluar, termasuk difasilitasi oleh DPRD Kota Kediri namun tidak juga membuahkan hasil.

Dalam aksi sebelumnya, ratusan warga mengaku telah habis kesabarannya. Mereka terpaksa menyegel asrama mahasiswa yang berdiri di Fakultas Kesehatan. Menurut warga, dengan berdirinya asrama ini maka penghasilan warga sekitar menjadi mati. “Karena para mahasiswa sekarang ini tidak lagi membeli makanan dan minuman di warung warga. Kemudian  mahasiswa juga tidak lagi kos atau kontrak di di rumah warga,” kata Ponisah, salah seorang pemilik kos-kosan.

Warga yang melakukan aksi demo itu kebanyakan dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka membentangkan poster dan pamphlet. Dalam orasinya sepanjang jalan, mereka menuding Hasan,  pemilik asrama telah melakukan monopoli usaha. Perbuatannya dinilai warga bertentangan dengan UUD 1945 pasal 33 ayat 4 tentang demokrasi ekonomi, peraturan daerah (Perda) maupun UU Monopoli.

Tudingan terhadap Hasan juga diwujudkan dalam berbagai spanduk dan pamflet yang bertuliskan,  “Mencari Rejeki Tanpa Permisi”, “Unik Jangan Monopoli”. “Biasanya, kata warga, mahasiswa itu sangat peduli dengan lingkungan atau orang kecil tapi kali ini kok tidak lagi. Ada apa?” katanya.

Pada Juni 2013, Komisi A dan Komisi B DPRD Kota Kediri sempat menggelar rapat mediasi yang membahas masalah Unik dengan warga yang mengatasnamakan Paguyuban Ling Mas Residen  (PLMR). Dihadiri anggota dewan, perwakilan warga, pejabat kecamatan, dan kelurahan serta perwakilan Unik. Para anggota DPRD Kediri pun meminta agar Unik tidak serta merta mengabaikan kepentingan masyarakat.

“Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unik seharusnya memprioritaskan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat sekitar dan tidak melakukan memonopoli, seperti dikeluhkan warga saat ini,” kata Anggota Komisi B DPRD Kediri, Juwito.

Sumber: Surabayapost.co.id

Advertiser