Minggu, 01 September 2013

Kisah Warga asal Pacitan, Mengukir Nasib di Dinding Perbukitan Mansang

Kisah Warga asal Pacitan, Mengukir Nasib di Dinding Perbukitan Mansang
Sebatang rokok kretek terselip di sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri Yanto (49). Rokok tersebut kemudian dihisapnya, mengepullah asap putih dari mulutnya. Dua kali menghisap rokok ia lalu mengambil botol yang berisi air putih yang berada di sampingnya. Ia terlihat sangat haus, hampir setengah air yang ada di dalam botol ukuran satu liter tersebut diteguknya. “Capek, panas. Ya, beginilah mas,” kata pria yang lebih dikenal dengan panggilan Yanto Keling tersebut.

Ya, POSMETRO, pada suatu siang di minggu lalu menemui pria paruh baya tersebut disela-sela istirahatnya mencari batu di kawasan perbukitan Mangsang, Tanjungpiayu. Siang itu Yanto tak sendiri, di situ juga Agus Riyanto, yang juga sedang beristirahat. Selain itu dibagian lain juga terlihat pekerja pencari batu yang lainnya yang terlihat sedang bekerja.

Lokasi penambangan batu bukit tersebut lebih dikenal dengan sebutan kawasan Mangsang Batu. Pasalnya, di sekitar kawasan tersebut banyak terdapat pembuat batu bata merah. Untuk sampai ke tempat Yanto  menambang batu bukit tersebut harus menempuh jalan tanah berbatu dan sedikit menanjak ke atas bukit. Jika sudah sampai di atas maka kawasan Tanjungpiayu, Perumahan Puri Agung, Mangsang, dan sekitarnya akan terlihat sangat jelas.

Yanto terlihat sangat lelah. Sesekali ia menghela nafas panjang. Tubuhnya basah oleh keringat, bahkan dari jidatnya keringat tak hentinya menetes. Tanpa mengenakan baju, Yanto sangat menikmati istirahat siangnya itu. Dengan berselonjor Yanto duduk di dekat tumpukan batu yang sudah berhasil dia cari.

Sebelumnya Yanto terlihat bekerja sangat keras. Bermodalkan alat seadanya kedua terlihat mengayunkan martil dan menghujamkannya ke pahat besi yang sudah tertancap di dinding batu. Pukulan itu Ia ulang berkali-kali hingga pahat masuk ke dalam dinding batu tersebut. Setelah satu pahat menancap, pahat yang lainnya juga ditancapkan dan dilakukan pekerjaan seperti sebelumnya. Setelah terlihat adanya sedikit rongga, Yanto kemudian mengambil linggis sepanjang dua meter. ujung linggis yang runcing kemudian ditancapkan di sela-sela batu yang sudah merekah tersebut. Dengan menggoyangkan linggis ke kanan dan kiri bongkahan batu seukuran tivi 21 inci pun berhasil diambilnya dari dinding bukit berbatu tersebut. Tak hanya sampai di situ saja. Batu yang masih berukuran besar itu kemudian ia pecahkan lagi dengan jalan memukulnya lagi dengan palu besar. Setelah pecah jadilah batu tersebut menjadi beberapa bagian. “Kalau terlalu besar, susah mengangkatnya ke atas lory,” ungkap Yanto.

Pekerjaan yang dujalani Yanto cukup berat dan penuh resiko. Saat POSMETRO berkunjung ke tempat tersebut keduanya terlihat bekerja di bawah dinding bukit yang dari ia berdiri tingginya belasan meter. Dinding bukit itu terbentuk dari hasil pekerjaan ia mencari batu tersebut. Tentunya dinding yang terjal itu bisa mengancam keselamatan Dia. Bisa saja benda asing atau bisa jadi batu berukuran kecil saja jatuh dari atas dan menimpa kepala dia. Jika kena dipastikan kepala akan bocor. Pasalnya, Yanto bekerja tanpa pengaman. Yanto hanya bekerja hanya memakai celana pendek selutut, karena panas membuka baju, kepala hanya tertutup topi, dan memakai sandal jepit.

Yanto mengungkapkan, pekerjaan itu sudah ia lakukan sejak belasan tahun yang lalu. Pria berkulit gelap sehingga orang yang lebih mengenalnya dengan panggilan Yanto Keling tersebut sangat bersukur pekerjaan yang ia lakukan itu dapat menghidupi keluarganya. Yanto mengatakan memilki empat orang anak. Anaknya yang terakhir masih duduk di kelas dua salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Batam. Pria asal Pacitan, Jawa Timur, itu sangat bersyukur tuhan masih memberinya kesehatan dan masih dapat bekerja.
Setiap hari kata Yanto, ia bekerja dari pagi hingga sore hari. “Dari jam enam pagi saya sudah mulai bekerja. Siang istirahat pulang. Selesai makan sekitar jam dua balik lagi ke sini, kerja sampai jam lima,” ungkapnya. Rumah Yanto tak jauh dari tempatnya menambang batu tersebut.

Sehari kata Yanto, batu yang berhasil yang didapatkannya tak menentu. Karena tak semua batu mudah di pisahkan dari dinding. Apalagi kalau banyak tanahnya Dia harus memisahkan tanahnya lebih dulu. Atau posisi batu berada di bawah dia harus menggalinya terlebih dahulu.

Untuk mengisi lory yang bermuatan tiga kubik setidaknya ungkap Yanto, ia harus bekerja tiga sampai lima hari. Saat ini satu lory tersebut dihargai Rp280 sampai dengan Rp300 ribu. Tergantung jenis batu karena ada batu berwarna hitam dan batu berwarna merah. Warna hitam biasanya lebih mahal dari warna merah.

Batu-batu yang berhasil dikumpulkan tak selalu langsung terjual. Kadang sudah berminggu-minggu batu ditumpuk belum ada juga yang membeli. Karena menurut Yanto, masyarakat di Batam jika membangun tidak terlalu membutuhkan batu bukit untuk membuat pondasi. Sehingga batu bukit hanya dibutuhkan untuk membuat batu miring atau orang-orang tertentu saja. “Kadang pembayaran kurang lancar. Soalnya bayarnya belakangan. Orang lory biasanya bawa dulu, baru belakangan bayar,” keluhnya.

Meski hidup sederhana dan pas-pasan keduanya tak mengeluhkan pahitnya dan kerasnya hidup. Ia sangat bersukur tuhan masih memberikan dia kesehatan dan dapat bekerja dan menghidupi keluarga. Matahari sudah tinggi. Karena hari Jumat keduanya pun mengumpulkan perkakas yang sebelumnya dia gunakan untuk bekerja. Dia pun siap-siap untuk pulang dan beristirahat di rumah masing-masing.

Sumber: posmetrobatam.com

Advertiser