Senin, 16 September 2013

Kecelakaan Lalu Lintas di Pacitan di Dominasi Pelajar

Berita Pacitan - Kesadaran berlalu lintas di  Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) ternyata masih memprihatinkan. Sebab, angka kecelakaan yang dipicu perilaku pengguna jalan masih tinggi. Dari data di Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pacitan, selama januari sampai akhir Agustus tahun ini tercatat ada 134 kasus kecelakaan lalu lintas. Ironisnya, mereka yang banyak terlibat adalah para pelajar. “Sampai kini kesadaran keselamatan berkendara di jalan raya memang masih rendah,” ucap Kepala Unit (Kanit) Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas) Polres Pacitan Inspektur Dua (Ipda) Polisi Sugeng Rusli, Senin (16/9).

Dari 134 kasus kecelakaan lalu lintas. 59 kasus atau 44 persen diantaranya melibatkan pelajar. Dari jumlah kejadian tersebut dua orang pelajar diantaranya meregang nyawa.

Sugeng menjelaskan, dengan tingginya angka keterlibatan pelajar dalam kejadian kecelakaan lalu lintas pihaknya kembali akan meningkatkan kegiatan penyuluhan. Baik tata tertib lalu lintas maupun aplikasinya langsung dilapangan. Seperti sosialisasi di sekolah maupun di lapangan melalui razia. “Diluar kegiatan itu, orang tua diharapkan ikut berperan dengan memberi pengawasan lebih. Khususnya saat akan menggunakan kendaraan bermotor,” jelas dia.

Rendahnya kesadaran menjaga keselamatan berkendara bagi para pelajar diakui masyarakat. Susianto salah satunya. Warga Kecamatan Donorojo ini merasa was-was dengan banyaknya siswa SMP yang mulai menunggang motor ke sekolah. Selain secara hukum mereka belum layak mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), perilaku berkendaranya juga membahayakan. “Naiknya (motor,red) kencang. Kadang mau belok juga mendadak dan nggak menyalakan sein,” ucapnya.

Penggunaan motor bagi pelajar yang belum cukup umur di Kabupaten Pacitan memang dilematis. Bagi mereka yang tinggal di daerah pelosok, menggunakan kendaraan roda dua dianggap lebih murah dibanding jika harus menggunakan angkutan umum. Sebenarnya sudah ada beberapa sekolah setingkat SLTP yang melarang para siswanya menunggang motor ke sekolah. Tetapi untuk menghindari pengawasan dan sanksi, siswa main kucing-kucingan. Salah satu caranya dengan memarkir motor di halaman rumah warga yang lokasinya agak jauh dari sekolah.

Selain karena terus bertambahnya volume kendaraan bermotor di jalan raya, medan jalan di Kota 1001 Goa ini cukup berat. Didominasi tanjakan dan turunan tajam. Karena akses antar wilayahnya melalui pegunungan dan perbukitan. Hanya wilayah Kecamatan Pacitan yang sebagian besar akses transportasinya datar.

Sumber: jurnas.com

Advertiser