Rabu, 18 September 2013

Duh! Parahnya Pembagian BLSM di Ponorogo

Berita Ponorogo - Kendati pembagian dan pencairan Bantuan Langsung Sementara Masyrakat (BLSM) di wilayah Kabupaten Ponorogo selesai, akan tetapi masih menyisakan sejumlah persoalan.

Salah satunya adanya kasus 2 warga Desa Cepoko, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo yang berhak mendapatkan uang BLSM itu, ternyata sebelum mengambil uangnya yang dibagikan Kantor Pos Ponorogo itu, sudah diambil orang lain.

Kondisi ini membuktikan, carut marutnya pencairan BLSM itu, justru disebabkan ketelodoran dan kelalaian petugas Kantor Pos Ponorogo. Pasalnya, jika pemilik kartu belum mengambil uang senilai Rp 300.000, namun dalam kenyataan uang itu sudah bisa dicairkan orang lain yang tak jelas identitasnya.

Kedua warga Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun yang berhak menerima bantuan kompensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), tetapi sebelum mengambil dan mencairkan uangnya sudah dicairkan orang lain itu adalah pasangan suami istri Parijo (38) dan Partini (33) warga RT 01, RW 02, Dusun Ngandel, Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo.

Ironisnya lagi, para pemilik kartu BLSM itu, justru dipingpong oleh petugas Kantor Ponorogo sejak 2 hari terakhir. Yakni dipaksa mondar mandir dari Kantor Pos Ponorogo ke Kantor Pos Ponorogo dan begitu seterusnya sejak Senin (16/9/2013) hingga Selasa (17/9/2013).

Padahal, jarak rumah korban pembagian BLSM itu, sekitar 50 sampai 60 kilometer dari pusat Kota Ponorogo. Oleh karena itulah Partini, akhirnya meluruk Kantor Pos Ponorogo untuk kedua kalinya guna mendapatkan haknya didampingi salah seorang perangkat desanya, Selasa (17/9/2013).

Partini menceritakan, jika kasus ini bermula saat ada pencairan BLSM di Kantor Balai Desanya, Rabu (11/9/2013) lalu. Saat itu, dirinya yang mewakili suaminya belum sempat mengambil uang pencairan BLSM itu.

Pasalnya, suaminya masih merantau keluar Jawa. Sedangkan hendak mengambil uang BLSM ke Kantor Desanya yang berjarak jauh tidak ada kendaraan di rumahnya. Oleh karenanya, dirinya terpaksa mengambil uang pencairan ke desa itu terlambat dan kondisi sudah tutup alias selesai.

Saat itu, petugas menyerankan bagi yang terlambat untuk mengambil ke kantor pos lansung. Namun, saat diambil ke Kantor Pos Ponorogo di JL Soekarno Hatta Ponorogo mala diminta mengambilnya ke Kantor Pos Slahung bolak -nalik sejak, Senin (16/7) hingga Selasa (17/9/2013).
Lebih kaget lagi, jika petugas menjawab jika pencairan BLSM atas nama suaminya itu, sudah diambil orang. Akan tetapi, petugas kantor pos tak memberitahukan identitas orang lain yang mengambil haknya itu.

"Saya sudah 2 hari mondar-mandir dari rumah ke kantor pos dan hasilnya selalu dipingpong petugasnya. Saya makin kaget saat petugas Kantor Pos Slahung menyampaikan jika uang BLSM hak keluarga kami ternyata sudah diambil orang lain. Makanya hari ini saya kembali ke kantor pos pusat Ponorogo untuk mengambil hak keluarga kami. Saya minta Kantor Pos bertanggung jawab," terangnya kepada Surya, Selasa (17/9/2013).

Selain itu, Partini yang mengambil BLSM atas nama suaminya itu, karena suami bekerja dan merantau ke Kalimantan. Menurutnya, meski uang pencairan BLSM hanya Rp 300.000, baginya uang itu bisa digunakan untuk biaya sekolah anak dan memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Pasalnya, suaminya tidak ada di rumah dan masih menggantungkan nasibnya di perantauan itu.

"Kami hanya menuntut hak keluarga kami. Meski nilainya Rp 300.000 bagi keluarga saya uang itu sangat berguna. Namanya orang kecil dan orang desa. Seharusnya, kalau memang sudah diambil orang, seharusnya ada data yang mengambilnya karena kan harus ada tanda tangannya," imbuhnya.

Sementara Kaur Kesra Desa Cepoko, Erma Hadi Cahyono yang ditemui saat mendampingi warganya mengurus bantuan BLSM menjelaskan di kampungnya ada 2 warga bernasib sama.

Pasalnya, belum  bisa mencairkan uang BLSM. Akan tetapi, dalam data Kantor Pos, sudah diambil orang lain. Kedua warga Cepoko bernasib sial itu, Keluarga Gimun dan Keluarga Sarijo.
Keluarga penerima atas nama Gimun karena kehilangan kartu BLSM. Saat itu, pihak Kantor Pos meminta surat keterangan kehilangan ke kantor polisi. Setelah surat keterangan didapat dan hendak mengambil ternyata uang Gimun sudah diambil orang lain. Sedangkan, keluarga Sarijo yang diantarnya ke kantor Pos Ponorogo itu, belum mengambil pencairan bantuan itu, karena suaminya di Kalimantan.

"Kan aneh 2 orang belum mengambil BLSM, kenyataannya kata petugas sudah diambil orang lain. Ini pekerjaan Kantor Pos sudah tak beres. Sangat kecil kemungkinan orang lain yang mengambil karena selalu menggunakan surat keterangan dan surat kuasa. Ini sampai semudah itu bisa lolos. Padahal desa tidak membuatkan surat kuasa tersebut ke orang yang tidak ada nama dalam kartu BLSM. Jelas ini keteledoran pegawai Kantor Pos," paparnya.

Selain itu, Erma mengungkapkan meski akhirnya keluarga Sarijo masalahnya diselesaikan secara kekeluargaan, yakni dengan cara diganti uang petugas kantor pos, akan tetapi masalahnya tidak semudah itu. Alasannya, kesalahan teknis itu disebabkan pihak Kantor Pos Ponorogo dan jajaran petugasnya.

"Secara kekeluargaan hak Sarijo dicairkan menggunakan uang pegawai yang bertugas disana. Secara pribadi korban menerima akan tetapi secara institusi belum menerima itu. Apalagi, berdasarkan keterangan Kantor Pos Slahung untuk Desa Cepoko ada 4 orang yang belum menerima haknya. Kami minta Kantor Pos harus bertanggung jawab atas masalah ini agar tak terulang lagi," pungkasnya.

Sumber: tribunnews.com

Advertiser