Selasa, 03 September 2013

Aksi Penembakan Densus di Tulungagung, Komnas HAM Telanjangi Polri

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membeberkan hasil investigasi lapangan terhadap aksi penembakan Densus 88 terhadap Eko Suryanto alias Riza atau Rizal dan Muhammad Hidayat alias Dayat di depan warung Jalan Pahlawan, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/7/2013) pukul 08.45 WIB.

Selain melakukan penembakan yang bertepatan di bulan Ramadhan lalu, Densus 88 juga salah tangkap terhadap dua orang pengurus Muhammadiyah bernama Mugi Hartanto dan Sapari.

“Yang di Tulungagung, Sapari sama Mugi itu kan karena nolong. Daripada mereka naik ojek, apalagi si Rizal itu kan sudah tiga bulan mengabdi di situ dengan baik. Dia tiap hari ngajar di TPA dan kamarnya tidak pernah dikunci sehingga anak-anak kecil bisa masuk. Saya berjumpa dengan ibu-ibu di kampung sana, malah ibu-ibu itu iuran, ngasih makan dia pagi, siang, sore dan Rizal itu tinggal di satu ruangan TPA itu,” kata Komisioner Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Siane Indriani di Kantornya, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Jum’at (23/8/2013).

Komnas HAM juga membantah pernyataan Polri yang mengatakan bahwa kedua terduga membawa bahan peledak (bom pipa) dan senjata api.

“Lalu katanya dia bawa senpi di ranselnya, itu laptop dan itu si Mugi tahu. Sebab Mugi dan Sapari itu mengantar dia dari sekolah dan yang dibawa itu cuma kardus isinya baju, itu pun dilakban dengan tidak begitu rapi,” ungkapnya.

Kemudian yang lebih ironis, pihak keluarga yang telah kehilangan nyawa Dayat, terpaksa harus kehilangan pula barang-barang milik almarhum karena tak dikembalikan oleh Densus 88.

“Sementara Dayat ini, dia bawa laptop Hp Core i7, dia bawa android terupdate, itu keluarganya minta supaya dikembalikan, sampai sekarang tidak dikembalikan,” imbuhnya.

Selain itu, Komnas HAM juga menampik pernyataan Polri bahwa kedua terduga ditembak mati karena melakukan perlawanan.

“Tidak ada baku tembak, jadi saya sudah ke sana, tetangga-tetangganya mengatakan; benar dia berlindung di ibu Mimin, tapi bukan menyandera. Ibu Mimin itu waktu saya temui tidak mau karena stres dia,” bebernya.

sumber: voa-islam.com

Advertiser