Rabu, 11 September 2013

15 Desa di Ponorogo Rawan Kekeringan

Berita Ponorogo - Berdasarkan peta kekeringan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Ponorogo, ke 15 desa dan 7 kecamatan tidak hanya rawan kekeringan. Akan tetapi, juga rawan dengan kekurangan pasokan air bersih. kelima belas desa itu berada di pegunungan tandus yang selalu menjadi langganan kekeringan setiap tahun.

Pasalnya, kerap terjadi kelangkaan air bersih setiap musim kemarau. Apalagi, pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, daerah-daerah rawan kekeringan dan krisis air bersih itu selalu dipasok air bersih setiap tahun.

Ketujuh wilayah kecamatan itu adalah  Kecamatan Jambon, Jenangan, Slahung, Balong, Badegan, Mlarak dan Kecamatan Sawoo. Dari ketujuh Kecamatan itu, ada sebanyak 15 desa yang dipetakan menjadi lokasi rawan kekeringan dan krisis air bersih.
Kasi Penanggulangan Bencana BPBD Pemkab Ponorogo, Setyo Budiono mengatakan untuk menghadapi musim kemarau, BPBD sudah melaksanakan pemetaan daerah-daerah rawan kekeringan dan krisis air bersih. Hal ini untuk mengantisipasi agar lebih mudah melakukan koordinasi untuk pendistribusian air bersih.
 
"Kami sudah usulakan ke BPBD Propinsi Jatim, di Ponorogo ada sebanyak 15 desa di wilayah tujuh kecamatan yang sangat rawan kekeringan dan kelangkaan air bersih. Jika sudah didata, akan lebih memudahkan kami mendistribusikan air bersih dan tandon air bersih sambil menunggu laporan warga lainnya," terangnya kepada Surya, Rabu (11/9/2013).

Selain itu, Budi menjelaskan untuk memfasilitasi lokasi rawan kekeringan dan krisis air bersih, BPBD sudah mengirimkan beberapa bak penampungan air berukuran 225 liter yang sudah disiapkan di beberapa titik yang dipetakan menjadi lokasi rawan kekeringan.

"Tandon air sudah kami siapkan meski belum semuanya. Karena tandon air masih kurang. Yang sudah kami siapkan di daerah rawan kekeringan seperti di Desa Dayakan, Desa Karangpatihan, Desa Krebet dan Desa/Kecamatan Jambon, serta Desa Pandak dan Duri, Kecamatan Badegan. Sedangkan lainnya menyusul karena masih diusulakn ke BPBD Propinsi," imbuhnya.

Sementara itu, selain pemetaan daerah rawan kekeringan dan krisis air bersih, BPBD Pemkab Ponorogo juga membentuk Desa Siaga Bencana untuk musim penghujan mendatang.

Pasalnya, untuk Tahun 2012 sudah ada 2 desa siaga bencana yang sudah terbentuk ditambah Tahun 2013 ada 2 desa terbentuk lagi. Selanjutnya, BPBD berenca semua desa yang berada di titik rawan bencana longsor akan dibentuk sebagai Desa Siaga Bencana.
Contoh Desa Siaga Bencana itu adalah  Tahun 2012 ada 2 desa yang terbentuk yakni Desa Pangkal dan Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo serta Tahun 2013 Desa Juruk dan Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko. Pembentukan dilaksanakan secara bertahap.

"Untuk membentuknya kami harus persiapkan kelengkapannya dahulu. Karena harus terbentuk secara kelembagaaan di desa tersebut yakni ada Ketua dan Wakil Ketua serta strukturnya ada keanggotaannya. Tujuannya agar desa mampu menangggulangi bencana sebelum tim turun ke lokasi bencana. Kami melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan karang taruna. Mereka akan kami bina dan latih," pungkasnya.

Sumber: tribunnews.com

Advertiser