Rabu, 18 September 2013

15 Desa di Ponorogo Krisis Air

Berita Ponorogo - Ribuan warga pedesaan di 15 desa di 7 kecamatan diKabupaten Ponorogo, Jatim, kini tengah dilanda krisis air bersih. Pasalnya, air sungai di desa setempat sudah satu bulan lalu mengering dan sumur-sumur milik penduduk sejak pekan terakhir ini juga sudah kering.

"Kini ribuan warga desa benar-benar mengalami krisis air bersih karena sumur dan sumber air di desa mereka sudah tidak keluar airnya,” kata Kabid Penangulangan Bencana BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Rabu (18/9).

Menurut Budiono, ribuan warga yang kini dilanda krisis air bersih itu terjadi di 15 desa atau di 7 kecamatan. Di antaranya adalah Kecamatan Slahung, Balong, Badegan, Jambon, Sawoo, Pulung, dan Ngrayun. Dari daerah terdampak kekeringan akibat musim kemarau ini tercatat sekitar 2.500 kepala keluarga (KK) yang mengalami krisis air bersih.

”Untuk menanggulangi krisis air bersih ini, BPBD Ponorogo dalam beberapa hari ini sudah melakukan dropping air bersih ke desa-desa yang mengalami krisis air bersih itu," jelas Budiono seusai memantau pengecekan dropping air di Desa Duri, Kecamatan Slahung.

Jika tak segera dilakukan dropping air, ungkap Budiono, akan fatal akibatnya. Banyak penduduk desa yang tidak bisa mendapatkan air untuk kepentingan masak-memasak, mencuci, mandi dan untuk kepentingan kebersihan kakus atau MCK. Sebab tak punya alternatif lagi untuk mendapatkan sumber air karena sunga dan belik juga sudah mengering.

”Jika tak dilakukan droping air secepatnya nantinya malah bisa rawan munculnya ragam penyakit,” jelas Budiono, seraya menyebutkan dalam penanggulangan krisis air bersih ini pihaknya bekerja sama dengan kantor PDAM setempat setiap hari minimal mengirim 2 tangki truk air atau 12. 000 liter air.

Kini, BPBD menyerukan agar warga desa untuk menyiapkan tandon air yang lebih besar agar bisa menampung air dalam waktu sepekan. Hal ini khususnya bagi desa terpencil, yang jauh dari jangkauan truk air dengan setiap hari.

”Desa yang mengalami kekeringan juga menyebar di desa-desa terpencil, jadi harus ada tandon air yang lebih besar agar bisa mencukupi kebutuhan hingga sepekan. Karena dropping juga tidak hanya satu tempat,” pungkas Budiono.

Sumber: kompas.com

Advertiser