Selasa, 20 Agustus 2013

Cerpen: Lelaki Tak Berarti

LELAKI TAK BERARTI

Oleh: St. Sri Emyani

“Merdeka..!!!!.”
Lelaki absurd itu berteriak sontak, sambil mengepalkan kedua tanganya. Suara menggelegar dan menggaung memecahkan suasana bumi pantai. Pesisir Joketro yang lengang. Sesekali, hanya angin tenggara yang meniup daun pandan usang , lalu luruh. Samun kembali.

Kemudian pria lusuh itu meludah ke bumi.
Kakinya yang telanjang dihentakan tiga kali Setelah dipastikan tidak ada makluk lain, lelaki itu memusatkan perhatian penuh dengan tangan memegang paser dari selangkangan, lalu mengarah ke pertiwi. Sebentar memandang bumi sepi. lalu “Currr..” dari liang kecil tengah memancarkan air mengarah ke bumi pesisir, bumi pantai yang kering, “lap” habis dihisap bumi kerontang.

Sementara: batu Gamping, batu Paras dan batu Marmer yang ada disampingnya hanya diam dan membisu. Begitu juga, Gunung Sanggung yang tidak mengerti akan persoalan serta masalah yang diemban lelaki gimbal hanya terdiam merenung dan mematung. S u w u n g. Ya di dalam kesunyian mungkin gunung itu menyesali nasibnya sendiri. Di dalam sastra lesan, dulu gunung dalam latar cerita ini sebagai benteng dan pagar: pantai Konang, pantai Joketro dan pantai Pelang. Bahkan, dalam sejarahnya pun gunung Sanggung sangatlah digdaya dan penuh kharisma dengan gimbal dan gondrong rambutnya. Sayang, ketika datang orde canggih, gunung yang punya mitos menyimpan dan mengandung Berlian, intan dan Emas sebesar kerbau berkubang bahkan segede Gajah hamil itu sekarang kering kerontang dan tandus. Para cukong dan blandong datang dengan: memangkas, membabat, menjarah serta memerkosanya hingga tidak lagi perawan.

Mulai; alis, bulu mata, kumis, jenggot, ketiak, bulu kelamin serta bulu jempol kaki pun di gundul tak tersisakan. Sehingga, para sato hewan juga bangsa kutu-kutu dan belalang yang biasanya makan, tidur, kawin dan selalu merdeka sama kabur mencari rimba raya. Gunung sanggung tidak lagi sanggup menerima: keserakahan, ketamakan dan ambisi. Dari kaum yang menamakan dirinya makluk mulia.Ya paling mulia dijagad raya ini.

“cuh”

“Hem, pertiwi”

Lelaki absurd itu merunduk tanpa arah pandang yang tertuju. Air matanya tersumbat sukma yang kerontang, ‘jagad rad pramudita’ pun ikut lengang.

“Duh, Gusti"

Lelaki absurd itu masih mampu menyebut yang membuat hidup dan kehidupan. Kemudian menengadah ke langit.Tangan bersilang di dada.

Sementara, terik yang mau memanggang bumi pun tidak akan melekangkan kekosonganya. Mereka telanjang. Karena, dunianya memang sudah ditelanjangi oleh bentuk-bentuk yang mengaku realis, sebenarnya tak punya isi. Mengaku kaya, tapi tak berharta.Yang dibawa hanya bilangan nol. Ruangan kosong.
Dengan desirnya yang lembut, angin tenggara dan ombak alun pesisir Konang masih saja bersayu padu menyapu bibir pantai, dan sama-sama ikut bersaksi. Ya bersaksi.***

Dari arah angkasa, ada dua burung Gereja yang mengikuti laku dan lakon tokoh kita ini . Mereka itu terdiri: lbu dan anak semata wayangnya.

“Bu ngapain kok kita terus ngikuti lelaki jelek itu?”

“Ini untuk pembelajaran hidupmu kelak nak. Bahwa dalam teori hidup belum tentu, bisa teraplikasikan” Jawab Ibunya dengan sedikit bergeser merapat keputranya yang bertengger di atas dahan pohon Dadap dan diujungnya telah ber bunga: satu kuncup dan yang dua merekah, satunya lagi layu, sebentar lagi akan gugur diatas pasir.

“Lha pembelajaran kan seharusnya di sekolahan bu..?”

“Gini lho .. “ Ibu Gereja, bergeser mendekatkan paruhnya ke telinga putranya. Kemudian kembali melontarkan kata-kata lagi
“ Benar juga tanyamu .. Tapi, disekolah hanya tempat pembelajaran formal saja. Bahkan, di sana ber tebaran teori-teori sampai melangit bahkan menggudang dan menggunung. Sayangnya, itu semua sangat minus dengan pelaksana kehidupan. Sehingga, setelah lulus sekolah banyak yang terbebani oleh onggokan rencana dan pola tanpa ada kenyataan hidup. Akhirnya, muaranya sampah-sampah keputus asaan, setress dan frustasi dari jutaan para generasi.

Aku ingin putraku...” Percakapan itu berhenti. Karena , dari arah yang berlawanan ada dahan pohon Akasia kering, jatuh diterpa usia dan menimpa daun Pandan muda. Lalu, pupus pepes bersamaan jadi pupuk penyubur bumi, demi regenerasi dikemudian hari.
Sejenak hening

“Ibu menginginkan aku gimana?”

“ Jangan bernasip seperti lelaki itu.” Dengan melontarkan kata sayup, nyaris tak terdengar, Ibu pun mengisyaratkan telunjuk sayapnya yang sebelah kanan ke lelaki yang sedang simpuh diatas pasir.

“Ngapain lelaki Lusuh itu ..? Mereka itu siapa bu..??? Belum sempat ada penjelasan yang keluar dari bibir ibu, anak Gereja tanggung itu kembali bertanya bertubi-tubi dengan mengernyitkan jidatnya. Kemudian, yang sebelah sayapnya dikibaskan, lantaran ada nyamuk Pandan mbeling yang bermulut runcing mau menungging di dada yang belum berbulu sempurna. Nyamuk itu pun kabur, dengan perhitungan keselamatan yang diindahkan terlebih dahulu. Ketimbang, setetes makanan pengisi perut semata. Resiko nyawa.

“Lebih merapat sini Nak..” Dengan patuhnya, anak burung Gereja itu mendekatkan diri.

“ Lelaki itu sebenaranya sebagian dari tokoh yang telah memerdekakan pertiwi ini. Ia merasa terjepit dari bumi pantai Pelang yang banyak menyimpan tambang. Sayang, ia tidak terima adanya . Ia tidak terima dengan jiwa sederhana. Hanya, lantaran anak buah sepejuanganya, ada yang meraih sukses dengan bermandikan duniawai. Padahalal, orang yang paling merdeka itu adalah ya tokoh yang kita ikuti ini. Kemerdekaan yang diraih dengan memanggul senjata, sebenarnya sekarang inilah puncaknya. Tetapi, malah tidak dinikmati. Itulah sebabnya nak, maka kamu saya ajak kesini. Supaya dapat ilmu kehidupan yang sesungguhnya. Bukan sampah teori yang menggudang disekolah.

“Hemmm, tokohnya kosong ya bu?”

“Ya lelaki tak berarti nak...”
Dialog antara anak dan ibu terputus. Lantaran *terinfasis oleh ulah Tokek Lelaki binal yang terbakar api asmara pada betinanya. Si wanita tidak mau.Mungkin nalurinya mengatakan sudah bunting. Rahimnya sudah terisi janin. Sehingga, lupa kontrol “Krossakkk.!!!’ Keduanya pun terpeleset, jatuh berpelukan. Untung, dewa penyelamat masih melindungi. Sehingga, tersungkurnya tidak menimpa cadas. Tapi, di tengah rerimbunan semak yang berembum.

N u w u n
*** Panggul-Trenggalek 17 Agustus 2013
TEMBANG DHUKUH PURUNG

Ditulis Oleh:
St. Sri Emyani
Lahir di bumi dhukuh Purung kec. Panggul- Trenggalek
Banyak menulis laporan seni, budaya dan pariwisata.
Tulisan sastranya banyak tersebar di majalah bahasa jawa maupun Indonesia.
Seperti; Mekar Sari, Djaka Lodang,  Panyebar Semangat, Jaya Baya, Dhamar Jati, Jawa Anyar, Simphoni, Liberty dan Surabaya Post. Novelnya yang berjudul PAGER AYU pernah diterbitkan di majalah Sarinah tahun 1994.
Belum lama ini menerbitkan antologi cerpen bersama sastrawan muda-Trenggalek yang berjudul SENJA TEMARAM DI PANTAI BLADO, kumpulan geguritan(puisi berbahasa jawa) TEMBANG DHUKUH PURUNG Dan tulisan sastra yang mau terbitkan, antologi puisi berjudul MEMANAH DAUN TERBANG, kumpulan cerkak(crita cekak) NJEMPARING KEMBANG KECUBUNG Sekarang mengajar Sastra Indonesia di SMP Negeri 1 Panggul dan menjadi motivator Quantum Lentera Centre (QLC) para penulis yang ada di bumi Sopal - Trenggalek
email : srimulyanislamet@gmail.com**

Advertiser