Sabtu, 08 Juni 2013

Akibat Longsor Arus Lalu Lintas Trenggalek-Ponorogo Terputus 5 jam

Akibat Longsor Arus Lalu Lintas Trenggalek-Ponorogo Terputus 5 jam - Arus lalu lintas di jalur Trenggalek-Ponorogo di titik KM 14 kembali normal setelah satu unit alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan material yang longsor menutup badan jalan hingga ketinggian tujuh meter dan memanjang hingga 20 meter, Jumat.

"Kebetulan tadi ada petugas dari Dinas Binamarga Provinsi Jawa Timur yang ada di dekat lokasi, sehingga peristiwa itu segera dilaporkan ke BPBD maupun Dinas Binamarga Trenggalek," kata Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Trenggalek, Dodot Eko Subianto.

Tidak ada laporan korban jiwa ataupun kerugian harta-benda dalam kejadian tersebut. Namun akibat banyaknya material longsor yang menutup jalan hingga sepanjang 20-an meter, jalur Trenggalek-Ponorogo sempat terputus total hingga lima jam lebih.

Arus lalu-lintas berangsur normal setelah satu unit alat berat jenis eksavator dikerahkan BPBD Trenggalek dan berhasil menyingkirkan seluruh material longsor ke arah bibir jurang yang ada di salah satu sisi jalan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Pemkab Trenggalek melalui Dinas Binamarga langsung menerjunkan satu unit alat berat untuk menyingkirkan material longsor.

Sekitar pukul 16.00 WIB seluruh material longsor berhasil disingkirkan dan arus lalu-lintas dari dua arah kembali normal.

Mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan, BPBD Trenggalek mengimbau kepada seluruh masyarakat, terutama pengguna jalan untuk berhati-hati saat melintas jalur Trenggalek-Ponorogo tersebut.

"Jalur ini memiliki tingkat kerawanan longsor cukup tinggi, sehingga para pengguna jalan maupun warga sebaiknya berhati-hati, terutama saat turun hujan deras seperti tadi," imbaunya.

Ia menjelaskan, tingginya potensi longsor di jalur Trenggalek-Ponorogo disebabkan posisi jalan yang diapit oleh tebing serta jurang dengan kecuraman ekstrem.

Selain itu, struktur bebatuan tebing yang didominasi batuan breksi (menyerupai beton, yaitu kerikil yang disemen oleh material halus) menyebabkan ikatan antarbatuan tidak kuat dan mudah bergerak/longsor.

Dodot mengatakan, panjang batuan breksi yang rawan longsor mencapai lebih dari 100 meter di sekitar jalur Trenggalek-Ponorogo kilometer-14.

Menurut dia, tebing jenis ini rawan runtuh apabila terjadi hujan lebat, apalagi kondisi vegetasi atau tanaman yang tumbuh di atasnya sangat minim.

"Tebing dengan batuan breksi yang tidak diimbangi dengan tegakan (tanaman kayu) yang cukup biasanya rapuh dan mudah longsor," jelasnya.

Dodot menambahkan, jalur rawan longsor di Kecamatan Tugu tersebut tersebar mulai kilometer-13 hingga kilometer-16.

Pemetaan daerah rawan longsor itu dilakukan BPBD mengacu serangkaian peristiwa alam yang terjadi selama 10 tahun terakhir serta hasil pengamatan visual atas kondisi bukit, tebing yang berada di sepanjang jalur antarkabupaten tersebut.

"Bagaimanapun BPBD akan selalu siap siaga. Apabila terjadi bencana, tim reaksi cepat (TRC) akan langsung kami terjunkan ke lokasi kejadian dan apabila membutuhkan bantuan yang lain seperti alat berat, BPBD siap untuk berkoordinasi dengan dinas terkait," tandasnya. (*)

Sumber

Advertiser