Sabtu, 20 Oktober 2012

Wakasek MTSN Kampak Trenggalek Hobi Melakukan Penganiayaan Terhadap Muridnya

Wakasek MTSN Kampak Trenggalek Hobi Melakukan Penganiayaan Terhadap Muridnya - Bak seorang pendekar saja kelakuan Wakasek kesiswaan yang mengajar matematika di MTS Negeri Kampak Trenggalek ini, belum genap satu minggu melakukan pemukulan terhadap siswanya sendiri Andri kelas 8 G, sabtu 6 Oktober 2012 sudah mengulanginya lagi melakukan penganiayaan terhadap Nanang Setyawan Siswa kelas IX E MTS Negeri kampak.
Menurut keterangan Nanang Setyawan, Wakasek Qoirur Arqom melakukan penamparan di pipi sebanyak tiga kali dan pemukulan wajah sebanyak dua kali,  bahkan ada yang mengenai kepala belakang mengakibatkan terjadinya benjolan terhadapnya, di kamar mandi. Hal ini berawal ketika siswa kelas IX ini melakukan bola voly di dalam kelas ketika jam pelajaran dalam keadaan kosong bersama teman temannya.
Setelah dilapori oleh anaknya Orang tua Nanang, Suparman 65 tahun Warga desa Sugihan RT 12 RW. 11 Kampak melakukan pelaporan di Polsek Kampak Sabtu itu juga pukul 7 malam, rencananya selasa besok wali murid MTSN kampak akan melakukan demo penolakan oknum wakasek ini untuk tetap mengajar karena disinyalir selain tingkah lakunya yang arogan,  perlakuan pemukulan  terhadap siswa telah dilakukan terhadap banyak siswa akan tetapi dari beberapa siwa tersebut tidak berani menceritakan terhadap orangtuanya. Karena senin  8 Oktober 2012  hal ini telah ditangani oleh  unit PPA Polres Trenggalek niat demonstrasi penolakan Qoirur  Arqom itu sendiri diurungkan.
Dengan adanya rentetan kejadian yang dilakukan oleh oknum oknum guru dibeberapa bulan ini di Kabupaten Trenggalek, seperti perjudian guru di Kecamatan Bendungan, Perjudian yang dilakukan Guru Suparman di Kecamatan Kampak dan kejdian penganiayaan yang dilakukan oleh Qoirur  Arqom ini sendiri, menjadikan pertanyaan besar ada apa dengan pengajar di negeri ini dan masih relevankah slogan guru “digugu lan ditiru” dalam istilah jawa yang artinya menjadi panutan untuk ditiru oleh muridnya muridnya?
Memang penulisan kata di ajar (tugas guru kepada muridnya)  dan dihajar, ada perbedaan selisih satu huruf saja “H”, akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah jauh berbeda, diajar yang berarti memberikan pelatihan dan pelajaran sedangkan dihajar berarti dilakukan pemukulan atau penganiayaan. Mari kita selamatkan dunia pendidikan ini dengan menekankan kepada guru kita mereka memiliki fungsi seperti slogannya “digugu lan ditiru” dengan melakukan tindakan tindakan pengajaran pengajaran ilmu yang baik terhadap muridnya bukannya melakukan penghajaran pemukulan terhadap muridnya. 
sumber  http://merdekapos.com/?p=934

Advertiser